JAKARTA – Lima negara meminjam dana terbesar dari International Monetary Fund (IMF) pada tahun ini, 2026. Kelima negara itu ialah Argentina, Ukraina, Pakistan, Ekuador, dan Mesir. Ketika krisis ekonomi menghantam dan kas negara menipis, IMF sering menjadi “penolong terakhir”. Nilainya mencapai puluhan miliar dolar AS.
1. Argentina – USD 57,7 Miliar
Argentina menempati posisi peminjam terbesar IMF. Total pinjamannya mencapai USD 57,7 miliar atau setara Rp 967 triliun. Penyebabnya, krisis 2018 mendorong negara ini mengambil paket bailout besar. Inflasi tinggi, pelemahan peso, dan tekanan fiskal membuat pemerintah terus bernegosiasi dan merestrukturisasi utang. Selain itu, nilai pinjaman itu cukup besar untuk membiayai megaproyek di banyak negara berkembang.
2. Ukraina – USD 30,5 Miliar
Selain Argentina, Ukraina tercatat sebagai peminjam besar IMF. Perang dan ketidakpastian geopolitik menekan ekonomi negara ini. IMF menyediakan dana untuk menjaga anggaran tetap berjalan dan sistem keuangan stabil. Tanpa dukungan IMF, pemerintah akan menghadapi tekanan fiskal lebih berat dan risiko ketidakstabilan tinggi.
3. Pakistan – USD 10,17 Miliar
Sementara itu, Pakistan masuk program IMF berulang kali. Defisit transaksi berjalan dan tekanan nilai tukar memaksa negara ini mencari dukungan dana. IMF memberikan pinjaman dengan syarat reformasi fiskal dan pengetatan anggaran. Akibatnya, pemerintah harus menyesuaikan kebijakan secara berulang agar tetap memenuhi persyaratan IMF.
4. Ekuador – USD 9,95 Miliar
Ekuador mengandalkan ekspor komoditas sehingga rentan saat harga global turun. IMF menyalurkan dana untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong reformasi struktural. Namun, kebijakan penghematan sering memicu protes masyarakat.
5. Mesir – USD 9,30 Miliar
Mesir menghadapi tekanan pada cadangan devisa dan depresiasi mata uang. Pemerintah bekerja sama dengan IMF untuk menerapkan reformasi ekonomi dan menjaga stabilitas jangka panjang. Dengan dukungan IMF, pemerintah mampu menjaga keuangan negara tetap sehat sambil menjalankan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Saat ini Indonesia tidak memiliki utang program aktif kepada IMF. Indonesia telah melunasi seluruh kewajibannya pada 2006, setelah sebelumnya menerima bantuan besar saat krisis moneter 1998. Artinya, hingga kini Indonesia bukan termasuk dalam daftar negara dengan beban utang IMF outstanding.
Meskipun utang luar negeri Indonesia mencapai sekitar USD431,7 miliar pada akhir 2025 dengan rasio terhadap PDB 40,3% di bawah batas aman 60%, tidak ada indikasi ketergantungan pada pinjaman IMF saat ini.
Indonesia pertama kali meminjam dari IMF pada 1984 sebesar 421,46 juta SDR, naik menjadi 504,86 juta SDR pada 1987, sebelum dilunasi secara bertahap hingga bebas utang pada 1992-1996. Puncak utang terjadi selama Krisis Moneter 1997-1998, dengan IMF menyetujui total pinjaman 17,36 miliar SDR setara USD23,53 miliar atau Rp130 triliun saat itu, meski pencairan aktual sekitar 11,1 miliar SDR atau setara USD14,99 miliar. Seluruh utang lunas pada Oktober 2006 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan total keseluruhan sekitar USD9,1 miliar atau setara Rp117-136 triliun dengan kurs saat ini.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









