JAKARTA – Setiap tahunnya, Indonesia memproduksi lebih dari 3,2 juta ton nanas. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai produsen nanas terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara tropis lain di Asia, Amerika Latin, hingga Afrika.
Dominasi ini menunjukkan kekuatan sektor hortikultura nasional. Di sisi lain, masyarakat mendapat peluang untuk meningkatkan konsumsi buah bergizi di dalam negeri.
Nanas: Buah Segar yang Kaya Manfaat
Prof. Ahmad Sulaeman, Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, menjelaskan bahwa nanas (Ananas comosus) bukan sekadar buah penyegar. Kandungan serat yang tinggi membantu pencernaan berjalan lancar.
Selain itu, nanas menyediakan vitamin C yang menurunkan kadar asam urat. Enzim bromelain bersifat antiinflamasi, meredakan nyeri sendi, dan mempercepat pemulihan setelah cedera. Tidak hanya itu, kandungan air yang tinggi menjaga tubuh tetap terhidrasi dan membantu tubuh mengeluarkan asam urat melalui urin.
“Vitamin C yang melimpah berperan sebagai antioksidan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh,” jelas Prof. Ahmad.
Mineral Penting untuk Tubuh
Nanas mengandung mineral penting seperti kalium, magnesium, dan fosfor. Mineral-mineral ini menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi otot, dan memperkuat tulang. Bromelain membantu meredakan peradangan, khususnya bagi penderita gangguan sendi dan asam urat.
Selain itu, kombinasi serat, antioksidan, dan senyawa bioaktif membantu tubuh mengendalikan kadar gula darah. Meskipun kandungan fitokimia seperti alkaloid dan senyawa fenolik tergolong kecil, senyawa tersebut tetap meningkatkan efek antioksidan.Potensi Lokal dan Ekspor
Melimpahnya produksi nanas di Indonesia memberikan peluang ekspor dan sekaligus mendorong masyarakat mengonsumsi buah lokal. Masyarakat bisa langsung memakan nanas atau mengolahnya menjadi jus, salad, bahan masakan, bahkan selai.
“Di tengah tren hidup sehat dan meningkatnya kesadaran akan pangan bergizi, nanas berpotensi menjadi salah satu buah unggulan nasional. Buah ini tidak hanya melimpah, tetapi juga kaya manfaat bagi kesehatan,” tutup Prof. Ahmad.









