Rencana Pengadaan Jet Tempur F-15EX Terhambat

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Pemerintah Indonesia memastikan rencana pengadaan pesawat jet tempur F-15EX dari Amerika Serikat belum memasuki tahap pengadaan. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyebut harga pesawat terlalu tinggi sehingga menghambat proses.
“Perlu kami luruskan, rencana pengadaan F-15EX belum masuk tahap penganggaran. Saat ini, pemerintah hanya meminta penawaran sebagai bagian dari perencanaan,” ujar Rico, Kamis (5/2/2026). “Namun, harga yang diajukan masih terlalu tinggi sehingga kami belum bisa menindaklanjutinya,” tambahnya.

Belum Ada Keputusan Alternatif

Rico menegaskan, Kementerian Pertahanan belum menetapkan opsi pengalihan anggaran untuk pesawat lain. “Terkait opsi pesawat lain, belum ada keputusan pengalihan. Dengan demikian, kami tetap menjalankan kajian menyeluruh sebelum mengambil keputusan strategis mengenai alutsista,” jelasnya.

Boeing Hentikan Promosi F-15 untuk Indonesia

Sementara itu, Boeing menyatakan mereka tidak lagi memproduksi F-15 untuk Indonesia. Pernyataan itu menunjukkan perusahaan menghentikan upaya menjual pesawat tersebut, padahal sebelumnya rencana itu menjadi bagian penting modernisasi alutsista TNI.
Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defense, Bernd Peters, menyampaikan hal itu di ajang Singapore Airshow, Selasa (3/2/2026).
“Dalam hal kemitraan F-15 dengan Indonesia, kami tidak lagi menjalankan kampanye aktif,” kata Peters.

“Tidak Lagi Aktif” Artinya Proyek Terhenti

Para analis industri pertahanan menjelaskan, istilah “tidak lagi menjadi kampanye aktif” berarti Boeing berhenti mengalokasikan sumber daya, tim, dan strategi untuk mendorong penjualan F-15 ke Indonesia. Dengan kata lain, meski Peters tidak menyebut pembatalan secara eksplisit, pernyataannya menunjukkan Boeing tidak memproses proyek ini lebih lanjut.

Pertanyaan Lanjut Diharapkan ke Pemerintah

Selain itu, Peters tidak menjelaskan alasan penghentian proyek. Ia menyarankan pihak yang ingin menanyakan lebih lanjut agar menghubungi pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia.
Baca Juga :  Bayi Lahir Langsung Aktif BPJS Kesehatan, Pemerintah Siapkan Integrasi Lewat INAku

Berita Terkait

Mahasiswa Keguruan Daerah Ini Resah, Jalur Menjadi Guru Kian Tidak Pasti
BGN Wajibkan Telur Lokal di Program MBG, Perkuat Peternak
Presiden Prabowo Turunkan Bunga Kredit Mekaar Jadi 8 Persen
Driver Ojol Kini Bisa Bernapas Lega, Potongan Aplikasi Resmi Turun Jadi 8 Persen
Audiensi dengan BPK, LBH Nadi Serahkan Kajian Hukum Soal Audit
Dolar AS Tembus Rp17.421, Rupiah Tertekan akibat Penguatan Pasar Global
Bansos Digital Mulai Juni 2026, Pemerintah Benahi Data Penerima
Kemendagri Minta e-KTP Tak Lagi Difotokopi, Dorong Layanan Lebih Praktis dan Digital
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 20:44 WIB

Mahasiswa Keguruan Daerah Ini Resah, Jalur Menjadi Guru Kian Tidak Pasti

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:00 WIB

BGN Wajibkan Telur Lokal di Program MBG, Perkuat Peternak

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:00 WIB

Presiden Prabowo Turunkan Bunga Kredit Mekaar Jadi 8 Persen

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:00 WIB

Driver Ojol Kini Bisa Bernapas Lega, Potongan Aplikasi Resmi Turun Jadi 8 Persen

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:40 WIB

Audiensi dengan BPK, LBH Nadi Serahkan Kajian Hukum Soal Audit

Berita Terbaru

Oplus_0

Bengkulu

Bengkulu Dorong Ekonomi Berbasis Data dan Kolaborasi Usaha

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:00 WIB

Oplus_0

Teknologi

Kenaikan Harga Chipset Baru Ancam Lonjakan Harga HP Android

Selasa, 19 Mei 2026 - 04:00 WIB