Mau Kaya di Usia 30? Hindari 4 Kebiasaan Ini

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Maret 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Banyak orang menganggap usia 20-an sebagai masa eksplorasi hidup. Pada fase ini, seseorang mulai menerima gaji pertama, merasakan kebebasan finansial, dan membentuk gaya hidup. Namun demikian, fase ini juga menjadi waktu penting untuk membangun fondasi keuangan jangka panjang.

Karena itu, keputusan finansial pada usia muda sering menentukan kondisi ekonomi seseorang di masa depan.

Konsultan keuangan asal Amerika Serikat, Michela Allocca, membagikan pengalamannya mengelola uang sejak muda melalui platform CNBC Make It. Dalam tulisannya, ia menjelaskan beberapa kebiasaan finansial yang sengaja ia hindari selama usia 20-an.

Berkat disiplin tersebut, Allocca berhasil mengumpulkan kekayaan bersih lebih dari US$700.000 atau sekitar Rp11,7 miliar saat berusia 30 tahun.

Menurut Allocca, seseorang tidak hanya membutuhkan penghasilan besar untuk membangun kekayaan. Sebaliknya, seseorang perlu menjaga konsistensi, mengendalikan diri, dan menunda kesenangan sesaat.

Lalu, kebiasaan apa saja yang ia hindari?

Usia 20-an Menjadi Masa Penting Mengelola Keuangan

Usia 20-an memiliki peran besar dalam perjalanan finansial seseorang. Pada tahap ini, seseorang masih memiliki waktu panjang untuk mengembangkan investasi.

Karena itu, investasi yang dimulai lebih awal memiliki peluang tumbuh jauh lebih besar.

Fenomena ini dikenal sebagai compound interest atau bunga berbunga. Konsep ini membuat nilai investasi terus bertambah seiring waktu.

Di sisi lain, tekanan sosial pada usia muda juga sangat kuat. Media sosial sering menampilkan gaya hidup glamor seperti liburan mewah, apartemen estetik, hingga tren fashion terbaru.

Akibatnya, gaya hidup dapat meningkat lebih cepat daripada pendapatan jika seseorang tidak mengontrol pengeluaran.

1. Tidak Terburu-buru Mengikuti Tren Traveling Mahal

Saat ini, traveling bukan sekadar rekreasi. Banyak orang menjadikan traveling sebagai simbol gaya hidup.

Baca Juga :  Jangan Timbun Uang di Rekening, Ini Risikonya

Karena itu, sebagian anak muda merasa perlu membagikan perjalanan ke luar negeri melalui media sosial.

Namun Allocca memilih pendekatan yang berbeda. Ia hanya bepergian ketika kondisi keuangannya memungkinkan.

Selain itu, ia juga menghindari penggunaan kartu kredit untuk membiayai perjalanan. Ia menunda liburan mahal sampai kondisi finansial benar-benar stabil.

Sebagai alternatif, ia lebih sering memilih perjalanan domestik yang lebih hemat.

Dengan cara ini, ia menjaga arus kas tetap sehat sekaligus menghindari utang konsumtif.

2. Tidak Memaksakan Tinggal Sendiri Terlalu Cepat

Banyak orang menganggap tinggal sendiri sebagai simbol kemandirian.

Meski begitu, keputusan tersebut sering meningkatkan biaya hidup secara signifikan. Seseorang harus menanggung biaya sewa, listrik, internet, dan kebutuhan rumah tangga sendirian.

Untuk menghemat pengeluaran, Allocca memilih tinggal bersama teman sekamar atau keluarga lebih lama.

Keputusan tersebut membuatnya mampu menghemat ratusan dolar setiap bulan.

Ia memutuskan tinggal sendiri pada usia 27 tahun ketika kondisi keuangannya sudah stabil.

Strategi ini memberinya kesempatan menabung secara lebih agresif pada awal karier.

3. Tidak Boros Mengikuti Tren Fashion

Tren fashion berubah sangat cepat. Kondisi ini sering mendorong anak muda membeli pakaian secara impulsif.

Diskon musiman dan tren media sosial juga memicu kebiasaan belanja berlebihan.

Untuk menghindari hal tersebut, Allocca menerapkan konsep minimalist wardrobe.

Ia memilih pakaian dasar yang mudah dipadukan dan lebih fokus pada kualitas daripada jumlah.

Pendekatan ini membuatnya tidak perlu sering membeli pakaian baru.

Selain itu, cara ini membantu menekan pengeluaran untuk fashion.

Baca Juga :  Kode Redeem Mobile Legends 14 April 2026, Klaim Skin Gratis

Menurut Allocca, seseorang tidak perlu bersikap pelit untuk hidup hemat. Sebaliknya, seseorang perlu memahami prioritas keuangan.

4. Menghindari Pengeluaran Praktis yang Tidak Penting

Kemudahan layanan digital sering mendorong seseorang mengeluarkan uang tanpa sadar.

Misalnya layanan pesan-antar makanan, kopi harian, atau transportasi instan.

Layanan tersebut memang praktis. Namun jika seseorang menggunakannya terus-menerus, pengeluaran kecil dapat berubah menjadi besar.

Karena itu, Allocca lebih sering memasak sendiri dan membatasi penggunaan layanan yang tidak penting.

Ia memperkirakan kebiasaan ini menghemat sekitar US$200 atau sekitar Rp3,35 juta setiap bulan.

Selanjutnya, ia mengalokasikan dana tersebut ke tabungan dan investasi.

Jika seseorang menginvestasikan Rp3,35 juta setiap bulan dengan imbal hasil rata-rata 7% per tahun, nilai investasi tersebut dapat berkembang signifikan dalam jangka panjang.

Pelajaran untuk Anak Muda Indonesia

Kisah Michela Allocca tidak mendorong seseorang menjalani hidup serba hemat secara ekstrem. Sebaliknya, kisah ini menekankan pentingnya keseimbangan dalam mengelola uang.

Beberapa pelajaran yang dapat generasi muda terapkan antara lain:

Pertama, jangan menaikkan gaya hidup terlalu cepat ketika gaji meningkat.

Kedua, siapkan dana darurat minimal 3–6 bulan pengeluaran.

Ketiga, mulai investasi sedini mungkin meskipun dengan nominal kecil.

Terakhir, bedakan kebutuhan dan keinginan.

Kebiasaan Kecil Menentukan Masa Depan Finansial

Keputusan finansial besar memang penting. Namun kebiasaan kecil sehari-hari sering memberi dampak lebih besar.

Contohnya mengurangi belanja impulsif, membatasi pengeluaran kecil, serta rutin menabung dan berinvestasi.

Pada akhirnya, kebiasaan tersebut akan membangun stabilitas finansial jika seseorang menjalankannya secara konsisten sejak usia muda.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Kejagung Tambah Tersangka Baru Kasus TPPU Febrie Adriansyah, NH Langsung Ditahan Tanpa Borgol
Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Langsung Nahkodai Bank Indonesia Sementara
Direktur RANS Mundur, Raffi Ahmad Siapkan Langkah Penting demi Jaga Kepercayaan Investor
Al Haris Minta Bank Jambi Percepat Pemulihan M-Banking, Pulihkan Kepercayaan Nasabah
Potensi Zakat Masih Menganggur, Pemkab dan Baznas Solok Selatan Gaspol Aktifkan UPZ Masjid
M. Iskandar Kunaefi Resmi Jadi Dirut Pos Indonesia, Direksi Hadir dengan Struktur Baru
Daftar 8 Figur Publik yang Kini Duduki Jabatan Strategis di BUMN, Ada Giring hingga Ifan Seventeen
Prabowo Bongkar Modus Oknum di MBG, Perintahkan Gubernur hingga Kapolres Periksa Semua Dapur
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 11:00 WIB

Kejagung Tambah Tersangka Baru Kasus TPPU Febrie Adriansyah, NH Langsung Ditahan Tanpa Borgol

Senin, 27 Juli 2026 - 12:30 WIB

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Langsung Nahkodai Bank Indonesia Sementara

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:04 WIB

Direktur RANS Mundur, Raffi Ahmad Siapkan Langkah Penting demi Jaga Kepercayaan Investor

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:30 WIB

Al Haris Minta Bank Jambi Percepat Pemulihan M-Banking, Pulihkan Kepercayaan Nasabah

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:00 WIB

Potensi Zakat Masih Menganggur, Pemkab dan Baznas Solok Selatan Gaspol Aktifkan UPZ Masjid

Berita Terbaru