JAKARTA – Emiten batu bara menunjukkan kinerja beragam sepanjang 2025. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Alamtri Resources Tbk. (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatat penurunan laba bersih karena harga batu bara lesu. Sementara itu, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) membukukan kenaikan pendapatan meski laba bersih menurun.
Penurunan Laba dan Pendapatan Emiten Batu Bara
Secara rinci, AADI mencatat penurunan pendapatan 7,7% year on year (YoY) menjadi US$4,91 miliar, sementara laba bersih merosot 37,2% menjadi US$760,18 juta. ADRO mencatat koreksi pendapatan 9,9% menjadi US$1,87 miliar dan laba bersih turun 67,6% menjadi US$447,79 juta. Selanjutnya, ITMG mencatat pendapatan bersih US$1,88 miliar dengan laba bersih turun 48,9% YoY menjadi US$190,94 juta. Selain itu, UNTR yang juga bergerak di sektor alat berat dan emas mencatat penurunan pendapatan 2,3% menjadi Rp131,30 triliun dan laba bersih turun 24,2% menjadi Rp14,81 triliun.
Di sisi lain, PTBA yang melaporkan kinerja Januari–September 2025 membukukan kenaikan pendapatan 2,2% menjadi Rp31,33 triliun. Namun, lonjakan beban pokok pendapatan dan beban lain menurunkan laba bersih menjadi Rp1,98 triliun.
Kontribusi Segmen Batu Bara
Segmen batu bara tetap menyumbang sebagian besar pendapatan. Contohnya, AADI meraih 91,04% atau US$4,47 miliar dari total pendapatan. ADRO meraih kontribusi 51,6% atau US$967,10 juta. ITMG mencatat 99,19% pendapatan bersih berasal dari batu bara, nilainya US$1,86 miliar. Sementara itu, UNTR mengalami koreksi 6,9% YoY menjadi Rp24,19 triliun, menyumbang 18,4% dari total pendapatan bersih. PTBA mencatat pendapatan batu bara Rp30,75 triliun, naik tipis 1,7% YoY atau 98,1% dari total pendapatan.
Strategi Pendanaan dan Leverage
Leverage menjadi sorotan, terlebih UNTR mencatat debt to equity ratio (DER) 0,72 kali, tertinggi di antara emiten batu bara. AADI dan ADRO masing-masing mencatat DER 0,56 kali dan 0,36 kali, sementara ITMG hanya 0,26 kali, dan PTBA 1,06 kali.
Proyeksi Harga Batu Bara dan Risiko
Harga batu bara merosot sepanjang 2025, dengan pasar ICE Newcastle menutup tahun di US$107,5 per ton, turun 14,17% secara year to date. Namun, pada 2026, harga bisa meningkat karena gangguan pasokan minyak di Timur Tengah. Analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan tiga skenario kenaikan:
Gangguan jangka pendek: Permintaan batu bara termal meningkat 40–55 juta ton, harga naik ke US$130–150 per ton.
Gangguan jangka menengah: Permintaan naik >91 juta ton, harga melonjak ke US$150–175 per ton.
Gangguan berkepanjangan: Permintaan melampaui 180 juta ton, harga naik ke US$200–250 per ton.
Produksi batu bara Indonesia 2025 mencapai 790 juta ton, di mana 65% diekspor dan 32% dialokasikan di pasar domestik melalui domestic market obligation (DMO). Kementerian ESDM memangkas RKAB menjadi 600 juta ton di 2026. Analisis menunjukkan kesenjangan pasokan 45–96 juta ton jika pembatasan ekspor diterapkan, sehingga risiko kenaikan harga lebih tinggi.
Proyeksi Laba dan Return on Equity
Riset sekuritas menilai kemampuan emiten menghasilkan laba. ROE 2026 AADI diperkirakan 20,9%, ADRO 13%, ITMG 11,2%, PTBA 18,5%, dan UNTR 15%. Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas memberi rekomendasi buy dengan target harga: AADI Rp12.100–15.840, ADRO Rp2.630, ITMG Rp26.500, PTBA Rp3.100, dan UNTR Rp32.000.
Risiko Penurunan Harga
Proyeksi cerah bisa terhambat jika jalur Selat Hormuz dibuka kembali, cadangan minyak strategis dilepas, produksi OPEC+ meningkat, serta pasokan LNG dan minyak dari China membaik. Kondisi ini menunda peralihan energi ke batu bara dan menekan ekspektasi lonjakan harga.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









