Nilai Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, bergerak di bawah tekanan dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar Amerika Serikat. Pelaku pasar menilai tekanan ini muncul dari kombinasi faktor global yang belum stabil serta sentimen domestik yang ikut memperkuat arus keluar modal.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Senin (18/5/2026), rupiah turun 1,12 persen dan parkir di level Rp17.655 per dolar AS. Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia yang ikut terseret arus penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Tekanan Global Dorong Dolar Menguat

Investor global kembali masuk ke aset aman (safe haven) setelah pasar menghadapi sentimen risk-off yang cukup kuat. Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama karena pasar khawatir inflasi global kembali naik.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati dinamika geopolitik internasional yang belum menunjukkan kepastian. Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat dan Presiden China belum menghasilkan kesepakatan konkret, sehingga investor menahan diri untuk masuk ke aset berisiko.

Situasi ini membuat dolar AS menguat dan menekan mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Mata Uang Asia Bergerak Campuran

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang menunjukkan pola yang tidak seragam. Beberapa mata uang melemah mengikuti tekanan dolar, seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, dan rupee India. Yen Jepang, dolar Hong Kong, serta dolar Taiwan juga ikut tertekan.

Baca Juga :  Amerika Panen di Tengah Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor Tertinggi

Namun beberapa mata uang justru berhasil mencatat penguatan. Yuan China, dolar Singapura, won Korea, dan baht Thailand menunjukkan pergerakan positif meskipun terbatas. Kondisi ini menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati dan belum menemukan arah yang solid.

Faktor Domestik Tambah Tekanan Rupiah

Selain faktor global, pasar juga merespons sejumlah sentimen domestik. Pelaku pasar menilai pernyataan politik dan kebijakan fiskal terbaru belum cukup memberi sinyal stabilitas jangka pendek bagi rupiah.

Di sisi lain, Bank Indonesia tetap mempertahankan pandangan bahwa rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. BI menilai keseimbangan nilai tukar ideal berada di sekitar Rp16.500, sesuai asumsi makro APBN.

BI juga menjelaskan bahwa tekanan rupiah biasanya meningkat pada periode April hingga Juni karena tingginya permintaan dolar. Namun bank sentral memperkirakan peluang penguatan bisa muncul pada paruh kedua tahun ini, terutama pada Juli dan Agustus.

Dampak Positif di Tengah Pelemahan Rupiah

Meski pelemahan rupiah menekan pasar finansial, sejumlah sektor justru dapat merasakan dampak positif:

1. Ekspor meningkat daya saing

Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar global sehingga eksportir berpeluang meningkatkan volume penjualan.

Baca Juga :  Mayoritas Negara Mulai Ramadan 19 Februari

2. Pariwisata lebih menarik bagi wisatawan asing

Nilai tukar yang melemah membuat biaya liburan ke Indonesia lebih murah bagi turis mancanegara.

3. Pendapatan pelaku ekspor naik dalam rupiah

Perusahaan berbasis ekspor, seperti komoditas dan manufaktur tertentu, dapat memperoleh pendapatan lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

4. Dorongan pada sektor komoditas

Harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar memberi keuntungan tambahan bagi pelaku usaha domestik di sektor energi dan pertambangan.

Prospek Rupiah ke Depan

Pelaku pasar masih memantau arah kebijakan The Fed, perkembangan harga minyak, serta stabilitas geopolitik global. Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpotensi kembali stabil.

Namun jika ketidakpastian meningkat, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek.

FAQ

1. Kenapa rupiah melemah hari ini?

Rupiah tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan sentimen geopolitik global.

2. Apakah rupiah masih bisa menguat?

Bank Indonesia melihat peluang penguatan pada semester kedua 2026, tergantung kondisi global.

3. Siapa yang paling terdampak pelemahan rupiah?

Importir dan sektor yang bergantung pada bahan baku impor merasakan tekanan paling besar.

4. Apakah pelemahan rupiah selalu buruk?

Tidak selalu. Sektor ekspor dan pariwisata justru bisa mendapatkan keuntungan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Harga BBM Pertamina 19 Mei 2026 Bergerak di Berbagai Daerah, Ini Dampaknya ke Konsumen
IHSG Hari Ini 19 Mei 2026 Bergerak Terbatas, Investor Fokus ke Saham Komoditas di Tengah Tekanan Global
Harga Emas Antam 19 Mei 2026 Stabil, Selisih dengan Pegadaian Jadi Sorotan Investor
Bengkulu Dorong Ekonomi Berbasis Data dan Kolaborasi Usaha
Bill Gates Lepas Saham Microsoft: Pergeseran Strategi dari Kepemilikan ke Dampak Global Filantropi
Seleksi Dewas Tirta Khayangan, Tiga Kandidat Lolos UKK
Gebu Minang Padang Dorong Ekonomi Warga, CFD Jadi Penggerak Omzet UMKM Naik
Harga BBM 18 Mei 2026 di Jambi Stabil: Subsidi, Non-Subsidi Ikuti Tren Global
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:00 WIB

Nilai Rupiah Melemah, Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Pertamina 19 Mei 2026 Bergerak di Berbagai Daerah, Ini Dampaknya ke Konsumen

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Antam 19 Mei 2026 Stabil, Selisih dengan Pegadaian Jadi Sorotan Investor

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:00 WIB

Bengkulu Dorong Ekonomi Berbasis Data dan Kolaborasi Usaha

Senin, 18 Mei 2026 - 18:00 WIB

Bill Gates Lepas Saham Microsoft: Pergeseran Strategi dari Kepemilikan ke Dampak Global Filantropi

Berita Terbaru