Generasi N-Jobber: Bertahan Hidup dengan Multi-Pekerjaan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Kenaikan biaya hidup di Korea Selatan jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan upah. Akibatnya, banyak anak muda bekerja lebih dari satu pekerjaan. Rutinitas kerja tidak lagi terbatas pada jam kantor; mereka bekerja siang, malam, bahkan akhir pekan demi memenuhi kebutuhan hidup.

 

Satu Pekerjaan Tidak Lagi Cukup

 

Kim, 30 tahun, karyawan pemasaran di Seoul, menyelesaikan jam kantornya pukul 18.00, namun ia masih mengajar bahasa Inggris tiga malam dalam seminggu.

 

“Saya sudah mengajar selama tujuh tahun. Dengan gaji 3 juta won dari pekerjaan utama, rasanya mustahil membeli rumah atau membangun keluarga. Jadi, satu pekerjaan tidak cukup untuk masa depan,” ujarnya.

 

Lee, 32 tahun, staf penjualan di perusahaan besar, menjalankan toko online di Amazon setelah jam kerja. Meskipun pekerjaan itu menuntut dan kadang membosankan, ia tetap melakukannya karena kebutuhan hidup.

 

“Setelah membayar sewa, belanja, dan makan di luar, hampir tidak ada yang tersisa untuk ditabung. Dengan kata lain, ini soal bertahan hidup,” katanya.

 

N-Jobber, Kenyataan Baru Kaum Muda

 

Fenomena ini muncul sebagai “N-jobbers,” sebutan bagi pekerja yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Berdasarkan data, survei Incruit menunjukkan hampir setengah pekerja Korea memiliki pekerjaan sampingan, terutama di usia 20-an (55,2%) dan 30-an (57%).

Baca Juga :  Eks Wapres AS Kecam Serangan Trump ke Iran

 

Kementerian Data dan Statistik Korea mencatat 404.409 pekerja memiliki lebih dari satu pekerjaan pada Oktober 2025. Sementara itu, survei NewWorker menemukan 49,5% responden dewasa melakukan hal yang sama. Para ahli memperkirakan angka sebenarnya lebih tinggi, karena banyak pekerja tidak melaporkan pekerjaan sampingan ke perusahaan.

 

Pekerjaan Sampingan Semakin Beragam

 

Teknologi dan media sosial membuat pekerjaan sampingan semakin beragam. Mulai dari les privat, penampilan berbayar, hingga penghasilan dari aplikasi dan konten online. Lee Ji-won, 34 tahun, menulis blog dan mendapat tambahan 1 juta won per bulan.

 

“Media sosial kini jadi platform belajar dan pasar. Selain itu, orang berbagi tips digital dan cara membuat konten. Hal ini mendorong lebih banyak orang mencoba penghasilan tambahan,” ujar Lee.

 

Inflasi vs Stagnasi Upah

 

Banyak pekerja merasa biaya hidup naik jauh lebih cepat daripada pertumbuhan gaji, meskipun inflasi resmi hanya 2,1% tahun lalu. Direktur Institute for Industrial and Labor Policy, Kim Sung-hee, menyebut stagnasi upah sebagai penyebab utama.

 

“Pertumbuhan gaji tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Oleh karena itu, pekerja kini menjalankan model ‘satu pekerjaan utama plus pekerjaan sampingan’.

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi

 

Ia menambahkan bahwa meningkatnya pekerjaan tidak menentu mengubah struktur ketenagakerjaan jangka panjang. Bahkan, survei menunjukkan 82,5% pekerja merasa perlu penghasilan tambahan.

 

Perubahan Cara Pandang Terhadap Karier

 

Fenomena N-jobber mengubah sikap generasi muda terhadap karier. Tekanan di tempat kerja dan ketidakpastian membuat mereka enggan mengejar jenjang tradisional. Contohnya, survei 20s Lab menemukan 36,7% pekerja usia 20–30 tahun tidak tertarik naik ke posisi manajerial. Survei Job Korea 2023 menunjukkan 54,8% menolak posisi eksekutif.

 

Bagi sebagian N-jobber, pekerjaan sampingan bukan hanya soal uang, melainkan juga aktualisasi diri dan pengalaman baru. Seorang profesional 27 tahun mengelola kanal YouTube dengan 27.000 pelanggan. Ia mendapatkan pengalaman sekaligus kestabilan finansial.

 

Dampak Kelelahan dan Risiko Sosial

 

N-jobber muda bekerja rata-rata 58,7 jam per minggu. Beberapa pekerja bahkan mencapai 97 jam.

 

Profesor sosiologi Universitas Yeungnam, Heo Chang-deok, memperingatkan risiko kelelahan kronis. “Jam kerja berlebihan mencerminkan kecemasan ekonomi, tetapi bisa menurunkan produktivitas dan merusak hubungan sosial,” ujarnya.

 

Fenomena N-jobber menunjukkan bahwa generasi muda Korea memilih bekerja lebih dari satu pekerjaan bukan sekadar pilihan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan perubahan dunia kerja.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028
Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026
Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia
Ribuan Pelamar Rela Antre 2 Kilometer Sejak Subuh, Gaji Awal Pekerjaan Ini Tembus Rp15 Juta
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar
Iran Bersiap Masuk Era Baru, Investasi Rp5.310 Triliun Mengalir Usai Kesepakatan Damai dengan AS
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:00 WIB

Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar

Senin, 22 Juni 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:00 WIB

Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:00 WIB

Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia

Berita Terbaru