Bisnis Pepaya Melejit! Nilai Global Diproyeksi Tembus Rp 385 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 27 April 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Banyak orang masih memandang pepaya sebagai buah biasa. Padahal, industri pepaya global menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar. Nilai pasar pepaya dunia mencapai US$14,2 miliar pada 2024 dan diproyeksikan melonjak hingga US$22,41 miliar atau sekitar Rp385 triliun pada 2033.

Pertumbuhan ini tidak terjadi tanpa alasan. Tren gaya hidup sehat, inovasi produk turunan, serta penguatan rantai pasok mendorong permintaan pepaya di berbagai sektor.

Tak Sekadar Buah, Pepaya Jadi Bahan Industri

Pelaku industri kini tidak hanya menjual pepaya dalam bentuk buah segar. Mereka juga mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti puree, buah kering, hingga ekstrak enzim papain.

Papain memiliki fungsi luas. Industri makanan memanfaatkannya sebagai pelunak daging. Sementara itu, sektor farmasi dan kosmetik menggunakan papain sebagai bahan aktif karena kandungan bioaktifnya.

Diversifikasi ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha. Produk olahan mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat buah yang cepat rusak.

Asia Pasifik Kuasai Produksi Global

Kawasan Asia Pasifik memegang peran penting dalam industri pepaya dunia. Negara-negara di wilayah ini memiliki iklim tropis yang ideal untuk budidaya pepaya sepanjang tahun.

Baca Juga :  Mahyeldi Bongkar Peran Besar Alumni, Ajak Jadi Motor Pendidikan dan Pembangunan Sumbar

Selain menjadi pusat produksi, kawasan ini juga berkembang sebagai pasar konsumsi utama. Di sisi lain, negara maju fokus pada produk premium dengan standar kualitas tinggi.

Perbedaan ini menciptakan pola pasar global yang unik. Asia menjadi basis produksi, sedangkan negara maju menjadi pasar bernilai tinggi.

Hilirisasi Jadi Kunci Keuntungan

Pelaku usaha mulai mengalihkan fokus dari penjualan buah segar ke produk olahan. Strategi ini terbukti meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas pasar.

Pengolahan juga membantu mengatasi masalah utama pepaya, yaitu mudah rusak. Buah yang tidak lolos standar pasar tetap bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

Namun, pelaku usaha tetap menghadapi tantangan. Perubahan iklim dan serangan penyakit tanaman dapat menurunkan produksi. Selain itu, kebutuhan infrastruktur rantai dingin (cold chain) masih membutuhkan investasi besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, banyak perusahaan mulai memanfaatkan teknologi. Mereka menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi panen, mengatur distribusi, dan menjaga kualitas produk.

Tren Keberlanjutan Makin Kuat

Pasar global kini menuntut praktik pertanian yang berkelanjutan. Petani dan pelaku industri mulai menerapkan metode seperti regenerative agriculture, efisiensi penggunaan air, dan sistem pelacakan digital.

Baca Juga :  Harga Sawit Jambi Kembali Turun, Petani Mulai Merasa Tertekan

Konsumen juga semakin peduli terhadap asal produk. Mereka memilih produk yang transparan dan ramah lingkungan.

Kondisi ini membuat daya saing tidak lagi bergantung pada jumlah produksi. Pelaku usaha harus mampu menjaga kualitas, konsistensi, dan keberlanjutan produk.

Indonesia Masuk Produsen Besar Dunia

Indonesia termasuk dalam lima besar produsen pepaya dunia. Produksi nasional mencapai sekitar 1 juta ton per tahun.

Berdasarkan data BPS 2023, produksi pepaya Indonesia bahkan mencapai 1,23 juta ton. Jawa Timur menjadi daerah penghasil terbesar, diikuti Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Petani lokal umumnya menanam pepaya secara tumpangsari. Mereka memanfaatkan lahan campuran untuk meningkatkan hasil pertanian.

Potensi Besar, Tapi Ekspor Masih Terbatas

Permintaan pepaya di dalam negeri masih sangat tinggi. Kondisi ini membuat sebagian besar produksi terserap pasar lokal.

Namun, peluang ekspor masih terbuka lebar. Dengan peningkatan kualitas dan pengolahan produk, Indonesia bisa memperluas pasar ke luar negeri.

Jika pelaku usaha mampu mengoptimalkan hilirisasi dan teknologi, pepaya bisa menjadi komoditas unggulan baru. Nilai ekonominya tidak kalah dari buah tropis lain yang sudah lebih dulu mendunia.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Transformasi Telkom Berbuah Manis, Arus Kas Rp34,9 Triliun dan Laba Terus Menanjak pada Semester I 2026
Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket
Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata
Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat
Bengkulu Siapkan Pabrik Biodiesel, Langkah Awal Menuju Sentra Energi Sawit Nasional Dimulai
Mulai 1 Agustus, Jutaan Seller Shopee, TikTok Shop hingga Marketplace Lain Bakal Nikmati Diskon Biaya Layanan 50 Persen
Emas Pegadaian Mendadak Kompak Menguat Hari Ini 25 Juni 2026, Investor Langsung Bidik Antam, UBS dan Galeri 24
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 08:00 WIB

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:19 WIB

Transformasi Telkom Berbuah Manis, Arus Kas Rp34,9 Triliun dan Laba Terus Menanjak pada Semester I 2026

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:00 WIB

Koperasi Merah Putih di Jakarta Mulai Raup Untung, Ini Strategi Pengurus Menang di Tengah Gempuran Minimarket

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:00 WIB

Biodiesel Sawit Resmi Menggerakkan Lokomotif KAI, Transisi Energi Makin Nyata

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:00 WIB

Bupati Solok Selatan Kawal Pembaruan HGU PT Mitra Kerinci, Tegaskan Investasi Harus Sejalan dengan Kepentingan Masyarakat

Berita Terbaru

Sungai Penuh

Jalur Sungai Penuh–Tapan Kembali Bisa Dilalui, Sistem Buka Tutup

Rabu, 28 Okt 2026 - 23:57 WIB

Oplus_0

Sungai Penuh

Longsor Sako, Jalur Sungai Penuh–Tapan Lumpuh Total

Rabu, 28 Okt 2026 - 22:27 WIB