JAKARTA – Lonjakan produksi telur ayam ras di sejumlah sentra peternakan Indonesia membuat pasar mengalami tekanan serius pada awal Juni 2026. Kondisi itu mendorong pemerintah bergerak cepat agar harga di tingkat peternak tidak terus tergerus dan memicu kerugian lebih luas.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah melalui sektor pangan dan gizi mulai menyusun langkah intervensi. Salah satu fokus utama tertuju pada pemanfaatan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi salah satu kanal distribusi pangan strategis nasional.
Kementerian Pertanian menilai penyerapan telur melalui program pemerintah bisa menstabilkan harga sekaligus membantu peternak kecil yang terdampak penurunan nilai jual di tingkat kandang.
Kementan Dorong Penyerapan Telur Lewat Program MBG
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia mengirimkan surat resmi kepada Badan Gizi Nasional untuk memperkuat penyerapan telur dari peternak lokal. Surat tersebut muncul setelah harga telur di tingkat peternak jatuh sejak awal Mei 2026.
Direktur Jenderal PKH Agung Suganda menjelaskan langkah itu dalam keterangan resmi. Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin memperluas penggunaan telur dalam program MBG.
“Dalam surat tersebut, Kementan mengusulkan peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG,” kata Agung.
Ia menilai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bisa menjadi ujung tombak penyerapan telur dari peternak lokal agar distribusi berjalan lebih stabil.
BGN Tindak Lanjut Lewat Surat Edaran
Setelah menerima surat dari Kementan, Badan Gizi Nasional langsung mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE/01/06/V/2026. Regulasi ini meminta SPPG membeli telur dari peternak sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen sebesar Rp 26.500 per kilogram.
Agung menyampaikan bahwa kebijakan itu langsung mendapat respons cepat dari BGN.
“Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti BGN,” tutur Agung.
Pemerintah juga membahas isu anjloknya harga telur dalam Rapat Koordinasi di Kementerian Perdagangan pada 4 Juni 2026. Dalam forum itu, pemerintah sepakat memperkuat serapan di wilayah produksi utama agar harga kembali stabil.
Faktor Penyebab Harga Telur Turun
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi menjelaskan beberapa faktor utama yang menekan harga telur. Ia menyebut produksi meningkat di berbagai sentra peternakan, sementara permintaan tidak tumbuh secepat pasokan.
Selain itu, distribusi yang melambat pada periode libur Mei ikut memperparah kondisi pasar. Ketidakseimbangan itu membuat stok menumpuk di sejumlah daerah.
Suwandi menegaskan bahwa pasar mulai menunjukkan perbaikan seiring normalisasi aktivitas ekonomi dan distribusi.
Peternak Blitar Terdampak, Aksi Protes Muncul
Dampak penurunan harga paling terasa di sentra produksi seperti Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Peternak bahkan melakukan aksi bagi telur gratis sebagai bentuk protes atas harga yang jatuh di bawah biaya produksi.
Seorang peternak, Suryono, menyoroti kenaikan biaya pakan yang semakin menekan margin usaha.
“Porsi bahan pakan yang impor itu sekitar 35 persen dari pakan konsentrat. Tapi naiknya komponen bahan pakan impor ini ada yang sampai 100 persen,” ujar Suryono di sela aksi di Blitar.
Kondisi ini membuat banyak peternak kecil mengalami tekanan finansial dan menuntut intervensi pemerintah yang lebih cepat.
Harapan Pemerintah: Harga Stabil dan Peternak Terlindungi
Pemerintah berharap kebijakan penyerapan melalui program MBG dapat menahan penurunan harga lebih dalam. Selain itu, langkah ini juga bertujuan menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat agar tetap bertahan di tengah fluktuasi pasar.
Dengan mekanisme pembelian sesuai HAP, pemerintah ingin menciptakan harga yang lebih adil bagi produsen sekaligus menjaga ketersediaan bahan pangan bergizi bagi masyarakat.
FAQ
1. Apa penyebab utama harga telur anjlok?
Produksi meningkat, permintaan melambat, dan distribusi sempat terganggu saat libur Mei.
2. Berapa harga acuan telur dari pemerintah?
Pemerintah menetapkan HAP di tingkat produsen sebesar Rp 26.500 per kilogram.
3. Apa langkah pemerintah untuk menstabilkan harga?
Pemerintah mendorong penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
4. Daerah mana yang paling terdampak?
Sentra peternakan seperti Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek mengalami tekanan harga paling besar.(Tim)









