JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang industri teknologi dunia. Meta dan Microsoft menjadi sorotan setelah keduanya mengumumkan rencana pengurangan puluhan ribu karyawan. Langkah ini memicu kekhawatiran baru bahwa kecerdasan buatan (AI) mulai menggeser peran manusia di dunia kerja lebih cepat dari perkiraan.
Meta dan Microsoft Pangkas Ribuan Pekerja
Meta menyiapkan pemangkasan sekitar 10 persen tenaga kerja atau sekitar 8.000 posisi. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu juga menghentikan pengisian 6.000 posisi yang masih kosong. Kebijakan ini mulai berjalan pada 20 Mei 2026 sebagai bagian dari efisiensi internal.
Meta menegaskan langkah tersebut bertujuan menekan biaya operasional dan menyeimbangkan investasi besar di sektor AI. Perusahaan juga menyebut struktur organisasi perlu berubah agar lebih ramping dan cepat menghadapi persaingan teknologi.
Microsoft mengambil langkah serupa. Perusahaan teknologi raksasa itu menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada karyawan di Amerika Serikat. Sekitar 7 persen atau 8.750 pekerja masuk dalam program tersebut. Microsoft menyebut langkah itu sebagai bagian dari restrukturisasi terbesar dalam 51 tahun sejarah perusahaan.
AI Dorong Perubahan Struktur Kerja
Para analis menilai gelombang PHK ini bukan sekadar penyesuaian bisnis. Mereka melihat perubahan besar dalam cara perusahaan mengatur tenaga kerja di era AI.
Pelatih eksekutif Anthony Tuggle menyebut dunia kerja sedang mengalami pergeseran struktural besar. Ia menilai perusahaan tidak hanya melakukan efisiensi, tetapi juga mengubah cara kerja secara permanen.
Menurut Tuggle, AI kini mulai mengambil alih banyak tugas rutin di berbagai sektor. Kondisi ini membuat perusahaan meninjau ulang kebutuhan tenaga kerja manusia.
Puluhan Ribu Pekerja Teknologi Terdampak
Data Layoffs.fyi mencatat lebih dari 92.000 pekerja teknologi kehilangan pekerjaan sepanjang 2026 hingga April. Jika dihitung sejak 2020, jumlah total pekerja yang terdampak mendekati 900.000 orang.
Lonjakan PHK terjadi setelah perusahaan teknologi besar melakukan perekrutan besar-besaran saat pandemi. Kini mereka menyesuaikan kembali struktur organisasi setelah pertumbuhan melambat.
Efisiensi dan Investasi AI Jalan Bersamaan
Meski melakukan PHK besar, perusahaan teknologi justru meningkatkan investasi di bidang AI. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon disebut mengalokasikan hampir 700 miliar dolar AS atau sekitar Rp 12.000 triliun untuk membangun infrastruktur AI tahun ini.
Analis TD Cowen memperkirakan pengurangan 20.000 hingga 30.000 pekerja dapat meningkatkan arus kas perusahaan hingga 10 miliar dolar AS. Efisiensi ini memberi ruang bagi perusahaan untuk memperbesar investasi teknologi.
Tekanan Pasar Kerja Meningkat
Chief Economist Glassdoor Daniel Zhao menilai kondisi pasar kerja yang tidak stabil membuat pekerja enggan mengundurkan diri secara sukarela. Akibatnya, perusahaan lebih agresif melakukan efisiensi.
Zhao menjelaskan perusahaan kini lebih sering menekan biaya tenaga kerja melalui PHK langsung atau memperketat standar kinerja.
Industri Lain Ikut Terseret
Gelombang efisiensi juga terjadi di perusahaan lain. Snap memangkas 16 persen karyawan atau sekitar 1.000 orang. CEO Snap Evan Spiegel menyebut AI menjadi faktor utama efisiensi tersebut.
Salesforce juga mengurangi sekitar 4.000 posisi di divisi dukungan pelanggan. Perusahaan menilai sistem AI sudah mampu menangani sebagian besar tugas layanan pelanggan.
Masa Depan Pekerjaan Masih Abu-abu
CEO Chef Robotics Rajat Bhageria menilai dunia kerja masih berada dalam masa transisi besar. Ia mengatakan AI memang menciptakan peluang baru, tetapi bentuk pekerjaan masa depan belum jelas.
Ia menambahkan banyak pekerjaan harian kini bisa dilakukan AI dengan cepat dan efisien. Kondisi ini membuat perusahaan terus menyesuaikan struktur tenaga kerja mereka.
Gelombang PHK di sektor teknologi menunjukkan satu hal jelas: AI tidak hanya mengubah produk dan layanan, tetapi juga cara perusahaan mempekerjakan manusia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









