JAKARTA – Iran menutup Selat Hormuz pada 28 Februari 2026 sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Akibatnya, langkah ini bisa memengaruhi perdagangan energi global, termasuk Indonesia.
Selat Hormuz, yang berada di Teluk Arab, menjadi jalur strategis untuk distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara. Selain itu, penutupan terjadi saat konflik meningkat dan negosiasi terkait program nuklir serta rudal balistik Iran masih berlangsung.
Harga Minyak Berpotensi Melonjak
Bhima Yudhistira, ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), memperkirakan harga minyak mentah dunia akan naik tajam karena terganggunya pasokan global. Menurutnya, “Harga minyak berpotensi menembus 100–120 dollar AS per barel,” ujar Bhima, Minggu (1/3/2026).
Lebih jauh, perusahaan asuransi menolak menanggung kapal logistik yang melewati wilayah Selat Hormuz. Sehingga, distribusi minyak semakin sulit dan impor negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akan terhambat.
Dampak ke BBM dan APBN
Indonesia, sebagai negara net importir minyak, akan langsung merasakan dampak kenaikan harga minyak dunia. Dengan demikian, Bhima menekankan, “Kenaikan harga minyak akan langsung memengaruhi harga BBM di dalam negeri.”
Simulasi APBN 2026 menunjukkan, setiap kenaikan 1 dollar AS per barel di atas asumsi pemerintah menambah beban negara sekitar Rp 10,3 triliun. Artinya, lonjakan harga minyak bisa menekan APBN sekaligus meningkatkan harga energi bagi masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi risiko kenaikan harga energi, misalnya melalui cadangan minyak strategis dan kebijakan fiskal yang adaptif.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









