Jakarta – Pemerintah dan berbagai lembaga memprediksi jutaan warga Indonesia akan melakukan perjalanan mudik saat libur Idul Fitri tahun ini. Masyarakat terus menjadikan mudik sebagai bagian penting dalam perayaan Lebaran.
Pada dasarnya, masyarakat tidak hanya memaknai mudik sebagai perjalanan pulang kampung. Masyarakat juga menjadikan mudik sebagai cara menjaga hubungan keluarga dan kedekatan dengan daerah asal.
Lonjakan Perjalanan Saat Libur Idul Fitri
Setiap tahun, masyarakat memanfaatkan libur Lebaran untuk pulang kampung. Para perantau meninggalkan kota besar untuk bertemu keluarga.
Selain itu, masyarakat meningkatkan aktivitas perjalanan sehingga arus transportasi melonjak. Karena itu, pemerintah dan instansi terkait menyiapkan strategi untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Asal Usul Kata Mudik dalam Bahasa dan Budaya
Program Indonesia Baik milik Kementerian Komunikasi dan Informatika menjelaskan bahwa masyarakat mengambil kata mudik dari istilah Jawa mulih dilik. Istilah tersebut berarti pulang sebentar.
Di sisi lain, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan mudik sebagai aktivitas menuju pedalaman dan pulang ke kampung halaman.
Peneliti dari Universitas Gadjah Mada juga menjelaskan asal kata mudik dari sisi bahasa. Secara etimologis, kata mudik berkaitan dengan kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau ujung sungai.
Antropolog Heddy Shri Ahimsa-Putra menjelaskan bahwa masyarakat mulai mengenal istilah mudik saat banyak orang merantau ke kota. Setelah itu, masyarakat menggunakan istilah tersebut saat kembali ke kampung halaman.
Peran Urbanisasi dalam Menguatkan Tradisi Mudik
Selain faktor budaya, Kementerian Perhubungan mencatat peningkatan tradisi mudik sejak era 1970-an. Pada masa itu, masyarakat berbondong-bondong pindah ke kota besar.
Perubahan tersebut berkaitan dengan perpindahan penduduk setelah masa kemerdekaan. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menjelaskan bahwa masyarakat desa mulai mencari pekerjaan di kota sejak 1960-an hingga 1970-an.
Mudik sebagai Identitas Sosial Masyarakat Indonesia
Seiring waktu, masyarakat menjadikan mudik sebagai tradisi nasional. Kini, masyarakat dari berbagai daerah menjalankan tradisi ini setiap tahun.
Bahkan, masyarakat menjadikan mudik sebagai simbol kebersamaan keluarga dan silaturahmi. Setiap tahun, jutaan orang menempuh perjalanan jauh untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Tradisi yang Terus Bertahan
Pada akhirnya, masyarakat terus mempertahankan tradisi mudik. Selama masyarakat menjaga nilai kekeluargaan, tradisi ini akan tetap menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









