JAKARTA – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memantau gejolak harga energi global. Ia menilai Indonesia tidak perlu panik meski harga minyak dunia terus berfluktuasi.
SBY menyampaikan pernyataan itu melalui akun media sosial saat berada di Singapura. Ia mengikuti perkembangan harga minyak, gas, dan BBM karena konflik global, terutama di Timur Tengah.
Ia menegaskan kondisi ini tidak hanya berdampak pada Indonesia. Banyak negara lain menghadapi tekanan yang sama. Sejumlah negara Asia bahkan mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
SBY meminta pemerintah tetap tenang dan bertindak cepat. Ia menekankan pentingnya langkah yang tepat dan tidak terlambat.
“Indonesia tak perlu panik, tetapi harus bertindak tepat waktu,” ujarnya.
SBY juga mengingat pengalamannya saat memimpin Indonesia. Lonjakan harga minyak terjadi pada 2004–2005, 2008, dan 2013. Saat itu, tekanan terhadap APBN meningkat, inflasi naik, dan pertumbuhan ekonomi melambat.
Pemerintah saat itu menjalankan berbagai kebijakan. Mereka menyesuaikan harga BBM, menambah subsidi, dan menggelar kampanye penghematan energi.
Kebijakan tersebut memicu pro dan kontra. Namun, SBY menilai langkah itu berhasil menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah juga melindungi masyarakat rentan melalui bantuan sosial.
Dalam situasi saat ini, SBY mendukung langkah pemerintah. Ia menilai strategi antisipasi harus menjaga stabilitas ekonomi.
Ia juga menekankan pentingnya penghematan energi. Menurut dia, langkah itu dapat membantu menjaga defisit anggaran.
Selain itu, pemerintah perlu menjaga pertumbuhan ekonomi dan menekan inflasi. Pemerintah juga harus mencegah gelombang PHK.
SBY menegaskan perlindungan masyarakat berpenghasilan rendah harus menjadi prioritas utama.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









