JAKARTA – Pasar kartu grafis global mulai memasuki babak baru. Bukan Nvidia atau AMD yang mencuri perhatian pekan ini, melainkan perusahaan muda asal China bernama Lisuan Tech. Startup teknologi tersebut sukses menjual 30.000 unit GPU gaming LX 7G100 hanya dalam waktu 48 jam sejak pembukaan pre-order.
Lonjakan penjualan itu mengejutkan banyak pengamat industri. Pasalnya, berbagai hasil benchmark independen menunjukkan performa GPU tersebut belum mampu menyaingi lini terbaru Nvidia. Bahkan, kemampuannya masih berada di level GeForce RTX 3060, kartu grafis generasi lama yang sudah lebih dulu beredar di pasar.
Namun kondisi itu ternyata tidak menghalangi antusiasme konsumen China. Ribuan gamer dan penggemar teknologi tetap memburu GPU lokal tersebut sebagai simbol kebangkitan industri semikonduktor domestik.
Lisuan Tech memasarkan LX 7G100 dengan harga 485 dollar AS atau sekitar Rp 8,5 juta. Dalam dua hari pertama penjualan, perusahaan langsung mengantongi pendapatan kotor lebih dari 14,5 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 250 miliar.
Nasionalisme Teknologi Jadi Senjata Utama
Kesuksesan Lisuan Tech tidak hanya lahir dari spesifikasi produk. Perusahaan tersebut memanfaatkan sentimen dukungan terhadap teknologi lokal yang kini berkembang pesat di China.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat China semakin aktif mendukung produk buatan dalam negeri, terutama setelah berbagai pembatasan teknologi dari Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan China.
Momentum itu membuat banyak konsumen rela membeli produk lokal meski performanya belum sepenuhnya unggul dibanding kompetitor global.
Fenomena serupa sebelumnya juga muncul pada industri smartphone, kendaraan listrik, hingga kecerdasan buatan. Kini tren itu merambah pasar GPU gaming yang selama puluhan tahun dikuasai Nvidia dan AMD.
Strategi “Founders Edition” Bikin Hype Meningkat
Lisuan Tech juga memainkan strategi pemasaran agresif untuk membangun eksklusivitas produk. Perusahaan meluncurkan versi khusus “Founders Edition” dengan jumlah sangat terbatas, hanya 1.000 unit.
Setiap kartu grafis mendapat nomor seri unik dan tanda tangan langsung dari co-founder sekaligus co-CEO Lisuan Tech, Xuan Yifang.
Strategi tersebut berhasil memancing efek FOMO di kalangan kolektor hardware dan gamer antusias. Stok edisi khusus langsung habis dalam waktu singkat.
Melihat tingginya permintaan, Lisuan Tech segera menyiapkan gelombang distribusi berikutnya yang dijadwalkan mulai dikirim pada 18 Juni 2026.
Benchmark Belum Sesuai Ekspektasi
Di balik ledakan penjualan itu, performa LX 7G100 justru memicu perdebatan di komunitas teknologi.
Dalam materi promosinya, Lisuan Tech beberapa kali menyandingkan GPU tersebut dengan Nvidia GeForce RTX 4060. Namun pengujian independen menunjukkan hasil berbeda.
Sejumlah benchmark memperlihatkan LX 7G100 hanya mampu menyamai performa RTX 3060 pada berbagai game AAA modern.
Artinya, GPU tersebut tertinggal satu generasi dari target pemasaran awal dan terpaut cukup jauh dari RTX 5060 maupun RTX 5060 Ti yang kini mulai mendominasi pasar gaming menengah.
Selain itu, LX 7G100 juga belum menghadirkan dukungan ray tracing yang kompetitif. Lisuan Tech baru berencana membawa fitur tersebut secara penuh pada generasi GPU berikutnya.
Harga Dinilai Terlalu Tinggi
Harga jual menjadi kritik lain yang cukup ramai muncul di komunitas gamer.
Dengan banderol 485 dollar AS, banyak analis menilai GPU buatan Lisuan Tech terlalu mahal untuk performa yang ditawarkan. Harga tersebut bahkan mendekati Nvidia GeForce RTX 5060 Ti yang menawarkan efisiensi, fitur AI, dan performa gaming jauh lebih kuat.
Meski begitu, sebagian pembeli menganggap nilai utama produk ini bukan sekadar frame rate, melainkan dukungan terhadap ekosistem teknologi lokal China.
Bagi sebagian konsumen, membeli LX 7G100 menjadi bentuk dukungan terhadap industri chip domestik yang tengah berusaha lepas dari dominasi perusahaan Amerika.
Cetak Sejarah Baru untuk GPU China
Terlepas dari kontroversi performa, LX 7G100 tetap mencatat pencapaian penting.
GPU ini menjadi kartu grafis konsumen pertama asal China yang berhasil memperoleh sertifikasi driver Microsoft WHQL. Sertifikasi tersebut memastikan kompatibilitas dan stabilitas perangkat saat menjalankan sistem operasi Windows serta game modern.
Pencapaian itu memberi sinyal bahwa industri GPU China mulai bergerak menuju level yang lebih serius.
Selama bertahun-tahun, banyak produsen lokal kesulitan menghadirkan driver stabil untuk kebutuhan gaming. Lisuan Tech kini berhasil menembus hambatan tersebut dan mulai menarik perhatian pasar global.
Persaingan GPU Diprediksi Semakin Panas
Kemunculan Lisuan Tech menambah tekanan baru bagi Nvidia dan AMD, terutama di pasar China yang selama ini menjadi salah satu sumber penjualan terbesar industri GPU dunia.
Jika perusahaan-perusahaan lokal China terus berkembang, dominasi pemain lama bisa mulai tergerus dalam beberapa tahun mendatang.
Walau performa generasi pertama LX 7G100 belum sepenuhnya memuaskan, penjualan fantastis produk tersebut menunjukkan satu hal penting: konsumen China kini siap mendukung teknologi dalam negeri secara besar-besaran.
FAQ
Apa itu Lisuan Tech?
Lisuan Tech merupakan startup teknologi asal China yang fokus mengembangkan GPU gaming dan chip grafis lokal.
Berapa harga GPU LX 7G100?
Lisuan Tech menjual GPU LX 7G100 dengan harga sekitar 485 dollar AS atau setara Rp 8,5 juta.
Apakah performa LX 7G100 setara RTX 4060?
Tidak. Hasil benchmark independen menunjukkan performanya lebih dekat ke Nvidia GeForce RTX 3060.
Mengapa GPU ini tetap laris?
Banyak konsumen China ingin mendukung produk teknologi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada perusahaan Amerika.
Apakah LX 7G100 sudah mendukung ray tracing?
GPU ini belum menawarkan kemampuan ray tracing kompetitif seperti GPU Nvidia terbaru.
Penulis : Andini
Editor : Ichwan Diaspora








