Jakarta –
Umat Islam di Indonesia kembali menyambut bulan suci dengan perbedaan penetapan awal puasa. Untuk Ramadan 1477 Hijriah atau 2026 Masehi, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026.
Sementara itu, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama menetapkan awal puasa pada 19 Februari 2026.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan awal Ramadan dan Idul Fitri terus muncul. Masyarakat Indonesia pun menghadapi dua tanggal berbeda dalam memulai ibadah puasa.
Penetapan Awal Ramadan 2026
Muhammadiyah lebih dulu mengumumkan 1 Ramadan 1477 H jatuh pada Selasa, 18 Februari 2026. Organisasi ini menggunakan metode hisab untuk menghitung posisi bulan.
Selanjutnya, pemerintah menggelar sidang isbat bersama NU dan sejumlah ormas Islam. Dalam sidang tersebut, para peserta membahas hasil pemantauan hilal dan data astronomi. Setelah itu, pemerintah menetapkan awal puasa pada Rabu, 19 Februari 2026.
Perbedaan ini memunculkan selisih satu hari dalam pelaksanaan puasa tahun ini. Meski begitu, masyarakat tetap menjaga suasana kondusif dan saling menghormati.
Dasar Penanggalan Kalender Hijriah
Kalender Hijriah memakai sistem Qomariyah yang mengikuti peredaran bulan mengelilingi bumi. Umat Islam menentukan awal bulan dengan melihat kemunculan hilal setelah terjadi ijtimak.
Ijtimak terjadi ketika matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus. Kondisi ini menandai fase pergantian bulan dalam kalender Hijriah.
Karena itu, para ahli falak dan otoritas keagamaan menggunakan metode tertentu untuk memastikan awal Ramadan secara tepat dan akurat.
Perbedaan Metode Hisab dan Rukyat
Muhammadiyah mengandalkan metode hisab. Melalui perhitungan astronomi, para ahli menghitung posisi hilal secara matematis. Dengan cara ini, organisasi dapat menentukan awal Ramadan jauh hari sebelum bulan suci tiba.
Sebaliknya, NU menggunakan metode rukyat. Tim pemantau hilal turun langsung ke berbagai titik pengamatan untuk melihat hilal secara kasatmata. Setelah tim menyampaikan laporan, pemerintah mempertimbangkan hasil rukyat dan data hisab dalam sidang isbat.
Perbedaan pendekatan ini kerap melahirkan hasil yang tidak sama. Dalam beberapa tahun, metode hisab menghasilkan tanggal yang lebih awal satu hari dibandingkan rukyat.
Rekam Jejak Perbedaan 2014–2026
Data dalam 13 tahun terakhir menunjukkan beberapa kali perbedaan awal puasa. Pada 2014, Muhammadiyah memulai puasa pada 28 Juni, sedangkan NU memulai pada 29 Juni.
Pada 2022, Muhammadiyah menetapkan 2 April dan NU menetapkan 3 April. Kemudian pada 2024, Muhammadiyah memulai 11 Maret dan NU memulai 12 Maret. Pada 2026, Muhammadiyah memulai 18 Februari, sementara NU memulai 19 Februari.
Namun, pada 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020, 2021, 2023, dan 2025, kedua organisasi memulai puasa pada tanggal yang sama.
Dinamika yang Terus Berlangsung
Perbedaan awal Ramadan mencerminkan keragaman metode dalam praktik keagamaan di Indonesia. Meski terdapat perbedaan tanggal, umat Islam tetap menjalankan ibadah puasa sesuai keyakinan masing-masing.
Dengan sikap saling menghormati, masyarakat menjaga persatuan di tengah perbedaan. Tradisi perbedaan ini pun terus menjadi bagian dari dinamika Ramadan di Indonesia setiap tahun.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora