RI Gandeng Rusia Pasok Minyak dan LPG, Strategi Baru Perkuat Ketahanan Energi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 April 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan Rusia di sektor energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev untuk membahas suplai minyak mentah (crude oil), LPG, hingga pembangunan infrastruktur penyimpanan energi.

Pemerintah mengambil langkah ini saat produksi minyak dalam negeri terus menghadapi tekanan. Kerja sama tersebut diharapkan bisa memperkuat pasokan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber impor tertentu.

Pengamat energi Ridho Hantoro menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis. Ia menyebut tambahan pasokan dari Rusia dapat memperluas pilihan sumber energi bagi Indonesia.

“Tambahan pasokan dari Rusia memperluas opsi dan menurunkan risiko ketergantungan pada satu sumber impor,” kata Ridho, Sabtu (18/4/2026).

Baca Juga :  Benwit dari Sawit Karya ITS, Bensin Nabati Rendah Emisi Siap Tekan Impor BBM

Ia juga menyoroti kebutuhan LPG nasional yang masih bergantung pada impor. Indonesia saat ini mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan LPG. Menurut Ridho, kerja sama ini bisa membantu menekan beban impor tersebut.

Meski begitu, Ridho mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada pasokan dari luar negeri. Ia menilai Indonesia harus tetap memperkuat sektor energi domestik secara paralel.

“Pemerintah perlu meningkatkan produksi dalam negeri, memperbaiki kilang, mendorong efisiensi konsumsi BBM, mengembangkan bioenergi, dan mempercepat elektrifikasi,” ujarnya.

Selain pasokan energi, kedua negara juga membahas pembangunan infrastruktur penyimpanan. Pemerintah ingin meningkatkan kapasitas cadangan operasional agar mampu menjaga ketahanan energi lebih dari 20 hari.

Baca Juga :  B50 Mulai Juli 2026, Pemerintah Tekan Impor BBM dan Emisi

Ridho menilai pembangunan storage sebagai langkah penting. Ia menyebut infrastruktur tersebut bisa memperkuat sistem energi nasional secara jangka panjang.

“Storage menjadi faktor kunci karena memperkuat ketahanan sistem, bukan sekadar menambah volume pasokan,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan implementasi kerja sama berjalan efektif. Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi harga pasokan, kesesuaian minyak dengan kilang, serta efektivitas distribusi LPG.

“Keberhasilan kerja sama ini harus terlihat dari hasil nyata, seperti harga yang kompetitif, distribusi yang lancar, dan kesiapan stok saat krisis,” kata Ridho.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Malaysia Buru Minyak Rusia, Ikuti Indonesia Cs di Tengah Krisis Energi
Uji Coba B50 Tembus 40.000 Km, Mesin Aman dan Emisi Lebih Bersih
Bahlil: Harga LPG 12 Kg Naik Wajar, Hanya untuk Konsumen Mampu
RI Masih Impor 50% Bensin, Pasokan Ternyata dari Asia Tenggara
PLN Diskon 50% Tambah Daya Listrik April 2026, Ini Syarat dan Cara Klaimnya
Kilang China Aman! Minyak Iran Mengalir di Laut Meski AS Blokade Selat Hormuz
Mandatori E10 2028: SPBU Swasta Wajib Gunakan Etanol Lokal, Ini Rencana Pemerintah
Lotte Chemical Minta Bea Masuk LPG Dihapus, Ini Dampaknya bagi Industri
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 16:08 WIB

Malaysia Buru Minyak Rusia, Ikuti Indonesia Cs di Tengah Krisis Energi

Rabu, 22 April 2026 - 08:37 WIB

Uji Coba B50 Tembus 40.000 Km, Mesin Aman dan Emisi Lebih Bersih

Selasa, 21 April 2026 - 17:00 WIB

RI Gandeng Rusia Pasok Minyak dan LPG, Strategi Baru Perkuat Ketahanan Energi

Selasa, 21 April 2026 - 12:00 WIB

Bahlil: Harga LPG 12 Kg Naik Wajar, Hanya untuk Konsumen Mampu

Selasa, 21 April 2026 - 07:00 WIB

RI Masih Impor 50% Bensin, Pasokan Ternyata dari Asia Tenggara

Berita Terbaru