The Fed Masih Rugi Rp331 Triliun, Perlahan Bangkit

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 30 Maret 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve kembali mencatat kerugian pada 2025. Nilainya mencapai US$19,6 miliar atau sekitar Rp331,43 triliun.

Federal Reserve mencatat rugi komprehensif US$19,6 miliar pada 2025. Angka ini lebih kecil dari kerugian 2024 sebesar US$77,5 miliar. Pada 2023, kerugian mencapai US$114,6 miliar.

Kerugian mulai menyusut. Neraca bank sentral mengecil. Beban bunga turun tajam. Pada 2025, biaya bunga mencapai US$12,1 miliar. Pada 2024, biaya bunga menyentuh US$68 miliar.

Penurunan ini mengikuti kebijakan suku bunga. Federal Reserve menurunkan suku bunga sejak 2024. Levelnya turun dari 5,25%-5,5% menjadi 3,5%-3,75%.

Baca Juga :  Rusia Kirim Bantuan ke Iran, Perintah Presiden Vladimir Putin

Kerugian muncul karena beban bunga lebih besar dari pendapatan. Pendapatan berasal dari obligasi dan layanan keuangan. Saat suku bunga tinggi, biaya bunga ikut naik.

Masalah ini bermula saat pandemi COVID-19. Saat itu, Federal Reserve membeli obligasi dalam jumlah besar. Bank sentral juga menekan suku bunga mendekati nol.

Kondisi berubah pada 2022. Inflasi melonjak. Federal Reserve kemudian menaikkan suku bunga secara agresif. Kenaikan itu membuat beban bunga melampaui pendapatan.

Baca Juga :  Bitcoin Melejit! Iran Pakai Kripto untuk Tol Kapal Hormuz, Harga Tembus Rp1,2 Miliar

Saat ini kondisi mulai membaik. Federal Reserve mencatat kerugian sebagai aset tangguhan atau deferred asset. Nilainya mencapai US$245 miliar.

Artinya, bank sentral harus menutup kerugian tersebut lebih dulu. Setelah itu, bank sentral bisa menyetor laba ke pemerintah AS. Dalam beberapa bulan terakhir, Federal Reserve mulai mencatat keuntungan tipis.

Meski begitu, proses pemulihan butuh waktu panjang. Banyak analis memperkirakan proses ini berlangsung beberapa tahun.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

AI Menggeser Kerja Kantoran, Franchise Mendadak Jadi Jalur Cepat Menuju Kaya Raya
BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia
Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern
Eropa Terguncang Krisis Energi, Albania Jadi Contoh Ketahanan
Pentagon Incar Tanah Jarang Malaysia, Tantang Dominasi China di Pasar Global
Iran Perdana Kantongi Pendapatan Tarif Tol Selat Hormuz, Simpan di Bank Sentral
Paspor Indonesia 2026: Daftar 42 Negara Bebas Visa Terbaru untuk WNI
12 Negara Ajukan Pinjaman ke IMF, Krisis Energi Picu Tekanan Ekonomi Global
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:00 WIB

BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:05 WIB

Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern

Kamis, 30 April 2026 - 10:00 WIB

Eropa Terguncang Krisis Energi, Albania Jadi Contoh Ketahanan

Rabu, 29 April 2026 - 12:00 WIB

Pentagon Incar Tanah Jarang Malaysia, Tantang Dominasi China di Pasar Global

Sabtu, 25 April 2026 - 20:00 WIB

Iran Perdana Kantongi Pendapatan Tarif Tol Selat Hormuz, Simpan di Bank Sentral

Berita Terbaru

Oplus_0

Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Kompak Turun di Pegadaian, Antam–UBS–Galeri 24 Terkoreksi

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:00 WIB