SPKS Soroti Skema Ekspor Satu Pintu CPO, Harga TBS Sawit Berpotensi Tertekan Imbas Kebijakan DSI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Rencana pemerintah menata ulang tata niaga ekspor minyak sawit mentah (CPO) lewat skema satu pintu kembali memantik perhatian pelaku hulu. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) meminta pemerintah berhati-hati dalam menerapkan kebijakan tersebut agar petani sawit rakyat tidak menjadi pihak yang paling terpukul oleh perubahan sistem perdagangan.

SPKS menilai pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai pengelola ekspor komoditas strategis berpotensi mengubah struktur pasar sawit nasional secara signifikan. Karena itu, organisasi petani tersebut menekankan pentingnya perlindungan terhadap posisi tawar petani di tengah dinamika kebijakan baru ini.

Kekhawatiran Dampak Langsung ke Petani

Kepala Departemen Advokasi SPKS, Marselinus Andri, menegaskan bahwa reformasi tata kelola ekspor sawit tidak boleh berdiri sendiri tanpa pembenahan sektor hulu. Ia menilai kondisi petani masih lemah secara struktural sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan.

“Posisi tawar petani yang lemah, ketergantungan terhadap rantai pasok, rendahnya produktivitas, serta tingginya kerentanan terhadap fluktuasi pasar membuat petani menjadi pihak yang paling rentan terdampak setiap perubahan kebijakan perdagangan sawit nasional,” ungkap Marselinus, Jumat (29/5/2026).

Menurut SPKS, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan ekspor tidak langsung menekan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Harga TBS Tertekan Sejak Kebijakan Diumumkan

SPKS mencatat tekanan harga mulai muncul setelah pemerintah mengumumkan rencana ekspor satu pintu melalui DSI. Organisasi itu menyebut harga TBS di sejumlah daerah turun rata-rata hingga sekitar Rp1.000 per kilogram.

Baca Juga :  China Naikkan Harga BBM di Tengah Gejolak Minyak Global

Marselinus menyebut kondisi harga belum menunjukkan pemulihan berarti hingga saat ini. Ia menilai pasar merespons kebijakan tersebut tanpa adanya instrumen penyangga yang cukup kuat dari pemerintah.

Lebih lanjut, SPKS menilai pemerintah belum menyiapkan langkah mitigasi yang memadai untuk meredam dampak langsung di lapangan. Akibatnya, petani harus menanggung penyesuaian pasar secara langsung.

“Kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI ini belum diikuti dengan strategi mitigasi yang memadai. Faktanya, sejak diumumkan, harga TBS justru turun dan hingga hari ini belum pulih di berbagai daerah. Ini menunjukkan bahwa respons pasar langsung dibebankan kepada petani, sementara pemerintah belum memiliki langkah konkret untuk meredam dampaknya,” katanya.

SPKS Dorong Transparansi Tanpa Monopoli Perdagangan

Di sisi lain, SPKS tidak menolak upaya pemerintah memperbaiki tata kelola ekspor. Namun, organisasi ini menolak pendekatan yang terlalu terpusat karena dinilai berisiko menciptakan distorsi pasar.

SPKS menilai pemerintah masih bisa memperkuat pengawasan ekspor tanpa harus membentuk jalur tunggal perdagangan. Digitalisasi sistem, transparansi transaksi, serta penguatan regulasi dinilai lebih tepat untuk menutup celah praktik seperti under invoicing dan transfer pricing.

Baca Juga :  Solok Selatan Catat Pengangguran Terendah, Investasi Energi Dorong Penyerapan Tenaga Kerja

Selain itu, SPKS mendorong agar pemerintah tetap membuka ruang diversifikasi mekanisme ekspor agar struktur pasar tetap kompetitif dan sehat.

Risiko Monopsoni Mengintai Struktur Harga

SPKS juga mengingatkan potensi munculnya monopsoni jika satu entitas menguasai pembelian CPO. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga TBS di lapangan.

Marselinus menegaskan negara memang perlu memperkuat tata kelola, tetapi tidak boleh mengorbankan keseimbangan pasar.

“Negara boleh memperkuat tata kelola ekspor, tetapi tidak boleh menciptakan struktur pasar yang justru semakin melemahkan posisi tawar petani. Petani sawit tidak boleh menjadi penanggung utama risiko dari kebijakan yang dirancang di tingkat pusat,” tegas Marselinus.

FAQ

1. Apa yang dikhawatirkan SPKS dari kebijakan ekspor satu pintu?

SPKS khawatir kebijakan tersebut menekan harga TBS dan melemahkan posisi petani sawit rakyat.

2. Apa dampak yang sudah terlihat di lapangan?

SPKS mencatat penurunan harga TBS hingga sekitar Rp1.000 per kilogram di beberapa wilayah.

3. Apakah SPKS menolak pembenahan tata kelola ekspor?

Tidak. SPKS mendukung perbaikan tata kelola, tetapi meminta pendekatan yang tidak memusatkan perdagangan.

4. Apa alternatif yang disarankan SPKS?

SPKS mendorong digitalisasi, transparansi, dan penguatan regulasi tanpa sistem monopoli ekspor.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Era Baru Pengawasan Ekspor Dimulai, PT DSI Mulai Kumpulkan Laporan Sawit dan Batu Bara
Cengkeh Solok Jadi Mesin Ekonomi Baru, Pemprov Sumbar Genjot Irigasi dan Jalan Usaha Tani
Harga TBS Sawit Mukomuko Bergejolak, Perusahaan Akhirnya Ikuti Harga Pemprov Bengkulu
Harga Emas Pegadaian Tembus Variasi Tajam Hari Ini 30 Mei 2026, UBS Unggul di Kelas Ritel
Harga Emas Antam Hari Ini 30 Mei 2026 Masih Bertahan, Saat Tepat Menambah Koleksi atau Menunggu Momentum Baru?
Padang Jadi Magnet Investasi Awal 2026, Arus Modal Tembus Rp643 Miliar, Sektor Jasa Mendominasi
Harga TBS Sawit Jambi Tembus Rp3.303 per Kg, Sinyal Pasar Mulai Bergerak di Akhir Mei 2026
Strategi Branding Baru UMKM: Merek Kolektif Dorong Nilai Produk Desa Naik Kelas
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 07:00 WIB

Cengkeh Solok Jadi Mesin Ekonomi Baru, Pemprov Sumbar Genjot Irigasi dan Jalan Usaha Tani

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:00 WIB

Harga TBS Sawit Mukomuko Bergejolak, Perusahaan Akhirnya Ikuti Harga Pemprov Bengkulu

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:00 WIB

SPKS Soroti Skema Ekspor Satu Pintu CPO, Harga TBS Sawit Berpotensi Tertekan Imbas Kebijakan DSI

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Tembus Variasi Tajam Hari Ini 30 Mei 2026, UBS Unggul di Kelas Ritel

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 30 Mei 2026 Masih Bertahan, Saat Tepat Menambah Koleksi atau Menunggu Momentum Baru?

Berita Terbaru

Oplus_0

Internasional

Veda Ega Lolos Drama Lap Akhir, Finis Kedelapan di Moto3 Italia

Minggu, 31 Mei 2026 - 20:00 WIB