10 Saham Multibagger Terbesar di Indonesia Sejak 1945, Ini Daftar Lengkapnya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 28 April 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pasar modal Indonesia menempuh perjalanan panjang sejak masa kolonial hingga menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) modern seperti sekarang. Di tengah naik turun sejarahnya, sejumlah saham berhasil mencatatkan kenaikan harga berlipat atau dikenal sebagai multibagger. CNBC Indonesia Research mencatat sedikitnya 10 saham yang masuk kategori tersebut sejak era awal bursa hingga kini.

Awal Pasar Modal Indonesia

Aktivitas pasar modal di Indonesia mulai muncul pada akhir abad ke-19 di Batavia. Investor Eropa, terutama Belanda, mendominasi perdagangan saham dan obligasi perusahaan perkebunan. Bursa efek pertama kemudian terbentuk pada awal abad ke-20.

Namun, aktivitas ini belum stabil. Perang dunia, krisis global, dan perubahan politik membuat bursa beberapa kali berhenti beroperasi. Perang Dunia I pada 1914–1918 menghentikan perdagangan, lalu bursa sempat dibuka kembali pada 1925 dengan tambahan cabang di Surabaya dan Semarang.

Gangguan Perang dan Krisis Ekonomi

Krisis ekonomi 1929 dan Perang Dunia II kembali memukul pasar modal. Bursa efek di Indonesia akhirnya tutup pada 10 Mei 1940. Setelah itu, aktivitas pasar nyaris berhenti total hingga masa awal kemerdekaan.

Baca Juga :  Rupiah Rebound! Dolar AS Tergelincir ke Rp17.125 di Awal Perdagangan

Kebangkitan Era Kemerdekaan

Pemerintah Indonesia membuka kembali Bursa Efek Jakarta pada 3 Juni 1952 di era Presiden Soekarno. Bursa ini awalnya hanya memperdagangkan obligasi pemerintah. Namun, kondisi ekonomi yang belum stabil, nasionalisasi perusahaan asing pada 1958, serta kebijakan politik membuat aktivitas bursa kembali melemah hingga akhirnya berhenti lagi pada 1956–1977.

Orde Baru: Deregulasi dan Ledakan IPO

Pasar modal kembali aktif pada 10 Agustus 1977 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. PT Semen Cibinong menjadi emiten pertama setelah reaktivasi bursa.

Perubahan besar terjadi setelah pemerintah meluncurkan berbagai paket deregulasi, seperti PAKDES 87 dan PAKDES 88. Kebijakan ini mendorong perusahaan untuk melantai di bursa dan membuka akses investor asing.

Pada awal 1990-an, jumlah IPO melonjak tajam hingga ratusan perusahaan. Bursa juga mulai bertransformasi dengan sistem otomatisasi perdagangan, pembentukan lembaga kliring, serta penguatan regulasi pasar modal.

Reformasi dan Modernisasi BEI

Era reformasi membawa perubahan besar dalam sistem pasar modal Indonesia. Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya resmi bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia pada 30 November 2007.

Baca Juga :  Asing Lepas Saham, IHSG Guncang!

BEI kemudian memperkenalkan berbagai inovasi, mulai dari perdagangan tanpa warkat, sistem perdagangan elektronik, hingga integrasi data pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdiri pada 2012 untuk memperkuat pengawasan industri keuangan.

Program edukasi investor juga semakin masif melalui kampanye “Yuk Nabung Saham”. BEI terus memperluas akses pasar dengan berbagai instrumen baru seperti derivatif saham dan sistem perdagangan yang lebih modern.

Saham Multibagger Sepanjang Sejarah

Di tengah perjalanan panjang tersebut, sejumlah saham berhasil mencatatkan kenaikan harga luar biasa hingga berkali lipat dari harga awalnya. CNBC Indonesia mencatat setidaknya 10 saham yang masuk kategori multibagger di Bursa Efek Indonesia.

Kenaikan ini terjadi karena kombinasi pertumbuhan bisnis yang kuat, valuasi awal yang murah, serta dukungan tren industri. Sektor seperti konsumsi, perbankan, energi, hingga teknologi menjadi penyumbang utama saham-saham dengan lonjakan harga signifikan.

Fenomena multibagger menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia terus berkembang dan mampu melahirkan emiten dengan pertumbuhan besar, seiring meningkatnya literasi dan partisipasi investor di Tanah Air.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Hutama Karya Tancap Gas! Laba Rp464 M Lampaui Target 172% di Awal 2026
TLDN Ngebut 2026: Produksi CPO Digenjot, Akuisisi Jadi Senjata Baru
MINE Tebar Dividen Rp60,23 Miliar di Tengah Laba Turun dan Saham Tertekan Usai IPO
BI Tahan BI Rate 4,75% April 2026, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Inflasi
BEI Ungkap Aturan Baru HSC Saham, Dorong Transparansi dan Struktur Kepemilikan Lebih Sehat
UNTR Tebar Dividen Rp1.096 per Saham, Catat Jadwal Cum Date hingga Pembayaran
IHSG Menguat Tipis Hari Ini, Investor Fokus Sentimen Global dan Arah Suku Bunga
BI Rate Diprediksi Bertahan, Ini Daftar Saham Bank yang Layak Diborong
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 11:00 WIB

10 Saham Multibagger Terbesar di Indonesia Sejak 1945, Ini Daftar Lengkapnya

Senin, 27 April 2026 - 20:00 WIB

Hutama Karya Tancap Gas! Laba Rp464 M Lampaui Target 172% di Awal 2026

Sabtu, 25 April 2026 - 09:00 WIB

TLDN Ngebut 2026: Produksi CPO Digenjot, Akuisisi Jadi Senjata Baru

Sabtu, 25 April 2026 - 05:00 WIB

MINE Tebar Dividen Rp60,23 Miliar di Tengah Laba Turun dan Saham Tertekan Usai IPO

Jumat, 24 April 2026 - 19:00 WIB

BI Tahan BI Rate 4,75% April 2026, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Inflasi

Berita Terbaru

Padang

Ribuan KTP Hilang Tiap Bulan, Warga Diminta Lebih Waspada

Selasa, 28 Apr 2026 - 12:00 WIB