JAKARTA – Pemerintah mencatat inflasi Indonesia pada April 2026 tetap berada dalam kondisi terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,13% secara bulanan (mtm), sementara inflasi tahunan mencapai 2,42% (yoy). Angka ini turun dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 3,48% (yoy).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) berperan besar menjaga stabilitas harga di tengah tekanan global.
Inflasi April Masih dalam Target Pemerintah
Purbaya menyebut inflasi April menunjukkan kondisi ekonomi yang stabil dan terkendali. Ia menilai penurunan inflasi tahunan terjadi setelah faktor kenaikan harga akibat dinamika energi mereda.
“Inflasi sekarang bagus. Sebelumnya sempat tinggi karena faktor subsidi dan penyesuaian harga. Begitu kondisi kembali stabil, inflasi turun ke sekitar 2,4%,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan pemerintah terus mengawasi perkembangan harga kebutuhan pokok agar tidak membebani masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Subsidi BBM Jaga Daya Beli Masyarakat
Purbaya menegaskan pemerintah memilih mempertahankan subsidi BBM sebagai instrumen utama pengendalian inflasi. Menurutnya, kebijakan ini menahan lonjakan harga energi yang biasanya memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi.
“Kalau harga BBM kita biarkan naik mengikuti pasar global, inflasi bisa melonjak dan daya beli masyarakat langsung tertekan. Karena itu kita pilih menahan subsidi,” kata dia.
Ia juga menilai pemerintah sudah menghitung secara matang dampak fiskal dari kebijakan tersebut. Pemerintah memilih menanggung beban subsidi agar aktivitas ekonomi tetap bergerak dan konsumsi masyarakat tidak melemah.
“Kalau kita potong subsidi, uang negara memang bisa dialihkan. Tapi kalau ekonomi melemah, dampaknya jauh lebih besar,” ujarnya.
Data BPS: Makanan dan Emas Jadi Penyumbang Inflasi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan inflasi tahunan April 2026 terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mencatat inflasi 3,06% dengan andil 0,90%.
Beberapa komoditas yang mendorong kenaikan harga antara lain beras, daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, telur ayam ras, dan sigaret kretek mesin.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi tekanan inflasi cukup besar. Kelompok ini mencatat inflasi 11,43% dengan kontribusi 0,77%, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.
Pemerintah Fokus Jaga Stabilitas Harga
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal dan stabilitas harga. Ia menyebut pengendalian inflasi menjadi prioritas agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan BPS dan kementerian terkait untuk memantau pergerakan harga pangan dan energi secara berkala.
“Yang kami jaga bukan hanya angka inflasi, tetapi juga dampaknya ke masyarakat. Stabilitas harga jauh lebih penting untuk menjaga ekonomi tetap bergerak,” kata Purbaya.
Dengan inflasi yang masih berada dalam kisaran sasaran, pemerintah optimistis kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









