Inflasi Maret 2026 Turun ke 0,41 Persen, Tekanan Masih Ada

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 4 April 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Maret 2026 melandai meski Ramadan dan Lebaran berlangsung pada periode tersebut. Tekanan harga turun dibandingkan bulan sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2026 mencapai 110,95. Angka ini naik dari 110,57 pada Februari 2026.

“Pada Maret 2026, inflasi mencapai 0,41 persen secara bulanan,” ujar Ateng dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026).

Inflasi Tahunan Ikut Turun

Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,48 persen (year on year/YoY). Angka ini turun dari 4,76 persen pada Februari 2026.

Data ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi mulai normal setelah efek basis rendah tahun sebelumnya berakhir.

Baca Juga :  GBK Berubah Jadi Mesin Ekonomi Jakarta, Pendapatan Tembus Rp812 Miliar

Penyumbang Inflasi

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan dengan andil 1,08 persen. Tarif listrik mendorong kenaikan pada kelompok ini.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi sebesar 15,32 persen dan menyumbang 1,02 persen terhadap inflasi.

Harga emas perhiasan memicu kenaikan pada kelompok tersebut.

Harga Emas Tekan Inflasi Inti

Masyarakat meningkatkan konsumsi selama Ramadan, namun penurunan harga emas menahan kenaikan inflasi inti.

Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut penurunan harga emas menekan inflasi inti ke sekitar 0,3 persen (MtM).

Baca Juga :  Industri Pinjol Diproyeksi Panen Jelang Lebaran

“Penurunan harga emas meredam tekanan inflasi inti,” kata Andry.

Tekanan Pangan Masih Ada

Harga pangan naik selama Ramadan dan tetap memberi tekanan pada inflasi. Namun, kenaikan ini belum cukup kuat untuk mendorong inflasi secara signifikan.

Efek basis rendah dari tahun sebelumnya juga tidak lagi memengaruhi inflasi tahunan secara besar.

Risiko ke Depan

Inflasi tetap berpotensi naik jika rupiah melemah atau harga bahan bakar minyak (BBM) naik akibat lonjakan harga minyak dunia.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan tekanan inflasi tetap moderat ke depan. Kondisi ini mengikuti normalisasi ekonomi global dan domestik.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Kantongi HAKI, PT Tren Gen Horizon Mantapkan Langkah di Industri Iklan Digital
GBK Berubah Jadi Mesin Ekonomi Jakarta, Pendapatan Tembus Rp812 Miliar
Shopee Kucurkan Rp165 Miliar Voucher UMKM, Dorong Lonjakan Penjualan Produk Lokal
Mantan Dosen Matematika Ini Bangun Kerajaan Investasi Modern hingga Jadi Miliarder Dunia
Prabowo Dorong UMKM Naik Kelas, Cak Imin Usulkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun
Job Fair Jakarta Utara 2026 Dibuka, Puluhan Perusahaan Cari Karyawan Baru dari Berbagai Bidang
AirAsia Siapkan Maskapai Baru, Siap Ekspansi Besar di Tengah Tekanan Harga Minyak
Kabar Baik untuk Tukang Ojek dan Sopir Angkot, 6,7 Juta Pekerja Rentan Kini Dapat BPJS Gratis
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:47 WIB

Kantongi HAKI, PT Tren Gen Horizon Mantapkan Langkah di Industri Iklan Digital

Senin, 18 Mei 2026 - 04:00 WIB

GBK Berubah Jadi Mesin Ekonomi Jakarta, Pendapatan Tembus Rp812 Miliar

Senin, 18 Mei 2026 - 02:00 WIB

Shopee Kucurkan Rp165 Miliar Voucher UMKM, Dorong Lonjakan Penjualan Produk Lokal

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:00 WIB

Mantan Dosen Matematika Ini Bangun Kerajaan Investasi Modern hingga Jadi Miliarder Dunia

Kamis, 14 Mei 2026 - 05:00 WIB

Prabowo Dorong UMKM Naik Kelas, Cak Imin Usulkan Tambahan Anggaran Rp1 Triliun

Berita Terbaru

Oplus_0

Dharmasraya

Warga Serbu Pasar Murah Pulau Punjung, Harga Sembako Lebih Murah

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:00 WIB