JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi santai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat yang muncul setelah konflik dengan Iran memicu gejolak energi global.
Pertama, Trump menegaskan dirinya tidak khawatir terhadap kenaikan harga bensin tersebut. Ia menilai kenaikan harga energi tidak menjadi persoalan besar dibanding kepentingan keamanan nasional.
“Saya tidak punya kekhawatiran tentang itu,” kata Trump dalam wawancara dengan Reuters, Jumat (6/3/2026).
Selain itu, Trump juga meyakini harga bensin akan turun dengan cepat setelah konflik berakhir. Namun demikian, ia tetap menilai kenaikan harga bensin bukan persoalan besar.
“Harga akan turun sangat cepat ketika semua ini selesai. Jika naik, ya naik saja. Hal ini jauh lebih penting daripada harga bensin naik sedikit,” ujarnya.
Sementara itu, konflik dengan Iran mendorong kenaikan harga bensin di Amerika Serikat sekitar 20 sen per galon atau sekitar 7% dalam beberapa hari terakhir. Jika dikonversi ke rupiah, kenaikan tersebut setara sekitar Rp3.360 per galon atau sekitar Rp880–Rp900 per liter.
Meski demikian, Trump menegaskan pemerintah tidak akan menggunakan cadangan minyak darurat nasional, yaitu Strategic Petroleum Reserve. Pemerintah Amerika Serikat menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia itu di jaringan gua garam bawah tanah di negara bagian Louisiana dan Texas.
Di sisi lain, Trump juga meyakini jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz akan tetap terbuka. Jalur laut yang berada di dekat pantai selatan Iran itu menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global.
Bahkan, Trump meremehkan kekuatan armada laut Iran. Ia menilai kekuatan militer laut negara tersebut tidak lagi menjadi ancaman.
“Angkatan laut mereka berada di dasar laut,” kata Trump.
Sebelumnya, Trump sempat memuji penurunan harga bensin dalam pidato kenegaraan di Kongres Amerika Serikat. Namun kini, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global terkait potensi gangguan pasokan minyak dunia.









