JAKARTA – Pemerintah mendorong pasar modal bergerak lebih agresif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) mempercepat pipeline perusahaan yang akan melantai di bursa melalui skema Initial Public Offering (IPO).
Permintaan ini muncul karena realisasi IPO sepanjang awal 2026 masih sangat minim. Hingga April, BEI baru mencatat satu emiten baru yang berhasil masuk bursa. Perusahaan tersebut menghimpun dana sekitar Rp300 miliar.
IPO Lesu di Tengah Ketidakpastian
Airlangga menilai kondisi global yang penuh ketidakpastian ikut menahan laju IPO. Banyak perusahaan memilih menunda aksi korporasi mereka. Situasi ini membuat pipeline IPO belum terealisasi optimal.
Ia menegaskan pasar modal memiliki peran penting dalam mendukung pembiayaan ekonomi. Karena itu, pemerintah ingin BEI mempercepat realisasi perusahaan yang sudah masuk antrean.
“Pasar modal berfungsi menarik dana, terutama melalui IPO. Saat ini pipeline masih ada, tetapi belum muncul ke publik. Kita harus kejar ke depan,” ujar Airlangga.
Kebutuhan Pembiayaan Terus Naik
Airlangga memaparkan kebutuhan pembiayaan nasional terus meningkat. Pada 2026, Indonesia memerlukan dana sekitar Rp7.400 triliun. Angka ini bahkan diproyeksi naik menjadi Rp9.200 triliun pada 2029.
Menurutnya, sektor swasta dan masyarakat akan menjadi motor utama pembiayaan tersebut. Sektor keuangan, termasuk pasar modal, harus mengambil peran strategis.
Tanpa dukungan pasar modal yang kuat, kebutuhan dana besar ini sulit terpenuhi. Karena itu, peningkatan jumlah emiten baru menjadi langkah penting.
Investasi Riil Tetap Tumbuh
Di sisi lain, Airlangga menyebut investasi sektor riil masih menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi mencapai Rp498,79 triliun. Angka ini tumbuh 7,22% dibanding periode sebelumnya.
Pertumbuhan ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Sepanjang kuartal pertama 2026, investasi berhasil membuka lapangan kerja bagi sekitar 706 ribu orang.
Capaian ini menunjukkan fondasi ekonomi tetap kuat. Namun, pemerintah tetap membutuhkan dukungan pembiayaan yang lebih luas untuk menjaga momentum pertumbuhan.
16 Perusahaan Masuk Antrean IPO
Data BEI menunjukkan ada 16 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham hingga 17 April 2026. Meski jumlahnya cukup banyak, realisasi IPO masih tertahan.
Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Airlangga berharap BEI mampu mendorong perusahaan-perusahaan tersebut segera melantai di bursa.
Ia juga mengingatkan bahwa pasar modal bukan sekadar tempat transaksi saham. Pasar modal berfungsi sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.
Dorongan Percepatan dari Pemerintah
Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi dan iklim investasi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pelaku usaha untuk melakukan IPO.
Selain itu, koordinasi antara regulator, otoritas keuangan, dan pelaku pasar akan terus diperkuat. Tujuannya agar proses IPO berjalan lebih cepat dan efisien.
Dengan dorongan ini, pemerintah berharap jumlah emiten baru bisa meningkat signifikan pada paruh kedua 2026. Jika pipeline berhasil terealisasi, pasar modal Indonesia dapat memainkan peran lebih besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora








