Honor Tumbuh Pesat di Pasar Global, Saat Xiaomi dan Oppo Hadapi Tantangan

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pasar smartphone global memasuki 2026 dengan kondisi yang tidak terlalu menggembirakan. Pertumbuhan pengiriman perangkat hanya naik tipis, sementara sejumlah analis justru mencatat tekanan penurunan di beberapa laporan lain. Di tengah situasi itu, satu nama mencuri perhatian karena tumbuh paling cepat: Honor.

Data riset Omdia menunjukkan pengapalan smartphone global pada kuartal I-2026 mencapai 298,5 juta unit, hanya naik sekitar 1% secara tahunan. Angka ini jauh lebih rendah dibanding kondisi normal industri pada tahun-tahun sebelumnya. Faktor utama perlambatan datang dari kelangkaan komponen memori seperti DRAM dan NAND, serta pelemahan daya beli akibat inflasi global.

Honor Muncul sebagai Pemenang Tak Terduga

Di saat banyak merek besar menghadapi tekanan, Honor justru mencatat pertumbuhan agresif. Perusahaan ini berhasil mengirimkan sekitar 19,2 juta unit smartphone dan masuk jajaran vendor dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Lonjakan penjualan Honor terjadi terutama di pasar internasional. Kawasan Timur Tengah dan Afrika menjadi motor utama pertumbuhan karena pengiriman perangkat di wilayah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, di pasar domestik China, Honor menghadapi persaingan ketat dari pemain lokal lain sehingga pertumbuhannya tidak sekuat pasar luar negeri.

Perjalanan Honor dari Sub-Brand ke Perusahaan Mandiri

Honor awalnya lahir pada 2013 sebagai sub-brand dari Huawei. Strategi awalnya sederhana: menyasar anak muda dengan smartphone berspesifikasi tinggi namun berharga lebih terjangkau, sekaligus fokus pada penjualan online.

Baca Juga :  PSV Kokoh di Puncak, Twente vs Ajax Berebut Zona Eropa

Sejak 2014, Honor mulai menembus pasar global secara bertahap. Namun, titik balik besar terjadi pada 2019 ketika pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi dagang terhadap Huawei. Dampaknya, Honor ikut terdampak pembatasan akses teknologi penting seperti layanan Google dan komponen asal Amerika Serikat.

Untuk menjaga kelangsungan bisnis, Huawei akhirnya melepas kepemilikan Honor pada November 2020 kepada konsorsium perusahaan China. Sejak saat itu, Honor berdiri sebagai perusahaan independen tanpa keterkaitan bisnis langsung dengan Huawei.

Kebangkitan Setelah Lepas dari Huawei

Setelah menjadi perusahaan mandiri, Honor kembali membangun ekosistem produknya. Salah satu langkah penting terjadi pada 2021 ketika mereka meluncurkan seri Honor 50 yang sudah kembali mendukung layanan Google Mobile Services.

Langkah ini membuka jalan bagi Honor untuk masuk kembali ke pasar global secara agresif. Mereka memperluas distribusi ke Eropa, Asia Pasifik, hingga Amerika Latin. Dengan akses kembali ke ekosistem Android penuh, Honor mampu bersaing lebih leluasa di pasar internasional.

Samsung dan Apple Tetap Kuasai Pasar

Meski Honor mencuri perhatian, dua raksasa teknologi masih mempertahankan posisi puncak. Samsung mencatat pengiriman sekitar 65,4 juta unit dengan pangsa pasar 22% dan pertumbuhan 8% secara tahunan.

Baca Juga :  Bank Indonesia Buka Rekrutmen, Banyak Posisi Strategis hingga IT

Sementara itu, Apple berada di posisi kedua dengan 60,4 juta unit dan pangsa pasar 20%. Perusahaan asal Amerika Serikat itu juga mencatat pertumbuhan 10%, didorong kuat oleh penjualan seri iPhone terbaru.

Vendor China Lain Justru Tertekan

Di sisi lain, sejumlah merek besar asal China justru mengalami penurunan kinerja. Xiaomi berada di posisi ketiga dengan 33,8 juta unit, tetapi mencatat penurunan sekitar 19% secara tahunan.

Oppo mengirimkan 30,7 juta unit dengan penurunan 6%, sedangkan Vivo mencatat 21,3 juta unit dengan penurunan 7%.

Kondisi ini menunjukkan persaingan di pasar smartphone semakin ketat, terutama di segmen menengah yang menjadi area utama perang harga.

Tantangan Industri Masih Berat

Para analis menilai ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan masih berpotensi menekan industri smartphone pada kuartal berikutnya. Risiko koreksi pasar masih terbuka jika daya beli global belum pulih.

Meski begitu, performa Honor memberi sinyal bahwa strategi ekspansi global dan fleksibilitas ekosistem teknologi bisa menjadi kunci bertahan di tengah pasar yang melambat. Industri smartphone kini memasuki fase kompetisi yang lebih selektif, di mana hanya pemain dengan strategi kuat yang mampu tumbuh signifikan.

Berita Terkait

Mahasiswa UNJA Desak Percepatan Jalan Dua Jalur Mendalo
Pemerintah Buka Rekrutmen TEP, Ribuan Lulusan D4/S1 Dikirim ke 53 Wilayah Transmigrasi
Grab Buka Suara soal Potongan Ojol 8%, Driver Bisa Kantongi 92% Tarif
Indonesia Setop Impor Solar, Produksi Dalam Negeri Kini 100 Persen
VinFast Rilis 3 Motor Listrik di Indonesia Juni 2026, Jarak Tempuh Tembus 100 Km
Kode Redeem FC Mobile 22 April 2026: Klaim Gems dan Item Pack Gratis Hari Ini!
Kode Redeem Genshin Impact 19 April 2026, Klaim Primogems Gratis
Jalani Sidang Perdana Kasus Bollard, Fahruddin: PUPR Setuju Pembongkaran
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:00 WIB

Honor Tumbuh Pesat di Pasar Global, Saat Xiaomi dan Oppo Hadapi Tantangan

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:11 WIB

Mahasiswa UNJA Desak Percepatan Jalan Dua Jalur Mendalo

Selasa, 5 Mei 2026 - 19:00 WIB

Pemerintah Buka Rekrutmen TEP, Ribuan Lulusan D4/S1 Dikirim ke 53 Wilayah Transmigrasi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 04:30 WIB

Grab Buka Suara soal Potongan Ojol 8%, Driver Bisa Kantongi 92% Tarif

Kamis, 30 April 2026 - 08:00 WIB

Indonesia Setop Impor Solar, Produksi Dalam Negeri Kini 100 Persen

Berita Terbaru