Alarm Industri Tekstil Berbunyi! Daya Beli Seret, Risiko PHK Masih Membayangi hingga Akhir 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memasuki paruh kedua 2026 dengan tekanan yang belum mereda. Daya beli masyarakat yang masih lemah membatasi permintaan, sedangkan derasnya produk impor memperketat persaingan di pasar domestik. Akibatnya, banyak perusahaan memilih menahan ekspansi produksi.

Kondisi tersebut ikut menekan industri padat karya. Selama jumlah pesanan belum meningkat, pelaku usaha lebih fokus menjaga arus kas, mengendalikan biaya operasional, dan menyesuaikan kapasitas produksi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, memperkirakan tekanan terhadap industri tekstil masih berlanjut hingga penghujung 2026. Menurutnya, permintaan dari pasar domestik maupun ekspor belum memberi dorongan yang cukup kuat untuk mempercepat pemulihan.

“Diperkirakan kinerja industri TPT pada semester II/2026 masih berada dalam fase pemulihan yang rapuh,” ujarnya.

Aktivitas Manufaktur Belum Bangkit

Rizal menjelaskan, kondisi industri tekstil mengikuti perlambatan sektor manufaktur nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia hanya mencapai 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut masih berada di bawah level ekspansi 50.

Capaian itu menunjukkan penurunan aktivitas produksi, pesanan baru, dan penyerapan tenaga kerja. Karena itu, banyak pabrik belum mampu mengoptimalkan kapasitas produksinya.

Permintaan Dalam Negeri dan Ekspor Sama-sama Lemah

Selain menghadapi perlambatan manufaktur, industri tekstil juga kehilangan momentum dari sisi permintaan. Daya beli masyarakat belum kembali kuat. Sementara itu, perlambatan ekonomi global ikut menghambat permintaan ekspor.

Baca Juga :  Dolar AS Tembus Rp17.421, Rupiah Tertekan akibat Penguatan Pasar Global

Oleh sebab itu, perusahaan belum memperoleh tambahan pesanan dalam jumlah besar. Situasi tersebut membuat pertumbuhan industri tekstil bergerak terbatas hingga akhir tahun.

Produk Impor Murah Terus Menggerus Pasar Lokal

Di sisi lain, produk tekstil impor berharga murah terus memasuki pasar domestik. Rizal menilai produk yang diduga berasal dari praktik dumping maupun impor ilegal semakin mengurangi pangsa pasar produsen dalam negeri.

Kondisi itu menurunkan tingkat utilisasi pabrik, mengurangi margin keuntungan, menunda investasi, dan mempersempit kemampuan perusahaan mempertahankan jumlah pekerja.

“Tanpa pengawasan impor yang lebih efektif, tekanan terhadap industri diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026,” sebut Rizal.

Perusahaan Masih Berpotensi Mengurangi Tenaga Kerja

Rizal menilai risiko PHK tetap tinggi selama permintaan belum meningkat. Oleh karena itu, sejumlah perusahaan kemungkinan melanjutkan langkah efisiensi.

Perusahaan dapat mengurangi jam kerja, menyesuaikan jumlah tenaga kerja, dan menekan berbagai biaya operasional agar kegiatan usaha tetap berjalan.

Pemerintah Perlu Memperkuat Dukungan bagi Industri

Rizal mengakui pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengamanan perdagangan, deregulasi, dan insentif industri. Namun, ia menilai pelaksanaan kebijakan tersebut belum memberikan hasil maksimal.

Menurutnya, pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap impor ilegal, memperluas program restrukturisasi mesin, menurunkan biaya logistik, memangkas biaya energi, serta memperluas akses pembiayaan yang lebih terjangkau.

“Pengawasan impor ilegal masih lemah, restrukturisasi mesin belum menjangkau seluruh industri, sementara biaya logistik, energi, dan pembiayaan masih relatif tinggi. Ke depan, kebijakan perlu lebih terintegrasi agar mampu memperkuat daya saing industri secara berkelanjutan,” tegasnya.

Baca Juga :  PT Pos Pimpin Era Baru Logistik BUMN, 9 Perusahaan Siap Garap Pasar Rp3.600 Triliun

Industri Membutuhkan Langkah Cepat

Rizal memperkirakan industri TPT hanya mencatat pertumbuhan terbatas sepanjang 2026 apabila kondisi ekonomi domestik dan global tidak berubah. Selain itu, ekspor kemungkinan bergerak stagnan dan investasi masih menunggu kepastian pasar.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat pengendalian impor ilegal, mempercepat restrukturisasi mesin, membuka pasar ekspor nontradisional, menekan biaya logistik dan pembiayaan, serta mengarahkan insentif kepada industri padat karya.

“Langkah ini penting agar TPT tetap menjadi salah satu pilar industrialisasi dan pencipta lapangan kerja nasional,” pungkas Rizal.

FAQ

Mengapa industri tekstil masih menghadapi tekanan?

Industri tekstil menghadapi tekanan karena daya beli masyarakat masih lemah, permintaan ekspor belum pulih, dan produk impor murah terus memperketat persaingan.

Mengapa risiko PHK masih tinggi?

Perusahaan membutuhkan pesanan yang lebih besar untuk meningkatkan produksi. Selama pesanan belum bertambah, perusahaan cenderung menjalankan efisiensi melalui pengurangan jam kerja maupun tenaga kerja.

Langkah apa yang perlu dilakukan pemerintah?

Pemerintah perlu memperketat pengawasan impor ilegal, mempercepat restrukturisasi mesin industri, menekan biaya logistik dan pembiayaan, memperluas pasar ekspor, serta memberikan insentif yang lebih tepat sasaran kepada industri padat karya.(Tim)

Berita Terkait

Promo Shopee 13 Juli 2026: Back to School Sale, Flash Sale, dan Voucher Hemat Menanti
Koperasi Naik Kelas, Agustus 2026 Pabrik CPO dan PLTS Pertama Siap Beroperasi, Ini Target Besarnya
Promo Shopee 12 Juli 2026: Cashback Rp1 Juta dan Gratis Ongkir Siap Diklaim
DPR Ungkap Paradoks Ekonomi Digital RI, Nilai Rp1.654 Triliun tetapi Setoran Pajak Belum Maksimal
Promo Shopee 11 Juli 2026 Banjir Diskon, Ini Daftar Voucher dan Potongan Harga yang Wajib Anda Manfaatkan
Hari Terakhir Promo Shopee 10 Juli 2026, Diskon hingga 50 Persen Masih Berlaku
Usai Raih Penghargaan, Pemkab Solok Selatan Tancap Gas Cetak Tenaga Kerja Lewat 12 Pelatihan Baru
Potongan Ojol Masih Bikin Tanda Tanya, Menteri UMKM Siap Bongkar Fakta di Balik Komisi yang Belum Turun
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 11:00 WIB

Alarm Industri Tekstil Berbunyi! Daya Beli Seret, Risiko PHK Masih Membayangi hingga Akhir 2026

Senin, 13 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 13 Juli 2026: Back to School Sale, Flash Sale, dan Voucher Hemat Menanti

Minggu, 12 Juli 2026 - 15:00 WIB

Koperasi Naik Kelas, Agustus 2026 Pabrik CPO dan PLTS Pertama Siap Beroperasi, Ini Target Besarnya

Minggu, 12 Juli 2026 - 09:00 WIB

Promo Shopee 12 Juli 2026: Cashback Rp1 Juta dan Gratis Ongkir Siap Diklaim

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:00 WIB

DPR Ungkap Paradoks Ekonomi Digital RI, Nilai Rp1.654 Triliun tetapi Setoran Pajak Belum Maksimal

Berita Terbaru