Manufaktur RI Masih Ekspansif, Ekonom Minta Pemerintah Perkuat Fondasi Industri

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia mencatat kinerja ekspansif sepanjang kuartal I-2026. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) menunjukkan aktivitas industri masih berada di atas level 50, meski tekanan mulai muncul pada akhir periode. Ekonom menilai pemerintah perlu memperkuat struktur industri agar pertumbuhan tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkat kualitasnya.

PMI Masih Ekspansi, Namun Melambat di Akhir Kuartal

Data menunjukkan PMI manufaktur Indonesia berada pada level 52,6 pada Januari 2026, naik menjadi 53,8 pada Februari, lalu turun ke 50,1 pada Maret. Penurunan pada Maret menandakan perlambatan signifikan meski belum masuk zona kontraksi.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai ekspansi sektor manufaktur masih bergantung pada permintaan domestik. Ia mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5,11 persen, sementara penjualan ritel naik 6,49 persen. Investasi juga tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Namun, ia menyoroti tekanan pada sejumlah industri yang bergantung pada bahan baku impor seperti otomotif, elektronik, tekstil, kimia, dan sektor padat energi. Kondisi ini menekan stabilitas pertumbuhan industri pengolahan.

Baca Juga :  Indeks BSE Sensex Anjlok, Blue-Chip Jadi Fokus Investor

Dorongan Domestik Belum Diimbangi Ekspor

Syafruddin menilai pemerintah perlu menjaga ekspansi industri sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan. Ia mendorong transformasi industri manufaktur agar tidak hanya bertahan di zona ekspansi, tetapi naik kelas melalui peningkatan produktivitas, pengurangan ketergantungan impor, serta peningkatan ekspor bernilai tambah.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, juga menegaskan bahwa pertumbuhan manufaktur masih bertumpu pada konsumsi domestik. Ia menyebut sektor makanan dan minuman mengalami peningkatan akibat momentum Ramadan dan Lebaran. Sektor kemasan dan percetakan juga ikut terdorong oleh aktivitas ekonomi dalam negeri.

Namun, Yusuf menyoroti pelemahan di sisi ekspor. Ia mencatat penurunan tajam pada Maret yang mendekati batas kontraksi. Kondisi itu menunjukkan bahwa ekspansi industri belum berdiri di atas fondasi yang kuat secara menyeluruh.

Data BI dan PMI Global Perkuat Sinyal Perlambatan

Bank Indonesia mencatat PMI-BI triwulan I-2026 berada di level 52,03, naik tipis dari 51,86 pada triwulan sebelumnya. Seluruh komponen utama seperti volume produksi, pesanan, dan persediaan masih menunjukkan fase ekspansi.

Baca Juga :  Kawasaki Tampil All Out di IIMS 2026

Namun, data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia turun ke 50,1 pada Maret dari 53,8 pada Februari. Penurunan ini mencerminkan stagnasi aktivitas operasional, bahkan disertai penurunan produksi setelah empat bulan berturut-turut tumbuh.

Laporan S&P juga menyebut gangguan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material sebagai faktor utama, termasuk dampak ketegangan geopolitik global.

Pemerintah Diminta Jaga Daya Beli dan Perkuat Ekspor

Para ekonom sepakat pemerintah perlu menjalankan dua agenda utama. Pertama, menjaga daya beli masyarakat agar konsumsi domestik tetap menopang industri. Kedua, memperkuat sektor ekspor melalui perluasan kerja sama dagang dan peningkatan daya saing industri.

Tanpa langkah tersebut, ketergantungan pada konsumsi domestik dinilai membuat pertumbuhan manufaktur rentan terhadap guncangan eksternal.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Rupiah Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS pada 3 Mei 2026, Dolar Perkasa Tekan Pasar
Harga BBM 3 Mei 2026 Masih Stabil, Warga Bisa Bernapas Lega di Tengah Tekanan Harga Energi
Laba Solusi Bangun Indonesia Tembus Rp101 Miliar, Melonjak 111 Persen
Danantara Evaluasi Investasi Saham Ojol, Pemerintah Dorong Potongan Turun Jadi 8 Persen
Harga BBM RON 92 Berpotensi Naik, Bahlil Lahadalia Buka Opsi Penyesuaian
Prabowo Genjot Manufaktur, Industri Jadi Kunci Hindari Ekonomi Melemah
Daftar 10 Orang Terkaya RI Mei 2026: Prajogo Pangestu Masih Puncaki Forbes
Konglomerat RI Bisnis Tol, Dari Salim hingga Jusuf Hamka Kuasai Proyek Triliunan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:00 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS pada 3 Mei 2026, Dolar Perkasa Tekan Pasar

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:00 WIB

Manufaktur RI Masih Ekspansif, Ekonom Minta Pemerintah Perkuat Fondasi Industri

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:00 WIB

Harga BBM 3 Mei 2026 Masih Stabil, Warga Bisa Bernapas Lega di Tengah Tekanan Harga Energi

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:00 WIB

Laba Solusi Bangun Indonesia Tembus Rp101 Miliar, Melonjak 111 Persen

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:00 WIB

Danantara Evaluasi Investasi Saham Ojol, Pemerintah Dorong Potongan Turun Jadi 8 Persen

Berita Terbaru