Indonesia Setop Impor Solar, Produksi Dalam Negeri Kini 100 Persen

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar solar. Pemerintah menegaskan seluruh kebutuhan solar nasional kini terpenuhi dari produksi dalam negeri setelah Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan mulai beroperasi penuh sejak Januari 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan informasi tersebut berdasarkan laporan operasional dari Pertamina Patra Niaga. Ia menegaskan kilang dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional sekaligus mencatatkan surplus produksi.

“Pertamina sudah tidak lagi mengimpor solar. Produksi dalam negeri sudah mencukupi bahkan berlebih setelah RDMP Balikpapan berjalan,” ujar Eniya di Yogyakarta, Senin (27/4/2026).

RDMP Balikpapan Dorong Kemandirian Energi

Pemerintah mendorong RDMP Balikpapan sebagai proyek strategis untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak nasional. Kilang tersebut mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar dengan kualitas lebih tinggi dan volume produksi yang lebih besar.

Dengan peningkatan kapasitas itu, Indonesia mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Pemerintah juga memperkuat posisi Indonesia dalam ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini Stabil, Rp2,9 Juta per Gram

Eniya menjelaskan Pertamina Patra Niaga telah memastikan distribusi solar berasal dari produksi domestik. Ia menegaskan tidak ada lagi pasokan impor yang masuk dalam rantai distribusi nasional.

Dorongan Penggunaan Biodiesel B50

Selain menghentikan impor solar, pemerintah mempercepat implementasi bahan bakar nabati melalui campuran biodiesel B50. Kebijakan ini menargetkan penggunaan campuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dengan solar murni.

Eniya menyebut kualitas FAME terus meningkat sehingga mampu menekan kadar sulfur dan emisi gas buang kendaraan. Ia menilai peningkatan spesifikasi tersebut mendukung agenda energi bersih nasional.

“Spesifikasi FAME terus naik. Emisi turun, sulfur juga berkurang,” kata dia.

Pemerintah menargetkan implementasi B50 mulai berjalan pada Juli 2026 di berbagai sektor, termasuk transportasi dan industri berat. Uji coba juga sudah berlangsung di sejumlah sektor, seperti alat berat pertambangan dan kereta api.

Baca Juga :  Sekda Sumbar Lantik 32 Pejabat, Tekankan Integritas dan Kinerja

100 Persen Energi Lokal untuk Ketahanan Nasional

Pemerintah menegaskan kombinasi solar produksi domestik dan FAME dari minyak sawit menciptakan rantai pasok energi yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri. Kondisi ini memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan kebutuhan impor energi fosil.

Eniya menyampaikan bahwa kebijakan ini menjadi respons terhadap kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik. Ia menilai penggunaan biodiesel memberikan keuntungan ekonomi karena biaya produksi lebih rendah dibandingkan solar impor.

“FAME dan solar kini sama-sama produksi lokal. Biayanya lebih kompetitif dibandingkan harga minyak dunia,” ujarnya.

Langkah Strategis Hadapi Gejolak Energi Global

Pemerintah memandang penguatan energi domestik sebagai langkah strategis menghadapi ketidakpastian global. Dengan meningkatnya produksi kilang dan pengembangan biodiesel, Indonesia memperkuat posisi sebagai negara dengan kemandirian energi yang lebih besar.

Ke depan, pemerintah mendorong peningkatan kualitas bahan bakar nabati dan efisiensi kilang untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Gaji ke-13 ASN Sungai Penuh Belum Cair, Pegawai Soroti Perbedaan dengan Kerinci
Modal Rp1 Juta Sudah Bisa Jadi Investor, Bank Sampoerna Buka Jalan Investasi Digital untuk Generasi Muda
Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini 15 Juni 2026: Antam Rp2,82 Juta, UBS dan Galeri 24 Kompak Stabil
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 12 Juni 2026, Cek Daftar Lengkap dari 0,5 Gram hingga 100 Gram
Harga Emas Perhiasan 8 Juni 2026 Stabil di Semua Kadar, Cek Daftarnya Hari Ini
Ahli Waris Datangi BPN Sungai Penuh, Pertanyakan Dugaan Selisih Luas Tanah di Koto Tinggi
Merek China Ubah Arah Strategi EV, Hybrid dan PHEV Kini Jadi Senjata Baru di Pasar Indonesia
BBM Bergerak Lagi! Harga Pertamina, Shell hingga BP Revisi Serempak, Diesel Sentuh Rp30 Ribu di SPBU
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:00 WIB

Gaji ke-13 ASN Sungai Penuh Belum Cair, Pegawai Soroti Perbedaan dengan Kerinci

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:00 WIB

Modal Rp1 Juta Sudah Bisa Jadi Investor, Bank Sampoerna Buka Jalan Investasi Digital untuk Generasi Muda

Senin, 15 Juni 2026 - 09:00 WIB

Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini 15 Juni 2026: Antam Rp2,82 Juta, UBS dan Galeri 24 Kompak Stabil

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 12 Juni 2026, Cek Daftar Lengkap dari 0,5 Gram hingga 100 Gram

Senin, 8 Juni 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Perhiasan 8 Juni 2026 Stabil di Semua Kadar, Cek Daftarnya Hari Ini

Berita Terbaru