JAKARTA – Kinerja sektor manufaktur di Asia Tenggara mulai kehilangan tenaga pada April 2026. Tekanan konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya produksi dan mengganggu rantai pasok industri di kawasan.
Laporan S&P Global menunjukkan hanya tiga negara ASEAN yang masih mencatat ekspansi, yaitu Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. Sementara itu, Indonesia dan Filipina justru masuk ke zona kontraksi.
Purchasing Managers’ Index (PMI) menjadi acuan utama dalam melihat kondisi industri. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
Malaysia Pimpin Kinerja Manufaktur ASEAN
Malaysia tampil sebagai negara dengan performa manufaktur paling kuat di kawasan. PMI manufaktur negara tersebut naik menjadi 51,6 pada April 2026, dari 50,7 pada Maret.
Kenaikan ini mencerminkan pertumbuhan produksi yang semakin solid. Perusahaan meningkatkan output selama dua bulan berturut-turut dan mencatat laju tercepat sejak Desember 2021.
Pelaku industri juga активно menambah stok bahan baku dan barang jadi. Mereka mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat konflik global. Selain itu, permintaan domestik mulai pulih setelah sempat melemah.
Namun, tekanan biaya tetap menghantui. Harga bahan baku dan logistik terus naik, sehingga mendorong inflasi harga jual ke level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Myanmar dan Vietnam Mulai Kehilangan Momentum
Myanmar masih bertahan di zona ekspansi dengan PMI 50,9. Meski begitu, laju pertumbuhan mulai melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 51,5.
Pelaku industri menghadapi keterbatasan bahan baku, tenaga kerja, dan bahan bakar. Kondisi ini langsung menekan produksi.
Vietnam juga mengalami perlambatan. PMI turun ke 50,5 dari 51,2 pada Maret. Produksi tetap tumbuh, tetapi lajunya melambat ke titik terendah dalam 10 bulan.
Penurunan pesanan baru menjadi faktor utama. Permintaan ekspor juga melemah selama dua bulan berturut-turut, sehingga menahan aktivitas industri.
Filipina Terpukul, Masuk Zona Kontraksi
Filipina mencatat kinerja terburuk di kawasan. PMI manufaktur anjlok ke 48,3 dari 51,3 pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini menandai kontraksi pertama sejak November 2025. Permintaan baru turun tajam dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
Pesanan ekspor juga merosot drastis. Pelemahan permintaan global memperparah kondisi industri Filipina.
Indonesia Ikut Terseret Tekanan Global
Indonesia juga masuk ke zona kontraksi dengan PMI 49,1, turun dari 50,1 pada Maret. Angka ini mengakhiri tren ekspansi yang berlangsung selama sembilan bulan.
Produksi manufaktur turun cukup dalam. Penurunan ini menjadi yang tercepat sejak Mei 2025. Pelaku industri mengurangi aktivitas pembelian karena permintaan melemah.
Kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan ikut menekan industri. Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan biaya energi dan logistik.
Akibatnya, biaya input melonjak ke level tertinggi sejak April 2022. Produsen kemudian menaikkan harga jual untuk menutup beban biaya.
Kondisi ini memicu tekanan ganda. Di satu sisi, biaya produksi meningkat. Di sisi lain, daya beli konsumen melemah.
Tekanan Global Bayangi Industri ASEAN
Konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global terus membayangi sektor manufaktur ASEAN. Kenaikan harga energi dan gangguan distribusi menjadi tantangan utama bagi pelaku industri.
Jika tekanan ini berlanjut, kinerja manufaktur kawasan berpotensi semakin melemah pada kuartal berikutnya. Negara-negara ASEAN perlu memperkuat ketahanan industri agar mampu menghadapi gejolak global.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









