JAKARTA – Perang Iran yang memicu gangguan besar di jalur perdagangan energi global justru membawa keuntungan besar bagi Amerika Serikat. Ekspor minyak AS melonjak tajam hingga mencetak rekor baru, terutama karena negara-negara Asia beralih mencari pasokan dari luar Timur Tengah.
Lonjakan Ekspor Minyak AS Pecahkan Rekor
Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak mentah Amerika Serikat mencapai 5,44 juta barel per hari pada April 2026. Angka itu diperkirakan naik lagi menjadi 5,48 juta barel per hari pada Mei 2026.
Kondisi ini menjadikan April dan Mei sebagai periode ekspor minyak terkuat sepanjang sejarah Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, ekspor pada Januari hanya 3,94 juta barel per hari dan turun lagi ke 3,86 juta barel per hari pada Februari, sebelum konflik memanas.
Lonjakan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam arus perdagangan energi global setelah terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Asia Jadi Pembeli Terbesar Minyak AS
Asia menyerap sebagian besar tambahan ekspor minyak Amerika. Pada April 2026, pengiriman minyak mentah AS ke Asia mencapai 2,27 juta barel per hari. Angka ini melonjak tajam menjadi 3,29 juta barel per hari pada Mei, atau hampir tiga kali lipat dibanding Januari yang hanya 1,11 juta barel per hari.
Namun peningkatan pasokan dari Amerika belum mampu menutup kehilangan besar akibat terganggunya jalur Selat Hormuz. Total ekspor minyak laut ke Asia justru turun signifikan menjadi 14,8 juta barel per hari pada April, dari 18,63 juta barel per hari pada Maret. Pada Februari, angka itu masih 24,87 juta barel per hari.
Artinya, Asia kehilangan sekitar 10 juta barel per hari dibandingkan kondisi sebelum konflik. Kekurangan ini tidak bisa ditutup hanya dengan cadangan sementara.
Pasokan Bahan Bakar Juga Terdampak
Tidak hanya minyak mentah, ekspor produk olahan seperti bensin, diesel, dan avtur juga meningkat dari Amerika Serikat. Pada April 2026, ekspor produk AS mencapai 3,59 juta barel per hari, dengan 386 ribu barel per hari mengalir ke Asia.
Sebagai perbandingan, pada Januari total ekspor produk AS hanya 2,83 juta barel per hari, dengan 132 ribu barel per hari menuju Asia. Lonjakan ini menunjukkan peningkatan kebutuhan energi di kawasan tersebut.
Namun, pasokan bahan bakar dari Timur Tengah yang biasanya melewati Selat Hormuz anjlok drastis. Dari 1,58 juta barel per hari pada Januari, angka itu turun hampir nol menjadi hanya 11 ribu barel per hari pada April.
Pasar Energi Dunia Tetap Ketat
Meski Amerika Serikat menikmati lonjakan ekspor, kondisi pasar energi global tetap ketat. Kesenjangan pasokan dari Timur Tengah jauh lebih besar dibanding tambahan dari AS.
Pemerintah AS juga memanfaatkan cadangan strategis untuk menopang ekspor jangka pendek. Washington melepas sekitar 172 juta barel minyak melalui skema pinjaman yang berlaku hingga Juli 2026.
Namun skema ini tidak memberikan pasokan permanen. Ketika pelepasan cadangan berhenti, pasar bisa kembali menghadapi tekanan baru, terutama jika jalur Hormuz belum kembali normal.
Risiko Tekanan Harga Masih Mengintai
Analis menilai kondisi pasar masih rentan. Jika ekspor Amerika mulai melambat sementara pasokan Timur Tengah belum pulih, harga minyak global berpotensi kembali naik.
Saat itu, pasar tidak lagi hanya mencari minyak murah, tetapi mencari pasokan yang tersedia di tengah keterbatasan global yang semakin ketat.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









