Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri alas kaki Indonesia mencatat lonjakan kinerja pada kuartal II/2026. Kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Pertumbuhan tersebut menunjukkan geliat kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global. Permintaan dalam negeri tetap bergerak, sementara pasar ekspor terus membuka peluang bagi produsen alas kaki Indonesia.

Selain itu, pelaku usaha juga terus menambah investasi dan tenaga kerja. Karena itu, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) melihat industri alas kaki memiliki ruang besar untuk melanjutkan ekspansi pada semester II/2026.

Industri Alas Kaki Tumbuh Dua Digit

Data Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30 persen yoy pada kuartal II/2026.

Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi daripada capaian kuartal I/2026 yang mencapai 5,28 persen yoy. Pada saat yang sama, industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh 5,32 persen, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen.

Secara kumulatif, kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat pertumbuhan 8,25 persen sepanjang semester I/2026. Secara kuartalan, sektor tersebut juga tumbuh 2,72 persen.

Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda melihat angka tersebut sebagai sinyal kuat bagi industri alas kaki nasional.

“Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global,” ujar Billie dalam pesan singkat kepada Bisnis, dikutip Sabtu (8/8/2026).

Menurut Billie, pelaku usaha dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk menjaga investasi, meningkatkan produksi, dan memperluas penyerapan tenaga kerja.

Hampir 1 Juta Orang Bekerja di Sektor Ini

Pertumbuhan industri alas kaki juga memberikan dampak langsung terhadap pasar tenaga kerja.

Pada Februari 2026, kelompok industri kulit dan alas kaki mempekerjakan sekitar 966.147 orang. Jumlah tersebut bertambah 45.061 orang atau sekitar 4,9 persen dibandingkan Februari 2025.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 845.511 orang atau 87,5 persen bekerja pada sektor formal. Sementara itu, sekitar 120.636 orang bekerja pada sektor informal.

Kelompok industri kulit dan alas kaki juga menyumbang sekitar 4,82 persen terhadap total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas.

Billie mengatakan industri alas kaki memiliki peran penting karena sektor tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.

“Industri alas kaki merupakan industri padat karya yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri,” jelasnya.

Konsumsi Dalam Negeri Tetap Kuat

Selain tenaga kerja, pasar domestik ikut menjaga pertumbuhan industri alas kaki.

Konsumsi rumah tangga untuk kelompok sandang, termasuk pakaian dan alas kaki, mencapai sekitar Rp103,72 triliun pada kuartal II/2026.

Baca Juga :  Harga Telur Tertekan, Pemerintah Andalkan MBG Pulihkan Pasar

Konsumsi tersebut tumbuh 3,52 persen secara tahunan. Kemudian, secara kumulatif, konsumsi kelompok sandang tumbuh 4,74 persen sepanjang semester I/2026.

Dengan kondisi tersebut, pasar domestik tetap menawarkan peluang bagi produsen alas kaki. Produsen dapat memperkuat pasar lokal sambil memperluas penjualan ke pasar luar negeri.

Ekspor Alas Kaki Capai US$7,98 Miliar

Di sisi lain, ekspor terus memainkan peran penting dalam pertumbuhan industri alas kaki Indonesia.

Indonesia mencatat nilai ekspor alas kaki sekitar US$7,98 miliar sepanjang 2025. Nilai tersebut naik 9,54 persen dibandingkan 2024 dengan volume ekspor sekitar 601 juta pasang.

Capaian itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir alas kaki terbesar di dunia.

Memasuki 2026, peluang ekspor juga terus terbuka. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan alas kaki masuk dalam jajaran komoditas utama ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

Pada Januari hingga Maret 2026, komoditas alas kaki mencatat surplus perdagangan nonmigas sekitar US$1,49 miliar.

Billie melihat pasar global masih menawarkan peluang besar bagi industri nasional.

“Pasar global masih memberikan peluang besar. Kualitas, produktivitas, kecepatan pengiriman, dan kemampuan industri Indonesia memenuhi standar internasional menjadi faktor utama yang harus terus kita jaga,” kata Billie.

Investasi Industri Alas Kaki Ikut Melonjak

Pertumbuhan industri juga berjalan seiring dengan peningkatan investasi.

Pada 2025, pelaku usaha mencatat realisasi investasi kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki sebesar Rp25,83 triliun.

Angka tersebut meningkat hampir 70 persen dibandingkan investasi pada 2024 yang mencapai Rp15,20 triliun.

Kemudian, pada kuartal I/2026, sektor tersebut kembali mencatat investasi sekitar Rp5,83 triliun.

Billie melihat investasi tersebut menunjukkan langkah pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbarui mesin, dan mengembangkan fasilitas industri.

Sementara itu, Indonesia mencatat realisasi investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun pada kuartal II/2026. Angka tersebut tumbuh 7,1 persen yoy dan menyerap lebih dari 742.000 tenaga kerja secara langsung.

Manufaktur Indonesia Masih Bergerak Ekspansif

Kondisi manufaktur secara umum juga memberikan sinyal positif bagi industri alas kaki.

Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) mencapai level 51,43 pada kuartal II/2026. Angka tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan masih berada dalam fase ekspansi.

Bank Indonesia juga memproyeksikan PMI-BI mencapai 52,32 pada kuartal III/2026.

Dengan demikian, pelaku industri memiliki ruang untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Namun, mereka tetap perlu memperkuat produktivitas agar ekspansi berjalan berkelanjutan.

Aprisindo Minta Industri Perkuat Daya Saing

Meski mencatat pertumbuhan tinggi, Aprisindo mengingatkan pelaku industri agar tidak cepat berpuas diri.

Menurut asosiasi, industri perlu memperkuat sejumlah faktor agar pertumbuhan tetap berjalan pada semester II/2026.

Faktor tersebut mencakup akses pasar ekspor, ketersediaan bahan baku, efisiensi logistik dan energi, produktivitas tenaga kerja, modernisasi mesin, serta akses pembiayaan.

Selain itu, pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap produk impor ilegal dan sepatu tiruan. Produk tersebut dapat menekan pasar produsen lokal sekaligus mengganggu persaingan usaha yang sehat.

Baca Juga :  Usai DPR Ketok Palu UU PPSK, BI Ungkap Langkah Besar yang Segera Dijalankan

Sertifikasi Halal Perlu Perhatikan Beban Industri

Aprisindo juga menyoroti penerapan sertifikasi halal pada produk alas kaki.

Asosiasi meminta pemerintah memperhatikan biaya dan beban administrasi ketika menjalankan kebijakan tersebut. Dengan begitu, regulasi tetap berjalan tanpa menghambat aktivitas industri.

Di sisi lain, pelaku usaha perlu menyiapkan proses produksi dan administrasi agar dapat mengikuti ketentuan yang berlaku.

IEU-CEPA Bisa Buka Pasar Baru

Industri alas kaki Indonesia juga membutuhkan akses pasar yang lebih luas.

Karena itu, berbagai perjanjian perdagangan dapat membantu produsen memperluas tujuan ekspor. Salah satunya melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Perluasan pasar dapat mengurangi ketergantungan terhadap negara tujuan tertentu. Selain itu, langkah tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok alas kaki dunia.

Billie juga berharap kebijakan tarif Amerika Serikat memberikan posisi yang lebih kompetitif bagi produk alas kaki Indonesia dibandingkan negara pesaing.

Tarif yang lebih rendah dapat membuka peluang peningkatan permintaan dari pembeli global.

Semester II/2026 Jadi Momentum Ekspansi

Dengan pertumbuhan industri mencapai 11,30 persen pada kuartal II/2026, pelaku usaha memiliki modal kuat untuk melanjutkan ekspansi.

Namun, industri perlu menjaga momentum melalui peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, perluasan pasar, dan modernisasi fasilitas.

Billie pun optimistis industri alas kaki dapat mempertahankan pertumbuhan hingga akhir tahun.

“Dengan kebijakan yang mendukung daya saing dan komitmen industri untuk terus meningkatkan produktivitas, kami yakin semester II/2026 dapat menjadi periode konsolidasi sekaligus ekspansi,” pungkasnya.

FAQ

Berapa pertumbuhan industri alas kaki pada kuartal II/2026?

Kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 11,30 persen secara tahunan pada kuartal II/2026.

Berapa jumlah pekerja industri kulit dan alas kaki?

Pada Februari 2026, sektor tersebut mempekerjakan sekitar 966.147 orang.

Berapa nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025?

Indonesia mencatat ekspor alas kaki sekitar US$7,98 miliar sepanjang 2025 dengan volume sekitar 601 juta pasang.

Berapa investasi industri alas kaki pada 2025?

Realisasi investasi kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai sekitar Rp25,83 triliun pada 2025.

Apa yang menopang pertumbuhan industri alas kaki?

Pasar domestik, ekspor, investasi, peningkatan produksi, dan penyerapan tenaga kerja menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan sektor tersebut.

Apa tantangan industri alas kaki Indonesia?

Industri menghadapi tantangan berupa akses pasar ekspor, bahan baku, biaya logistik dan energi, produktivitas, modernisasi mesin, pembiayaan, serta produk impor ilegal dan sepatu tiruan.

Mengapa IEU-CEPA penting bagi industri alas kaki?

Perjanjian tersebut dapat membantu produsen Indonesia membuka akses pasar Eropa sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor tertentu.(Tim)

Berita Terkait

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Retribusi Bengkulu Baru Menyentuh 41 Persen, Sekda Desak OPD Tancap Gas Kejar Rp248 Miliar
Bank Dunia Bongkar Alasan Tax Holiday Tak Lagi Efektif, Indonesia Diminta Ubah Strategi Tarik Investor
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

SK 196 CPNS Sungai Penuh Rampung, Kapan Diserahkan?

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:19 WIB