Rupiah Tertekan di Rp17,5 Ribuan per Dolar AS, Ini Faktor Pendorong di Balik Pelemahan

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak di tekanan pada perdagangan Kamis, 14 Mei 2026. Mata uang Garuda berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS seiring meningkatnya permintaan dolar di pasar global dan sikap investor yang masih berhati-hati terhadap prospek ekonomi negara berkembang.

Pergerakan ini menempatkan rupiah pada salah satu level terlemah dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga global serta arus modal yang keluar dari pasar keuangan domestik.

Tekanan Global Dorong Dolar Menguat

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan hari itu. Investor global memilih aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi internasional. Kondisi ini mendorong indeks dolar bergerak naik dan memberi tekanan langsung pada rupiah.

Pasar juga merespons ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat. Kebijakan ini membuat imbal hasil aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor global.

Akibatnya, arus modal keluar dari pasar negara berkembang meningkat. Rupiah ikut merasakan dampaknya karena investor mengalihkan dana ke instrumen berdenominasi dolar.

Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.500

Di pasar spot, rupiah bergerak pada rentang Rp17.500 hingga Rp17.530 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan. Pelaku pasar valuta asing mencatat volatilitas masih cukup tinggi sejak awal pekan.

Baca Juga :  INET Tancap Gas ke Bisnis Baru, Bidik Cuan dari Ledakan Kebutuhan Perangkat Telekomunikasi

Sementara itu, kurs acuan yang ditetapkan otoritas fiskal berada di kisaran lebih rendah, sekitar Rp17.300-an per dolar AS. Perbedaan ini muncul karena perbedaan mekanisme penentuan kurs antara pasar spot dan kurs referensi pemerintah.

Bank Indonesia terus memantau pergerakan rupiah melalui sistem transaksi domestik. Otoritas moneter juga menjaga stabilitas nilai tukar dengan intervensi terukur di pasar valuta asing jika diperlukan.

Investor Cermati Kebijakan Bank Indonesia

Pelaku pasar menunggu langkah lanjutan dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral sebelumnya menegaskan komitmen untuk menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global.

Investor juga memperhatikan arah suku bunga acuan domestik. Jika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi, maka rupiah berpotensi mendapat dukungan dari sisi imbal hasil aset.

Namun, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Selama dolar AS tetap kuat, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas.

Sentimen Domestik Ikut Mempengaruhi

Selain faktor global, pelaku pasar juga mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik. Aktivitas impor yang meningkat menambah kebutuhan dolar di pasar dalam negeri.

Baca Juga :  BRI Sabet Best Private Bank Indonesia 2026, Transformasi Wealth Management Tembus Pengakuan Global

Di sisi lain, ekspor yang stabil membantu menjaga pasokan devisa. Namun, ketidakseimbangan jangka pendek tetap menekan pergerakan rupiah.

Pelaku usaha mulai menyesuaikan strategi transaksi valuta asing untuk mengantisipasi volatilitas. Beberapa perusahaan memilih melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi kurs.

Proyeksi Jangka Pendek Masih Fluktuatif

Analis pasar valuta asing memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Mereka melihat rentang perdagangan tetap berada di area Rp17.400 hingga Rp17.600 per dolar AS jika kondisi global tidak berubah signifikan.

Sentimen utama tetap berasal dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat, arus modal global, serta stabilitas ekonomi domestik.

Jika tekanan global mereda dan arus masuk modal kembali menguat, rupiah berpeluang menguat terbatas. Namun jika dolar terus menguat, rupiah berpotensi kembali tertekan.

Kesimpulan

Rupiah pada 14 Mei 2026 menghadapi tekanan dari faktor eksternal dan bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Pasar keuangan masih menunggu arah kebijakan global dan respons kebijakan moneter dalam negeri.

Pelaku pasar kini fokus pada langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter serta perkembangan ekonomi global dalam beberapa pekan ke depan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Rights Issue ELPI Diserbu Investor, Kantongi Rp739 Miliar untuk Tambah Armada dan Perluas Bisnis Maritim
Gen Auto Care Resmi Hadir di Sungai Penuh, Alfin Sebut Usaha Baru Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Warga
Kopi Kerinci Tembus Pasar Pakistan, PT Alko Kantongi Peluang Dagang Rp18 Miliar dan Bidik Ekspor 190 Ton
KPBN Pasang ‘Benteng’ Antisuap, Vendor dan Mitra Bisnis Kini Diajak Terapkan Standar ISO 37001
Kursi Pengawas OJK Terisi Lagi, DPR Percayakan Kusfiardi Kawal Akuntabilitas hingga 2028
BRI dan Visa Buka Kartu Eksklusif Baru, Intip Deretan Keuntungan Premium untuk Nasabah Prioritas
Utang Pinjol Tembus Rp102 Triliun, Sinyal Bahaya Gagal Bayar Mulai Mengintai Warga RI
Bank Mulai Serahkan Layanan ke AI, OJK Sebut Hampir 40 Persen Interaksi Nasabah Kini Ditangani Mesin Pintar
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 11:24 WIB

Rights Issue ELPI Diserbu Investor, Kantongi Rp739 Miliar untuk Tambah Armada dan Perluas Bisnis Maritim

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:19 WIB

Gen Auto Care Resmi Hadir di Sungai Penuh, Alfin Sebut Usaha Baru Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Warga

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:47 WIB

Kopi Kerinci Tembus Pasar Pakistan, PT Alko Kantongi Peluang Dagang Rp18 Miliar dan Bidik Ekspor 190 Ton

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:00 WIB

KPBN Pasang ‘Benteng’ Antisuap, Vendor dan Mitra Bisnis Kini Diajak Terapkan Standar ISO 37001

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:00 WIB

Kursi Pengawas OJK Terisi Lagi, DPR Percayakan Kusfiardi Kawal Akuntabilitas hingga 2028

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

SK 196 CPNS Sungai Penuh Rampung, Kapan Diserahkan?

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:19 WIB