JAKARTA – Beberapa hari terakhir, militer di Timur Tengah meningkat tajam. Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan tokoh besar seperti Ayatullah Ali Khamenei. Akibatnya, berbagai ruang digital umat Islam ramai dengan narasi eskatologis. Banyak orang menafsirkan bahwa Imam Mahdi akan segera muncul, Dajjal akan datang, dan dunia telah memasuki Akhir Zaman.
Namun, tidak semua konflik politik menunjukkan tanda-tanda kiamat. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menekankan perlunya pendekatan teologis yang tenang. Dengan demikian, umat Islam harus membangun keyakinan di atas dalil yang pasti. Persoalan akhir zaman sering berada di wilayah antara iman dan spekulasi. Tanpa metodologi yang jelas, tafsir agama mudah terpengaruh emosi zaman.
Imam Mahdi dan Politik
Narasi kemunculan Imam Mahdi cepat menyebar setiap terjadi konflik besar di Timur Tengah. Selain itu, Majelis Tarjih mencatat bahwa konsep Mahdi berkembang dalam tradisi Syiah Imamiyah sebagai harapan politik dan spiritual bagi pengikut Ali bin Abi Thalib pada masa penindasan.
Muhammadiyah menilai gagasan ini tidak memiliki dasar dalil mutawatir yang cukup untuk dijadikan keyakinan teologis. Beberapa hadis memang menyebut Mahdi, misalnya:
“Al-Mahdi berasal dari keluargaku, dari keturunan Fatimah.”
“Seandainya dunia tinggal satu hari, Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia mengutus seorang laki-laki dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.”
Namun, riwayat-riwayat tersebut mayoritas bersifat ahad. Sejarah menunjukkan tokoh-tokoh sering memanfaatkan konsep Mahdi untuk legitimasi politik, mulai dari Dinasti Abbasiyah hingga tokoh kontroversial modern.
Fokus Umat Islam
Pertanyaan penting bukanlah apakah Mahdi muncul dalam konflik hari ini, melainkan mengapa umat Islam mudah tergoda membaca sejarah sebagai akhir dunia. Oleh karena itu, umat Islam harus menjaga keseimbangan iman. Mereka harus percaya kepada yang gaib, tetap rasional, berharap kepada pertolongan Allah, dan tetap bekerja nyata.
Kiamat adalah kepastian, tetapi Allah yang menentukan waktunya. Dengan kata lain, manusia bertanggung jawab atas amal, ilmu, dan perbaikan dunia. Oleh sebab itu, ketika perang dan krisis terjadi, umat sebaiknya fokus beramal, belajar, dan beribadah. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
Referensi:
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “I’tiqad (Keyakinan) Muhammadiyah Tentang Hari Kiamat dan Imam Mahdi”, Majalah Suara Muhammadiyah No. 7 Tahun 2009.









