BENGKULU – Arus digitalisasi terus mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Informasi kini mengalir cepat tanpa batas dan langsung masuk ke genggaman publik. Namun, kondisi ini juga memunculkan tantangan serius karena kecepatan sering mengalahkan akurasi. Penyebaran hoaks dan fitnah berpotensi memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
Digitalisasi dan Tantangan Informasi
Di era media sosial dan portal berita daring, masyarakat menerima informasi dalam hitungan detik. Kondisi ini menuntut pelaku media bekerja lebih cepat sekaligus lebih teliti. Tanpa verifikasi yang kuat, informasi keliru bisa menyebar luas dan menimbulkan dampak sosial yang besar.
Pemerintah Provinsi Bengkulu menilai situasi ini membutuhkan penguatan ekosistem media yang profesional. Media tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga kualitas ruang publik agar tetap sehat dan konstruktif.
Pemerintah Dorong Peran Media Siber
Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Nandar Munadi, menyampaikan hal itu saat mewakili Gubernur Bengkulu dalam pengukuhan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Bengkulu periode 2025–2030 di Hotel Mercure, Senin (27/4).
Nandar menegaskan pemerintah daerah membutuhkan media yang mampu menyajikan informasi akurat dan berimbang. Ia juga meminta media ikut mendukung program strategis daerah, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Menurutnya, penyebaran informasi yang objektif membantu masyarakat memahami arah pembangunan daerah. Ia menilai media berperan penting dalam memperkuat komunikasi antara pemerintah dan publik.
JMSI Tekankan Etika dan Verifikasi Informasi
Ketua Umum JMSI, Teguh Santoso, menyoroti perubahan besar dalam industri media akibat transformasi digital. Ia menyebut media kini tidak hanya menyajikan teks, tetapi juga mengintegrasikan video, audio, dan berbagai format digital lainnya.
Teguh menegaskan anggota JMSI harus menjalankan peran sebagai kurator informasi sekaligus verifikator fakta. Ia meminta insan media menjaga akal sehat publik dengan memastikan setiap informasi yang dipublikasikan telah melalui proses verifikasi yang ketat.
Ia juga menekankan pentingnya etika jurnalistik di tengah kompetisi media digital yang semakin ketat. Menurutnya, kepercayaan publik hanya bisa tumbuh jika media konsisten menjaga integritas dan profesionalisme.
Kritik Konstruktif Jadi Energi Perbaikan
Nandar Munadi juga menyoroti pentingnya kritik dalam pembangunan daerah. Ia menyebut kritik berbasis data dan fakta sebagai “vitamin” bagi pemerintah. Kritik yang sehat membantu pemerintah memperbaiki kebijakan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Namun ia mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi narasi yang memecah belah masyarakat. Ia berharap JMSI mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menangkal informasi negatif yang tidak berdasar.
Pengukuhan Pengurus JMSI Bengkulu
Dalam acara tersebut, JMSI resmi mengukuhkan Dedi Hardiansyah Putra sebagai Ketua JMSI Bengkulu periode 2025–2030. Pengukuhan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat peran media siber di daerah.
JMSI Bengkulu menargetkan penguatan kapasitas jurnalis, peningkatan standar etika, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak. Organisasi ini juga mendorong terciptanya ekosistem media digital yang sehat, profesional, dan berkelanjutan di Bumi Merah Putih.
Dengan penguatan ini, JMSI Bengkulu berharap media siber tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga penjaga kualitas demokrasi di era digital yang terus berkembang pesat.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









