Harga TBS Sawit Dharmasraya Tembus Rp2.890, Petani Kembali Panen Usai Tekanan Harga

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DHARMASRAYA –  Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar), mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat jatuh cukup dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan harga ke level Rp2.890 per kilogram memberi dorongan baru bagi petani yang sebelumnya menahan panen akibat tekanan biaya produksi.

Pergerakan harga ini langsung mengubah ritme aktivitas perkebunan rakyat. Petani sawit di sejumlah nagari kembali mengatur jadwal panen yang sempat tertunda karena harga berada di bawah biaya operasional. Kondisi ini menciptakan perubahan cepat di tingkat lapangan, terutama pada aktivitas panen dan distribusi TBS.

Sebelumnya, harga TBS di Dharmasraya sempat menyentuh titik terendah di sekitar Rp2.430 per kilogram. Situasi tersebut membuat banyak petani swadaya menahan hasil kebun karena penjualan tidak lagi menguntungkan. Kini, kenaikan bertahap membuka harapan baru meski pasar belum benar-benar stabil.

Harga TBS Bergerak Naik dan Picu Aktivitas Panen

Petani mulai kembali turun ke kebun setelah harga menunjukkan tren penguatan dalam beberapa hari terakhir. Mereka menilai kenaikan bertahap ini cukup memberi ruang untuk kembali menjual hasil panen tanpa merugi besar.

Syahrial (54), petani sawit di Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang, menjelaskan kondisi tersebut saat ditemui di Pulau Punjung. Ia mengaku menyambut baik pergerakan harga yang mulai membaik setelah periode penurunan cukup panjang.

“Alhamdulillah harga sawit kembali membaik dalam berapa hari terakhir ini. Naiknya berangsur setiap hari,” kata Syahrial dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, banyak petani di wilayahnya langsung menyesuaikan jadwal panen begitu harga mulai naik. Mereka tidak lagi menunda panen seperti beberapa hari sebelumnya karena biaya operasional mulai sebanding dengan hasil penjualan.

Baca Juga :  Dolar AS Tembus Rp17.421, Rupiah Tertekan akibat Penguatan Pasar Global

Petani Tunda Panen Saat Harga Anjlok

Syahrial juga mengungkapkan kondisi sulit yang ia hadapi saat harga TBS jatuh. Ia memilih menunda panen selama hampir satu pekan karena hasil penjualan tidak mampu menutup biaya panen dan transportasi.

Ia menjelaskan bahwa kebun sawit miliknya biasanya masuk siklus panen setiap 20 hari. Namun, saat harga turun tajam, ia dan petani lain memperpanjang jarak panen agar tidak menambah kerugian.

Menurutnya, keputusan tersebut memang tidak ideal, tetapi petani tidak memiliki banyak pilihan ketika harga jatuh terlalu dalam. Mereka harus menyesuaikan kondisi pasar agar tetap bertahan.

Selisih Harga Pabrik dan KUD Masih Jadi Pertimbangan

Syahrial juga menyoroti perbedaan harga antara ram KUD dan pabrik kelapa sawit. Ia menyebut sebagian besar petani di wilayahnya masih menjual hasil panen ke KUD karena akses lebih dekat dan proses lebih cepat.

“Kalau saya jual sawit ke timbangan ram KUD, tidak ke pabrik. Kalau di pabrik mungkin sudah mencapai 3.000-an per kilogram, memang ada selisih harga, tapi tidak banyak,” ujarnya.

Meski begitu, petani tetap mempertimbangkan biaya angkut dan tenaga kerja sebelum memilih jalur penjualan. Faktor efisiensi sering kali lebih menentukan dibanding selisih harga yang tipis.

Pemerintah Daerah dan Dampak Stabilitas Harga

Kenaikan harga TBS di Dharmasraya juga berkaitan dengan dinamika pasar dan langkah pengawasan pemerintah daerah terhadap rantai pembelian TBS. Petani menilai kondisi ini membantu menahan tekanan harga di tingkat bawah.

Baca Juga :  Harga BBM 13 Mei 2026 Stabil, Pertalite Tetap Jadi yang Paling Murah di SPBU

Selain itu, pergerakan harga di sejumlah daerah lain di Sumatera Barat ikut memberi pengaruh terhadap pasar lokal. Tren ini menciptakan efek lanjutan yang mulai dirasakan petani swadaya.

Meski demikian, petani tetap menunggu kepastian harga jangka panjang agar mereka dapat mengatur pola panen secara lebih terencana.

Dampak Langsung di Lapangan

Kenaikan harga langsung menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di desa-desa sentra sawit. Buruh panen kembali bekerja, kendaraan angkut kembali beroperasi, dan pengepul mulai menerima lebih banyak pasokan TBS.

Namun, petani tetap berhati-hati. Mereka tidak ingin harga kembali turun setelah sempat naik dalam waktu singkat. Karena itu, sebagian petani memilih menjual secara bertahap sambil memantau perkembangan pasar.

FAQ

1. Berapa harga TBS sawit terbaru di Dharmasraya?

Harga terbaru mencapai sekitar Rp2.890 per kilogram di tingkat petani swadaya.

2. Berapa harga terendah sebelumnya?

Harga sempat turun hingga sekitar Rp2.430 per kilogram.

3. Mengapa petani sempat menunda panen?

Petani menunda panen karena harga jual tidak menutup biaya panen dan transportasi.

4. Apakah harga di pabrik lebih tinggi dari KUD?

Ya, harga di pabrik bisa mencapai sekitar Rp3.000 per kilogram, meski petani tetap mempertimbangkan biaya angkut.

5. Apakah harga TBS sudah stabil?

Belum. Harga masih bergerak mengikuti kondisi pasar dan permintaan pabrik.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Pemerintah Ancam Cabut Izin PKS Nakal, 139 Perusahaan Disorot Beli TBS di Bawah Harga Acuan
Danantara Siapkan Perombakan Besar DSI, Sistem Ekspor Satu Pintu Mulai Transisi 1 Juni 2026
Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis
Harga Emas Pegadaian 1 Juni 2026 Beragam, Antam–UBS–Galeri 24 Bikin Investor Hitung Ulang Strategi
Harga Emas Antam Stagnan di Awal Juni 2026, Investor Pilih Sikap Wait and See Menanti Arah Global
Efek Mukomuko Menjalar, PKS di Lima Kabupaten Bengkulu Kompak Ikuti Harga TBS Rp3.465/Kg
Era Baru Pengawasan Ekspor Dimulai, PT DSI Mulai Kumpulkan Laporan Sawit dan Batu Bara
Cengkeh Solok Jadi Mesin Ekonomi Baru, Pemprov Sumbar Genjot Irigasi dan Jalan Usaha Tani
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 16:00 WIB

Harga TBS Sawit Dharmasraya Tembus Rp2.890, Petani Kembali Panen Usai Tekanan Harga

Senin, 1 Juni 2026 - 14:00 WIB

Pemerintah Ancam Cabut Izin PKS Nakal, 139 Perusahaan Disorot Beli TBS di Bawah Harga Acuan

Senin, 1 Juni 2026 - 13:00 WIB

Danantara Siapkan Perombakan Besar DSI, Sistem Ekspor Satu Pintu Mulai Transisi 1 Juni 2026

Senin, 1 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis

Senin, 1 Juni 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Pegadaian 1 Juni 2026 Beragam, Antam–UBS–Galeri 24 Bikin Investor Hitung Ulang Strategi

Berita Terbaru