Jakarta – Ramadan segera tiba dan umat Muslim di seluruh dunia menantikannya. Ramadan tidak hanya menghadirkan nilai spiritual. Ramadan juga menghadirkan fakta ilmiah menarik, yaitu perbedaan durasi puasa antarnegara. Secara ilmiah, rotasi Bumi dan posisi wilayah terhadap garis khatulistiwa menyebabkan perbedaan tersebut.
Ramadan dan Fenomena Astronomi
Pada dasarnya, panjang siang dan malam menentukan lama puasa. Wilayah yang berada dekat khatulistiwa memiliki durasi siang dan malam yang relatif stabil sepanjang tahun.
Sementara itu, wilayah yang berada jauh di utara atau selatan mengalami selisih siang dan malam yang besar. Kondisi ini biasanya muncul saat musim panas atau musim dingin.
Negara Belahan Selatan dengan Durasi Puasa Lebih Singkat
Secara geografis, negara di belahan selatan memiliki waktu puasa lebih singkat. Rata-rata umat Muslim berpuasa selama 11 hingga 13 jam per hari. Dengan demikian, umat Muslim di wilayah ini menjalani puasa lebih singkat dibanding wilayah Eropa Utara.
Beberapa kota dengan durasi puasa relatif cepat antara lain:
Johannesburg, Afrika Selatan — 11–12 jam
Buenos Aires, Argentina — 11–12 jam
Cape Town, Afrika Selatan — 11–12 jam
Christchurch, Selandia Baru — 11–12 jam
Kota Amerika Selatan dan Afrika dengan Puasa Relatif Pendek
Selain itu, beberapa kota lain menunjukkan durasi yang hampir sama:
Ciudad del Este, Paraguay — 11–12 jam
Montevideo, Uruguay — 11–12 jam
Brasilia, Brasil — 12–13 jam
Harare, Zimbabwe — 12–13 jam
Oleh karena itu, wilayah ini tidak mengalami perubahan panjang siang dan malam secara ekstrem.
Negara Belahan Utara dengan Durasi Puasa Terpanjang
Sebaliknya, negara di belahan utara memiliki waktu puasa lebih lama. Hal ini terjadi karena siang hari berlangsung lebih lama saat musim panas.
Kota dengan durasi puasa terlama berada di:
Reykjavik, Islandia — sekitar 16 jam 50 menit
Kota-Kota Eropa, Asia, dan Amerika dengan Puasa Panjang
Tidak hanya itu, sejumlah kota lain juga memiliki durasi puasa panjang:
Warsaw, Polandia — sekitar 15 jam
London, Inggris — sekitar 15 jam
Paris, Prancis — 16–17 jam
Lisbon, Portugal — 15–16 jam
Athens, Yunani — 15–16 jam
Beijing, China — 15–16 jam
Washington DC, Amerika Serikat — 15–16 jam
Ankara, Turki — 15–16 jam
Dengan kata lain, jarak wilayah dari khatulistiwa menentukan selisih panjang siang dan malam.
Posisi Indonesia di Antara Negara Dunia
Adapun, di Indonesia, umat Muslim berpuasa rata-rata sekitar 13,5 hingga 14 jam per hari. Letak Indonesia yang dekat khatulistiwa membuat panjang siang dan malam cenderung stabil sepanjang tahun.
Gambaran Global Pelaksanaan Ibadah Ramadan
Pada akhirnya, faktor astronomi dan geografis membentuk perbedaan durasi puasa di dunia. Meski demikian, umat Muslim di seluruh dunia tetap menjalankan Ramadan dengan semangat ibadah yang sama.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









