JAKARTA – Pemerintah Iran langsung menghentikan seluruh ekspor produk petrokimia setelah serangan Israel merusak sejumlah fasilitas strategis. Langkah ini bertujuan menjaga pasokan dalam negeri tetap aman di tengah tekanan konflik.
Pejabat senior di National Petrochemical Company mengeluarkan instruksi sejak 13 April 2026. Pemerintah mewajibkan seluruh perusahaan menunda pengiriman ke luar negeri sampai waktu yang belum ditentukan.
Iran mengambil langkah ini untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku. Serangan Israel sebelumnya menghantam pusat produksi penting di kawasan Asaluyeh dan Mahshahr. Kerusakan itu langsung mengganggu rantai pasok industri.
Produk petrokimia memegang peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Industri menggunakan bahan ini untuk memproduksi plastik, karet sintetis, serat, deterjen, hingga pupuk. Gangguan produksi pun berpotensi memicu efek luas ke sektor manufaktur.
Pemerintah Iran kini memprioritaskan stabilitas pasar domestik. Otoritas tetap menahan harga dalam negeri agar tidak melonjak meski harga global sedang naik. Langkah ini juga bertujuan melindungi industri lokal dan konsumen dari tekanan inflasi.
Di sisi lain, tekanan terhadap ekonomi Iran semakin meningkat. Amerika Serikat memperketat pengawasan jalur pelayaran, termasuk di kawasan strategis Selat Hormuz. Kebijakan ini bertujuan menekan pendapatan ekspor Teheran.
Situasi ini muncul di tengah upaya diplomasi antara Iran dan AS. Kedua negara masih mempertimbangkan kelanjutan pembicaraan damai, meski ketegangan militer terus meningkat.
Sektor petrokimia sendiri menjadi tulang punggung ekonomi Iran. Data dari Fars News Agency menunjukkan Iran mampu mengekspor sekitar 29 juta ton produk petrokimia setiap tahun dengan nilai mencapai 13 miliar dollar AS.
Kini, penghentian ekspor berpotensi mengguncang pasar global. Negara-negara yang bergantung pada pasokan bahan baku dari Iran mulai mencari alternatif untuk menjaga keberlangsungan industri mereka.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









