JAKARTA – Harga batu bara global terus menguat selama lima hari berturut-turut dan menembus level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Lonjakan permintaan dari India dan China mendorong reli harga komoditas energi ini di pasar internasional.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup di level US$134,1 per ton, naik sekitar 3% dalam satu hari perdagangan. Secara akumulatif, harga batu bara sudah melonjak 11,4% dalam lima hari terakhir.
Permintaan Energi Naik, India Jadi Pendorong Utama
India memimpin kenaikan permintaan batu bara di Asia. Negara tersebut menghadapi lonjakan kebutuhan listrik akibat gelombang panas ekstrem yang melanda beberapa wilayah.
Permintaan listrik puncak di India menembus rekor baru 256,1 gigawatt (GW) pada 25 April, melampaui rekor sebelumnya 252,08 GW. Lonjakan ini membuat pemerintah dan pelaku industri memperbesar konsumsi batu bara dan gas untuk menjaga pasokan listrik.
Produsen listrik terbesar India, NTPC Limited, meningkatkan pembelian gas dan mengoptimalkan seluruh pembangkit listrik tenaga uap. Operator jaringan nasional juga mengarahkan pembangkit untuk tetap beroperasi penuh guna mengantisipasi lonjakan beban listrik.
India memperkirakan permintaan listrik puncak bisa mencapai 270 GW tahun ini. Untuk mengamankan pasokan, pemerintah menunda jadwal pemeliharaan hampir 10.000 megawatt (MW) kapasitas pembangkit listrik tenaga uap hingga Juli.
China Jaga Stabilitas Pasokan Batu Bara
Di China, pasar batu bara tetap kuat meski jalur logistik utama Daqin Railway selesai menjalani pemeliharaan. Jalur ini menjadi salah satu rute utama distribusi batu bara dari tambang ke pelabuhan di utara China.
Biasanya, selesainya perawatan jalur ini meningkatkan pasokan dan menekan harga. Namun, kondisi kali ini berbeda. Permintaan listrik tetap tinggi karena suhu musim panas mulai naik dan penggunaan pendingin udara meningkat tajam.
Selain itu, harga impor batu bara yang masih tinggi membuat batu bara domestik tetap kompetitif. Hal ini menjaga stabilitas harga di pasar dalam negeri China.
Data terbaru menunjukkan produksi batu bara harian China masih berada di atas 12,5 juta ton. Sementara itu, stok batu bara di pembangkit listrik besar mencapai sekitar 190 juta ton, cukup untuk kebutuhan sekitar 32 hari.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Kenaikan harga batu bara global memberikan sentimen positif bagi negara eksportir, termasuk Indonesia. Permintaan yang kuat dari dua pasar utama, India dan China, berpotensi meningkatkan nilai ekspor batu bara nasional dalam jangka pendek.
Namun, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi koreksi harga jika cuaca ekstrem mereda atau pasokan meningkat secara signifikan dari negara produsen utama.
Prospek Harga Masih Positif
Analis melihat tren harga batu bara masih berpotensi bertahan dalam jangka pendek selama permintaan listrik di Asia tetap tinggi. Namun, pasar tetap sensitif terhadap perubahan cuaca, kebijakan energi, dan dinamika stok di China serta India.
Dengan kondisi saat ini, batu bara masih menjadi salah satu komoditas energi yang paling dipengaruhi oleh faktor cuaca dan permintaan musiman di Asia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









