Jakarta – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, yakni SpaceX, membatasi akses layanan internet satelit Starlink. Pasukan Rusia menggunakan layanan itu dalam perang di Ukraina.
Keputusan ini berdampak langsung pada kemampuan tempur Rusia. Sejumlah laporan menyebut gangguan muncul dalam koordinasi militer mereka. Selain itu, laporan BBC mencatat pembatasan akses memengaruhi pengoperasian drone dan komunikasi di lapangan.
Klaim Penurunan Kapasitas Serangan
Sementara itu, seorang operator drone Ukraina dengan nama samaran Giovanni menilai dampaknya cukup signifikan. Ia menyebut gangguan komunikasi terasa hingga ke garis depan.
“Rusia kehilangan kemampuan mereka untuk mengendalikan medan tempur,” ujarnya.
Ia juga menyatakan kapasitas serangan Rusia turun drastis. Menurutnya, penurunan mencapai sekitar 50%.
“Lebih sedikit serangan, lebih sedikit drone musuh, lebih sedikit segalanya,” katanya.
Peran Vital Starlink di Medan Perang
Di sisi lain, sejak invasi Rusia pada 2022, Starlink berperan penting dalam komunikasi di Ukraina. Prajurit dan otoritas setempat memanfaatkan layanan ini ketika jaringan telekomunikasi rusak akibat perang.
Layanan berbasis satelit ini menjaga komunikasi tetap berjalan meski infrastruktur darat terganggu. Peran tersebut membuat Starlink memegang posisi strategis dalam operasi militer modern.
Namun, penggunaan layanan ini dalam operasi militer memicu polemik. Sejumlah pihak mempertanyakan batas wilayah operasional dan potensi penyalahgunaan.
Respons dan Situasi Terkini
Hingga kini, pihak Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut. Pertempuran di medan perang terus berlangsung dan berubah cepat.
Karena itu, publik sulit memverifikasi berbagai klaim dari kedua pihak secara independen. Meski demikian, para pengamat menilai kendali atas infrastruktur komunikasi seperti Starlink menjadi faktor penting dalam peperangan berbasis teknologi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









