Tekanan AS Gagal: Ekspor Minyak Rusia ke China

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA — Rusia mencatat rekor tertinggi ekspor minyak mentah ke China pada Januari 2026, meskipun Amerika Serikat terus menekan pendapatan energi Moskow melalui sanksi. Data industri menunjukkan China kini menyerap sebagian besar minyak Rusia dan menjadi penopang utama ekspor energi negara tersebut.

Pengiriman Melonjak ke Level Tertinggi

Pada Januari, Rusia mengirim 1,86 juta barel per hari ke China melalui jalur laut, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Seluruh volume ESPO (East Siberia Pacific Ocean) Rusia langsung masuk pasar China. Lebih dari setengahnya berangkat dari pelabuhan Kozmino dan Sakhalin. Jika dibandingkan, ekspor ini 46 persen lebih tinggi dari minyak Arab Saudi ke China.

Harga Murah dan Dukungan Logistik Tarik Minat China

China memilih minyak Rusia karena harga lebih murah, sekitar US$7 per barel di bawah Brent. Selain itu, Rusia menanggung biaya logistik, asuransi, dan risiko geopolitik. Hasilnya, kilang-kilang China membeli pasokan murah dan stabil.

Geopolitik Dorong Pergeseran Pasokan Energi

China menghadapi ketidakpastian pasokan dari Venezuela dan Iran akibat sanksi Barat. Oleh karena itu, negara ini mencari energi yang aman dan dekat secara geografis. Rusia memenuhi kriteria tersebut, apalagi terminal Kozmino hanya berjarak lima hingga enam hari pelayaran ke pelabuhan China.

Kilang Baru Perkuat Ketergantungan pada Rusia

Kilang baru Shandong Yulong berkapasitas 400 ribu bph memperkuat ketergantungan China pada minyak Rusia. Kilang ini mengimpor hampir seluruh pasokannya dari Rusia setelah China kehilangan akses ke minyak dari Barat dan Timur Tengah. Sejak akhir 2025, Shandong Yulong mengimpor ratusan ribu barel per hari dari Rusia.

Dampak Terhadap India dan Strategi AS

Amerika Serikat menekan India untuk menghentikan impor minyak Rusia. Namun, tekanan ini berpotensi mendorong India memperkuat kerja sama energi dengan Moskow demi menjaga keamanan pasokan strategis.
Kesimpulan: Poros Energi Baru Eurasia
Strategi AS gagal menekan pendapatan energi Rusia. Rusia memperdalam kemitraan dengan China dan membentuk poros baru di Eurasia. Akibatnya, China memperoleh pasokan besar dengan harga kompetitif, sementara arus perdagangan energi hanya bergeser rute, bukan berhenti.
Baca Juga :  AS dan China Tolak Aturan AI Militer

Berita Terkait

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028
Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026
Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia
Ribuan Pelamar Rela Antre 2 Kilometer Sejak Subuh, Gaji Awal Pekerjaan Ini Tembus Rp15 Juta
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Tertekan dan Pasar Bersiap Hadapi Perubahan Besar
Iran Bersiap Masuk Era Baru, Investasi Rp5.310 Triliun Mengalir Usai Kesepakatan Damai dengan AS
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:00 WIB

Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar

Senin, 22 Juni 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:00 WIB

Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:00 WIB

Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia

Berita Terbaru