Jakarta – Akhir tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia resmi mendapat pengakuan dari World Health Organization (WHO) sebagai WHO Listed Authority (WLA) untuk regulasi produk medis, khususnya vaksin. Dengan pengakuan ini, BPOM kini sejajar dengan otoritas regulator global ternama.
Pengakuan ini menjadi tonggak sejarah karena Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang memenuhi standar internasional tertinggi dalam regulasi obat dan vaksin. Proses evaluasi berlangsung sejak 2023 hingga 2025. Hasil evaluasi menunjukkan BPOM mampu menjamin keamanan, mutu, dan khasiat obat serta vaksin setara standar dunia.
Strategi dan Manfaat Bagi Indonesia
Selain itu, status WLA memberi berbagai keuntungan strategis. Industri farmasi nasional semakin kuat karena standar regulasi Indonesia diakui dunia. Peluang ekspor produk medis semakin luas, sehingga pertumbuhan ekonomi dan ketahanan rantai pasok kesehatan ikut terdukung. Reputasi Indonesia di diplomasi kesehatan global meningkat, yang pada gilirannya membuka peluang kerja sama internasional lebih luas.
Status WLA juga memperkuat posisi BPOM sebagai regulator kredibel, transparan, dan berstandar global. Para pelaku industri farmasi, investor, dan mitra global kini lebih percaya dengan sistem pengawasan obat dan vaksin Indonesia.
Peluang bagi Industri Kesehatan dan Farmasi
Selain manfaat regulasi, BPOM bisa mendorong peningkatan produksi dalam negeri. Selain itu, industri farmasi Indonesia dapat memperluas akses pasar internasional dan mempercepat ekspor obat serta vaksin. Dengan kata lain, pengakuan berbasis sains memberi kepastian hukum dan teknis bagi pelaku usaha, serta menegaskan komitmen Indonesia terhadap standar global yang transparan dan andal.
Health Forum CNBC Indonesia
Untuk itu, CNBC Indonesia menggelar Health Forum dengan tema:
“BPOM Raih Status WLA, Apa Untungnya Bagi Pelaku Usaha?”
Acara berlangsung pada Jumat, 27 Februari 2026, pukul 15.00-17.00 WIB. Forum menghadirkan pembicara dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain:
Taruna Ikrar – Kepala BPOM
William Adi Teja – Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Prekursor, dan Zat Adiktif
Shadiq Akasya – Direktur Utama Bio Farma
FX Sudirman – CEO Biotis Pharmaceuticals.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









