JAKARTA – Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan Rusia di sektor energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev untuk membahas suplai minyak mentah (crude oil), LPG, hingga pembangunan infrastruktur penyimpanan energi.
Pemerintah mengambil langkah ini saat produksi minyak dalam negeri terus menghadapi tekanan. Kerja sama tersebut diharapkan bisa memperkuat pasokan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber impor tertentu.
Pengamat energi Ridho Hantoro menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis. Ia menyebut tambahan pasokan dari Rusia dapat memperluas pilihan sumber energi bagi Indonesia.
“Tambahan pasokan dari Rusia memperluas opsi dan menurunkan risiko ketergantungan pada satu sumber impor,” kata Ridho, Sabtu (18/4/2026).
Ia juga menyoroti kebutuhan LPG nasional yang masih bergantung pada impor. Indonesia saat ini mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan LPG. Menurut Ridho, kerja sama ini bisa membantu menekan beban impor tersebut.
Meski begitu, Ridho mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada pasokan dari luar negeri. Ia menilai Indonesia harus tetap memperkuat sektor energi domestik secara paralel.
“Pemerintah perlu meningkatkan produksi dalam negeri, memperbaiki kilang, mendorong efisiensi konsumsi BBM, mengembangkan bioenergi, dan mempercepat elektrifikasi,” ujarnya.
Selain pasokan energi, kedua negara juga membahas pembangunan infrastruktur penyimpanan. Pemerintah ingin meningkatkan kapasitas cadangan operasional agar mampu menjaga ketahanan energi lebih dari 20 hari.
Ridho menilai pembangunan storage sebagai langkah penting. Ia menyebut infrastruktur tersebut bisa memperkuat sistem energi nasional secara jangka panjang.
“Storage menjadi faktor kunci karena memperkuat ketahanan sistem, bukan sekadar menambah volume pasokan,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan implementasi kerja sama berjalan efektif. Menurutnya, pemerintah perlu mengevaluasi harga pasokan, kesesuaian minyak dengan kilang, serta efektivitas distribusi LPG.
“Keberhasilan kerja sama ini harus terlihat dari hasil nyata, seperti harga yang kompetitif, distribusi yang lancar, dan kesiapan stok saat krisis,” kata Ridho.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









