CIA dan Permesta: Intervensi AS di Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta – Amerika Serikat (AS) sering menjadi sorotan karena ikut campur dalam politik negara lain. Sepanjang abad ke-20 hingga kini, Washington beberapa kali turun tangan, baik secara terbuka maupun rahasia, untuk melemahkan atau menggulingkan pemerintahan yang bertentangan dengan kepentingan nasionalnya. Dengan kata lain, intervensi ini menjadi bagian dari sejarah panjang kebijakan luar negeri AS.

Indonesia Pernah Menjadi Target

Indonesia mengalami langsung upaya intervensi tersebut. Pada 1958, AS mendukung pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi. Meski begitu, TNI menumpas pergolakan tersebut, sehingga upaya AS gagal.

Latar Belakang Permesta dan PRRI

Permesta muncul karena kekecewaan masyarakat Sulawesi terhadap pemerintah pusat yang terlalu sentralistis. Letnan Kolonel Ventje Sumual mendeklarasikan gerakan ini pada 2 Mei 1957. Sementara itu, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) muncul di Sumatra Barat sekitar waktu yang sama.
Kedua gerakan saling mendukung dan melengkapi, meskipun pemerintah pusat menilai keduanya sebagai pemberontakan. Oleh karena itu, Jakarta mengerahkan operasi militer skala besar untuk menumpas pergolakan.

CIA Memanfaatkan Pergolakan

AS melihat konflik di daerah sebagai peluang untuk melemahkan pemerintahan Presiden Soekarno. Dalam arsip rahasia CIA berjudul The Power Position of Indonesia’s President Soekarno (7 Februari 1964), Washington menilai Soekarno mulai condong ke komunisme. Hal ini bertentangan langsung dengan kepentingan AS.
Sejak 18 Maret 1957, Departemen Luar Negeri AS memantau perkembangan politik di luar Pulau Jawa. CIA tidak hanya mengamati, tetapi juga merancang dukungan rahasia terhadap pemberontakan. Dokumen CIA tertanggal 15 Mei 1958 menyebut bahwa pemberontakan mencerminkan kekecewaan lama daerah terhadap dominasi Jawa. Namun, CIA ingin menekan Soekarno secara politik. Dengan demikian, CIA memanfaatkan kekuatan anti-komunis di pulau-pulau luar untuk mempengaruhi pusat kekuasaan di Jawa.

Terbongkarnya Allen Pope

Keterlibatan AS terbongkar melalui kasus Allen Pope. Pada 18 Mei 1958, TNI menembak jatuh pesawat yang menjatuhkan bom di Ambon. Serangan itu menewaskan enam warga sipil dan 17 prajurit TNI. Selanjutnya, pilot pesawat, Allen Lawrence Pope, seorang agen CIA, selamat dari jatuhnya pesawat.
Audrey Kahin dan George Kahin mencatat dalam buku Subversi sebagai Politik Luar Negeri (1997) bahwa Pope membawa buku catatan misi dan kartu identitas militer AS. Akibatnya, berita penangkapan Pope memicu kemarahan Presiden Soekarno. Dalam autobiografinya, Soekarno menegaskan keyakinannya bahwa Pope adalah agen CIA. “Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. Selain itu, di setiap negara berkembang orang akan melihat agen-agen Amerika banyak berkeliaran,” ujar Soekarno.
Penyelidikan mengungkap Pope merupakan veteran militer yang menerbangkan pesawat tempur dari pangkalan AS dekat Filipina. CIA menugaskan beberapa pilot bayaran untuk membantu pemberontakan, namun Pope menjadi satu-satunya yang tertangkap hidup-hidup oleh militer Indonesia.

Penutup: Fakta Tak Terbantahkan

Setelah identitas Pope terungkap, pemerintah AS buru-buru membantah keterlibatan mereka. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kebenarannya. Pemerintah Indonesia menahan Pope dan menjatuhkan hukuman mati, meski akhirnya Presiden Soekarno memberi pengampunan sebelum eksekusi. Dengan demikian, kasus ini tetap menjadi bukti paling nyata intervensi CIA dalam dinamika politik Indonesia pada era Perang Dingin.
Baca Juga :  Indonesia Segera Miliki FLNG Pertama

Berita Terkait

BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia
Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern
Eropa Terguncang Krisis Energi, Albania Jadi Contoh Ketahanan
Pentagon Incar Tanah Jarang Malaysia, Tantang Dominasi China di Pasar Global
Iran Perdana Kantongi Pendapatan Tarif Tol Selat Hormuz, Simpan di Bank Sentral
Paspor Indonesia 2026: Daftar 42 Negara Bebas Visa Terbaru untuk WNI
12 Negara Ajukan Pinjaman ke IMF, Krisis Energi Picu Tekanan Ekonomi Global
Kapal Malaysia Tembus Selat Hormuz, Bawa 1 Juta Barel Minyak di Tengah Krisis Global
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:00 WIB

BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:05 WIB

Kekuasaan Presiden di Indonesia dan Amerika Serikat: Antara Mandat Rakyat dan Pembatasan Politik dalam Sistem Presidensial Modern

Kamis, 30 April 2026 - 10:00 WIB

Eropa Terguncang Krisis Energi, Albania Jadi Contoh Ketahanan

Rabu, 29 April 2026 - 12:00 WIB

Pentagon Incar Tanah Jarang Malaysia, Tantang Dominasi China di Pasar Global

Sabtu, 25 April 2026 - 20:00 WIB

Iran Perdana Kantongi Pendapatan Tarif Tol Selat Hormuz, Simpan di Bank Sentral

Berita Terbaru