Pemerintah Hapus Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik, Industri Dapat Relaksasi 6 Bulan

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 23:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah memutuskan menghapus bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) dan sejumlah bahan baku plastik. Kebijakan ini berlaku selama enam bulan mulai Mei 2026 untuk menjaga stabilitas pasokan industri dan menahan kenaikan harga produk kemasan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keputusan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026). Ia menegaskan pemerintah menyesuaikan kebijakan impor karena tekanan geopolitik global mengganggu rantai pasok bahan baku industri.

Bea masuk LPG turun dari 5 persen menjadi 0 persen

Airlangga menjelaskan pemerintah menurunkan tarif bea masuk impor LPG dari 5 persen menjadi 0 persen. Langkah ini memberi ruang bagi industri kilang untuk mengganti bahan baku dari nafta ke LPG.

“Refinery membutuhkan alternatif bahan baku. Dengan kebijakan ini, LPG bisa masuk tanpa bea masuk sehingga industri lebih fleksibel,” ujar Airlangga.

Ia menambahkan, kebijakan ini mendukung kebutuhan industri petrokimia yang berhubungan langsung dengan produksi plastik di dalam negeri.

Baca Juga :  Iran Hentikan Ekspor Bahan Baku Plastik dan Pupuk

Bahan baku plastik ikut dibebaskan dari bea masuk

Pemerintah juga menetapkan bea masuk 0 persen untuk sejumlah bahan baku plastik utama. Komoditas tersebut meliputi polypropylene (PP), polyethylene (PE), linear low-density polyethylene (LLDPE), dan high-density polyethylene (HDPE).

Airlangga menyebut pemerintah mengambil langkah ini untuk menjaga biaya produksi kemasan agar tidak melonjak dan menekan inflasi pada sektor pangan serta minuman.

“Kami ingin mencegah kenaikan harga kemasan yang langsung berdampak ke harga makanan dan minuman,” kata dia.

Harga plastik naik tajam hingga 100 persen

Airlangga mengungkapkan harga bahan baku plastik global mengalami kenaikan signifikan. Ia menyebut kenaikan mencapai 50 hingga 100 persen dalam beberapa waktu terakhir.

Lonjakan harga itu menekan industri pengguna plastik, terutama sektor makanan, minuman, dan kemasan ritel. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengambil kebijakan fiskal sementara untuk menjaga daya saing industri dalam negeri.

Baca Juga :  LNG Baru Harus Tekan Harga Gas Industri

Berlaku sementara, pemerintah evaluasi setelah enam bulan

Pemerintah menetapkan kebijakan ini hanya berlaku selama enam bulan sejak Mei 2026. Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian akan mengatur implementasinya melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin).

Airlangga menegaskan pemerintah akan mengevaluasi dampak kebijakan setelah masa berlaku berakhir.

“Kami akan melihat kondisi setelah enam bulan. Banyak negara juga melakukan langkah serupa, termasuk India,” ujarnya.

Dorong stabilitas industri dan harga konsumen

Pemerintah menilai kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas rantai pasok industri petrokimia. Selain itu, pemerintah ingin mencegah kenaikan harga produk kemasan yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Dengan pembebasan bea masuk ini, pemerintah berharap industri bisa beradaptasi lebih cepat terhadap kondisi pasar global dan tetap menjaga harga produk tetap kompetitif di dalam negeri.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Petani Dharmasraya Bidik Pasar MBG, Bupati Annisa Salurkan 12,3 Ton Benih Jagung
Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

Dari MoU hingga Bantuan Pupuk, Azhar Hamzah Dorong Kemajuan Petani

Sabtu, 31 Okt 2026 - 14:35 WIB