Jakarta – Harga emas mengalami gejolak tajam sejak akhir Januari hingga awal Februari. Akibatnya, masyarakat mengalami fenomena fear of missing out (FOMO). Banyak pembeli rela antre panjang dan menunggu hingga satu bulan atau lebih untuk mengambil emas yang mereka beli.
Harga Domestik Mengikuti Pasar Global
Seiring dengan itu, harga emas domestik bergerak sejalan dengan tren pasar emas dunia. Pada pukul 09.30 tanggal 7 Februari (waktu Vietnam), pasar internasional menempatkan harga emas sekitar USD 4.966 per ons. Jika dikonversi menggunakan kurs Vietcombank, nilai emas setara 156,5 juta VND per ons. Dengan demikian, pasar domestik mematok harga sekitar 20 juta VND per ons lebih tinggi daripada harga global.
Fluktuasi Tajam Emas Batangan SJC
Sementara itu, fluktuasi paling tajam terjadi pada emas batangan SJC. Pada 2 Februari, pedagang menjual emas seharga 166 juta VND per ons. Namun, dua hari kemudian, harga melonjak menjadi 180,2 juta VND per ons pada 4 Februari. Bahkan, pada 3 Februari saja, harga naik lebih dari 10 juta VND per ons. Setelah lonjakan ini, harga kemudian turun beberapa kali dalam penyesuaian.
Risiko FOMO dan Euforia Pasar
Kondisi tersebut mendorong masyarakat membeli dan menjual emas karena takut kehilangan peluang keuntungan. Meski begitu, para ahli menekankan bahwa euforia pasar membawa risiko serius.
Hati-hati dengan Surat Janji Pembayaran
Menurut ekonom Nguyen Tri Hieu, investor menghadapi risiko saat membeli emas melalui surat janji pembayaran atau kontrak pengambilan di kemudian hari. Pasalnya, pelaku usaha mungkin mengalami kendala pasokan atau masalah hukum. Akibatnya, pembeli mungkin tidak menerima emas sesuai waktu yang dijanjikan.
Potensi Sengketa Hukum
Lebih lanjut, jika harga emas saat pengiriman berbeda jauh dari harga kontrak, penjual dapat membatalkan perjanjian. Pada skenario terburuk, kedua pihak bisa menyelesaikan sengketa di jalur hukum, meski proses ini mahal dan memakan waktu. Oleh karena itu, para pakar menyarankan masyarakat membeli emas secara langsung dengan prinsip “tunai dan diterima saat itu juga”.
Disiplin Keuangan dan Strategi Investasi
Di sisi lain, investor perlu disiplin dalam mengelola keuangan. Mereka sebaiknya menetapkan batas keuntungan dan batas kerugian. Dengan demikian, investor dapat menghindari jebakan psikologis, seperti terlalu serakah menjual saat harga tinggi atau terlalu takut memotong kerugian saat harga turun.
Diversifikasi Portofolio untuk Kurangi Risiko
Selain itu, investor sebaiknya mendiversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko. Mereka dapat membagi modal ke emas, saham, properti, valuta asing, dan deposito. Dengan strategi ini, ketergantungan pada satu jenis investasi menurun, terutama di tengah volatilitas pasar yang tinggi.








