Pentagon Incar Tanah Jarang Malaysia, Tantang Dominasi China di Pasar Global

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 29 April 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Amerika Serikat (AS) melalui Pentagon memperluas strategi pengamanan pasokan mineral penting dengan membidik Malaysia sebagai salah satu pusat produksi tanah jarang berat. Langkah ini muncul di tengah upaya Washington mengurangi ketergantungan global terhadap China yang selama ini menguasai rantai pasok mineral strategis tersebut.

Lynas Jadi Kunci Pasokan Non-China

Perhatian Pentagon mengarah ke perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths, yang sudah lama beroperasi di Kuantan, Malaysia. Perusahaan ini mulai memproduksi logam tanah jarang berat yang sebelumnya hampir sepenuhnya dikuasai China dalam proses pemurnian.

CEO Lynas, Amanda Lacaze, menegaskan bahwa dunia belum mampu memisahkan logam tanah jarang berat di luar China selama dua dekade terakhir. Kondisi itu membuat posisi Beijing sangat dominan dalam industri strategis global.

Ketegangan Global Picu Kekhawatiran Pasokan

Ketergantungan dunia pada China menimbulkan risiko besar. Saat Beijing menghentikan ekspor beberapa unsur tanah jarang di tengah tensi dagang tahun lalu, industri otomotif di Amerika Serikat dan Eropa langsung mengalami gangguan produksi.

Situasi itu mendorong Pentagon bergerak cepat untuk mengamankan pasokan jangka panjang, terutama untuk kebutuhan militer dan industri teknologi tinggi.

Baca Juga :  Durasi Puasa Ramadan Berbeda di Setiap Negara, Ini Penyebabnya 

Kontrak Ratusan Juta Dolar AS

Pentagon kemudian menyepakati kontrak awal senilai sekitar 96 juta dolar AS dengan Lynas pada Maret 2026. Kesepakatan ini bertujuan memastikan pasokan mineral strategis tetap mengalir ke Amerika Serikat tanpa bergantung pada China.

Selain Lynas, perusahaan asal AS MP Materials juga mengembangkan fasilitas pemurnian tanah jarang di Nevada. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat untuk memperkuat rantai pasok domestik.

Samarium hingga Disprosium Jadi Andalan

Lynas mencatat kemajuan penting dengan memproduksi samarium oksida, salah satu elemen penting dalam industri pertahanan. Material ini digunakan untuk magnet tahan panas pada mesin jet tempur dan sistem rudal.

Selain itu, unsur seperti terbium dan disprosium juga memiliki nilai tinggi. Kedua material ini mendukung performa magnet pada suhu ekstrem, terutama untuk pesawat dan kendaraan militer modern.

Tantangan Besar di Proses Pemurnian

Meski penambangan tanah jarang terjadi di banyak negara, proses pemurnian tetap menjadi tantangan utama. Proses ini membutuhkan ratusan tahap kimia yang melibatkan penggunaan asam industri dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Mahyeldi Imbau Warga Tak Panik soal Isu Kenaikan BBM, Distribusi Masih Aman

Lynas sebelumnya hanya mengolah tanah jarang ringan di Malaysia, sementara pemurnian unsur berat masih dilakukan di China. Namun, fasilitas baru di Kuantan kini memungkinkan perusahaan melakukan pemrosesan penuh secara mandiri.

Persaingan Global Semakin Ketat

Amerika Serikat juga memperluas kerja sama di kawasan lain, termasuk Amerika Selatan. Pemerintah AS memberikan dukungan finansial besar untuk proyek tambang di Brasil dan mendorong investasi di sektor mineral kritis.

Di sisi lain, pemerintah AS menetapkan tenggat waktu hingga 2027 untuk memastikan rantai pasok magnet bebas dari bahan asal China, terutama untuk kebutuhan pertahanan.

Momentum Masih Awal

Para ahli menilai upaya kemandirian tanah jarang masih berada pada tahap awal. Meski investasi dan proyek baru terus bermunculan, industri ini membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar lepas dari dominasi China.

Upaya Pentagon di Malaysia menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun rantai pasok mineral strategis yang lebih aman, stabil, dan tidak bergantung pada satu negara.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat
Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta
Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles
Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028
Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Jay Idzes Dukung Ismael Kone, Pesan Haru Kapten Timnas Indonesia Usai Cedera Horor Piala Dunia 2026
Mimpi Kuliah Gratis ke Rusia Bisa Jadi Nyata, 300 Beasiswa Dibuka untuk Pelajar Indonesia
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:34 WIB

Bukan Sekadar AC Biasa, Ini Rahasia Masjidil Haram Tetap Sejuk Saat Suhu Makkah Menyengat

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:00 WIB

Beasiswa TAMBA SAMBA 2027 Resmi Dibuka, Profesional Indonesia Bisa Raih Kuliah MBA Gratis di AS Plus Tunjangan Rp44 Juta

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:47 WIB

Istana Buckingham Cari Videografer, Gaji Tembus Rp1 Miliar Setahun dan Bisa Ikut Agenda Raja Charles

Selasa, 30 Juni 2026 - 19:00 WIB

Ubah Haluan, Vietnam Tunda Larangan Motor Bensin, Transisi Berlanjut hingga 2028

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:00 WIB

Norwegia Batasi AI di Sekolah Dasar, Fokus Kembali ke Belajar Dasar

Berita Terbaru