Gaya Hidup Jadi Tantangan Finansial Kelas Menengah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta — Banyak masyarakat masih menargetkan kondisi kaya dan mapan secara finansial. Namun, jumlah penduduk kelas menengah masih melampaui kelompok kaya.

Di sisi lain, banyak pengamat melihat pola perilaku finansial yang membuat kelompok ini sulit naik ke level ekonomi lebih tinggi. Salah satunya, kelas menengah sering menyeimbangkan kebutuhan utama dengan pengeluaran gaya hidup.

Dilema Antara Kenyamanan dan Keamanan Finansial

CEO Pineapple Money, Zach Larsen, menyebut kelas menengah sering menghadapi posisi sulit. Mereka ingin hidup nyaman, tetapi tetap harus memenuhi kebutuhan finansial jangka panjang. Yahoo Finance memuat pernyataan tersebut dalam laporannya.

Selain itu, kelas menengah biasanya memprioritaskan rumah layak, kendaraan andal, pendidikan anak, serta dana pensiun dan asuransi.

Sementara itu, Business Insider melaporkan sebagian besar kelas menengah memilih menabung saat menerima tambahan penghasilan. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah lebih sering melunasi utang. Kelompok kaya lebih fokus mengembangkan investasi.

Pola Pengeluaran yang Umum Terjadi di Kelas Menengah

Ketergantungan pada Skema Cicilan

Baca Juga :  Rocky Gerung ke Istana, Kritik yang Dulu Keras Kini Terlihat Akrab

Pakar keuangan Jacques du Toit menyatakan kelas menengah sering memakai utang untuk membeli barang konsumtif. Contohnya kendaraan mahal atau barang mewah. Sebaliknya, kelompok kaya memakai utang untuk membeli aset produktif.

Tren Membeli Gadget dan Produk Lifestyle

Selanjutnya, kelas menengah sering membeli produk bermerek kelas menengah untuk mengikuti tren. Dalam beberapa kasus, mereka memakai fasilitas kredit.

Investasi Besar pada Pendidikan

Menurut Rob Whaley dari Horizon Finance Group, banyak keluarga kelas menengah memilih pendidikan sebagai jalan mobilitas sosial. Meski begitu, keluarga tetap perlu menyesuaikan pilihan pendidikan dengan minat dan peluang kerja.

Kepemilikan Aset dan Gaya Hidup

Properti di Kawasan Pinggiran Kota

CEO Sell Quick California, Marc Afzal, melihat banyak keluarga kelas menengah membeli rumah di pinggiran kota. Mereka mengejar ruang lebih luas dengan harga lebih terjangkau.

Pembelian Mobil dengan Tenor Panjang

Kemudian, money coach Mary Vallieu menjelaskan banyak keluarga kelas menengah membeli mobil Rp800 juta hingga Rp1 miliar. Mereka memilih cicilan hingga delapan tahun.

Baca Juga :  Prabowo Restui Hilirisasi di 13 Lokasi, Investasi Baru Digenjot ke Sektor Strategis

Pengeluaran untuk Liburan dan Hiburan

Di sisi gaya hidup, kelas menengah sering memilih paket wisata hemat. Mereka juga rutin mengalokasikan dana untuk konser atau hiburan lain.

Pembelian Peralatan Rumah Tangga Premium

Menurut Jake Claver dari Digital Ascension Group, kelas menengah sering memilih produk dengan fitur lebih baik dari standar kebutuhan dasar. Namun, mereka tidak selalu membeli produk kategori mewah.

Pentingnya Mengarah ke Aset dan Investasi

Pada akhirnya, para pakar menekankan bahwa seseorang tidak cukup hanya meningkatkan penghasilan untuk membangun kekayaan. Mereka juga harus mengelola uang secara disiplin.

Karena itu, masyarakat perlu fokus pada investasi, pembangunan bisnis, dan otomatisasi pengelolaan keuangan.

Dengan langkah tersebut, masyarakat bisa membangun gaya hidup berkelanjutan tanpa tekanan finansial berlebihan.

Berita Terkait

Mahasiswa Keguruan Daerah Ini Resah, Jalur Menjadi Guru Kian Tidak Pasti
BGN Wajibkan Telur Lokal di Program MBG, Perkuat Peternak
Presiden Prabowo Turunkan Bunga Kredit Mekaar Jadi 8 Persen
Driver Ojol Kini Bisa Bernapas Lega, Potongan Aplikasi Resmi Turun Jadi 8 Persen
Audiensi dengan BPK, LBH Nadi Serahkan Kajian Hukum Soal Audit
Dolar AS Tembus Rp17.421, Rupiah Tertekan akibat Penguatan Pasar Global
Bansos Digital Mulai Juni 2026, Pemerintah Benahi Data Penerima
Kemendagri Minta e-KTP Tak Lagi Difotokopi, Dorong Layanan Lebih Praktis dan Digital
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 20:44 WIB

Mahasiswa Keguruan Daerah Ini Resah, Jalur Menjadi Guru Kian Tidak Pasti

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:00 WIB

BGN Wajibkan Telur Lokal di Program MBG, Perkuat Peternak

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:00 WIB

Presiden Prabowo Turunkan Bunga Kredit Mekaar Jadi 8 Persen

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:00 WIB

Driver Ojol Kini Bisa Bernapas Lega, Potongan Aplikasi Resmi Turun Jadi 8 Persen

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:40 WIB

Audiensi dengan BPK, LBH Nadi Serahkan Kajian Hukum Soal Audit

Berita Terbaru

Oplus_0

Teknologi

Kenaikan Harga Chipset Baru Ancam Lonjakan Harga HP Android

Selasa, 19 Mei 2026 - 04:00 WIB