Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto menjalankan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Dalam agenda tersebut, ia menandatangani kesepakatan tarif dagang resiprokal bersama Presiden AS, Donald Trump.
Pertemuan ini menjadi momentum penting di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.
Hubungan Ekonomi RI–AS Terjalin Puluhan Tahun
Indonesia dan Amerika Serikat membangun hubungan ekonomi selama puluhan tahun. Kedua negara memperluas kerja sama di sektor perdagangan, investasi, dan pembiayaan. Pemerintah Indonesia juga memanfaatkan pinjaman luar negeri sebagai salah satu sumber pembiayaan.
Karena itu, data utang luar negeri menunjukkan tingkat keterkaitan finansial antara Indonesia dan Amerika Serikat.
BI Catat Kenaikan Utang Luar Negeri
Pada saat yang sama, Bank Indonesia merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Februari 2026. Laporan tersebut memuat posisi utang hingga triwulan IV 2025.
BI mencatat total utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$431,7 miliar pada akhir 2025. Pada triwulan III 2025, jumlahnya berada di US$427,6 miliar. Sektor publik mendorong kenaikan tersebut.
Pemerintah Tingkatkan Pembiayaan Lewat SBN
Pemerintah mencatat ULN sebesar US$214,3 miliar pada triwulan IV 2025. Pada triwulan sebelumnya, pemerintah membukukan US$210,1 miliar.
BI menyebut arus modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional memicu kenaikan tersebut. Investor tetap menaruh kepercayaan pada prospek ekonomi Indonesia meski ketidakpastian global terus berlangsung.
Utang dari AS Tunjukkan Tren Penurunan
Di sisi lain, utang pemerintah Indonesia yang berasal dari Amerika Serikat menunjukkan tren menurun dalam jangka panjang.
Pada 2013, pemerintah mencatat utang dari AS sebesar US$1,63 triliun. Pemerintah kemudian menekan nilainya secara bertahap hingga mencapai US$555 miliar pada 2021.
Pada 2022, pemerintah menaikkan kembali jumlahnya menjadi US$916 miliar. Namun pada 2023, pemerintah memangkasnya hingga tersisa US$260 miliar.
Pada 2025, pemerintah mencatat utang dari Negeri Paman Sam sebesar US$350 miliar.
Turun 79 Persen dalam 12 Tahun
Jika membandingkan angka 2025 dengan posisi 2013, pemerintah berhasil menurunkan utang dari AS sekitar 79 persen.
Angka tersebut menunjukkan perubahan strategi pembiayaan pemerintah dalam satu dekade terakhir. Di tengah penguatan kerja sama dagang, pemerintah tidak lagi menggantungkan pembiayaan pada satu sumber utama.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









