JAKARTA – Pakar minyak dan gas (migas) memperkirakan Indonesia harus membayar minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) dengan harga lebih mahal. Kenaikan itu diprediksi mencapai 20–30% di atas harga acuan West Texas Intermediate (WTI).
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, mengatakan Indonesia kini bersaing ketat dengan negara-negara Asia untuk mendapatkan pasokan minyak dari AS. Persaingan meningkat karena pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Moshe menjelaskan lonjakan permintaan terjadi di tengah keterbatasan pasokan global. Kondisi ini membuat negara pembeli beralih ke minyak mentah asal AS.
Di sisi lain, AS juga menghadapi kendala logistik ekspor. Hambatan ini memperketat suplai dan mendorong harga semakin tinggi.
Menurut Moshe, kombinasi dua faktor tersebut membuat AS berpeluang menetapkan harga jual lebih tinggi dari indeks pasar. Ia menilai harga bisa melampaui acuan WTI hingga 20–30%.
“Secara hukum ekonomi, ketika permintaan naik, harga pasti ikut naik. Dengan permintaan tinggi, mereka bisa menetapkan harga di atas indeks WTI,” ujar Moshe, Senin (13/4/2026).
Kondisi ini berpotensi menambah beban impor energi Indonesia, terutama saat kebutuhan minyak dalam negeri masih tinggi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









