Harga Pangan Mulai Turun, Inflasi Juli 2026 Diprediksi Melandai tetapi Tekanan Baru Muncul dari Inflasi Inti

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 19:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Harga sejumlah bahan pangan mulai menunjukkan tren penurunan pada Juli 2026. Kondisi tersebut diperkirakan menahan laju inflasi nasional dan memberi ruang bagi stabilitas harga menjelang akhir tahun. Meski begitu, para ekonom melihat tekanan dari inflasi inti masih terus meningkat akibat kenaikan biaya produksi, pergerakan nilai tukar rupiah, serta faktor musiman di sektor pendidikan.

Sejumlah komoditas seperti telur ayam, bawang merah, dan cabai merah tercatat mengalami penurunan harga sepanjang Juli. Karena itu, banyak ekonom memproyeksikan inflasi bulanan dan tahunan akan lebih rendah dibandingkan Juni 2026. Namun, pada saat yang sama, inflasi inti justru bergerak naik secara perlahan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi hanya berasal dari pangan bergejolak, tetapi juga dari faktor fundamental ekonomi. Kenaikan biaya produksi, penerusan pelemahan rupiah ke harga barang dan jasa, serta meningkatnya permintaan musiman menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian hingga akhir tahun.

Inflasi Juli Diprediksi Lebih Rendah dari Juni

Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan atau month to month (MtM). Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,3 persen atau year on year (YoY), sedangkan inflasi inti berada di level 2,76 persen (YoY).

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, memperkirakan inflasi Juli 2026 turun menjadi 0,08 persen secara bulanan dan 3,11 persen secara tahunan.

Menurut David, penurunan harga bahan pangan menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi. Telur ayam, bawang merah, dan cabai merah menjadi komoditas yang paling berkontribusi terhadap perlambatan tersebut.

Baca Juga :  Bukalapak Rugi Rp 425 Miliar di Kuartal I 2026 Meski Pendapatan Tumbuh

Selain itu, David memperkirakan inflasi inti mencapai 0,16 persen secara bulanan dan 2,79 persen secara tahunan.

“Inflasi inti hanya mengalami kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya, terutama karena harga emas dan administered prices relatif stabil,” ujar David kepada Bisnis, Minggu (2/8/2026).

Apa yang Mendorong Kenaikan Inflasi Inti?

Inflasi inti mencerminkan komponen inflasi yang relatif stabil karena dipengaruhi faktor fundamental ekonomi. Komponen ini bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran, nilai tukar, serta ekspektasi masyarakat terhadap harga di masa depan.

Dalam perhitungan inflasi inti, pemerintah tidak memasukkan harga pangan yang mudah bergejolak maupun harga energi.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Faisal Rachman, memperkirakan inflasi Juli 2026 mencapai 0,05 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan.

Menurut Faisal, deflasi pada kelompok volatile foods membantu menahan inflasi. Namun, kenaikan harga tiket pesawat dan normalisasi pajak pertambahan nilai (PPN) setelah berakhirnya kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) masih mendorong inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah.

Di sisi lain, penurunan harga bahan bakar nonsubsidi ikut meredam tekanan tersebut.

Faisal juga memperkirakan inflasi inti meningkat tipis menjadi 2,80 persen (YoY).

“Kenaikan inflasi inti mencerminkan berlanjutnya penerusan inflasi dari sisi produsen ke harga konsumen serta peningkatan musiman pada barang dan jasa pendidikan,” kata Faisal.

Risiko Inflasi Masih Membayangi Akhir Tahun

Faisal menilai tekanan inflasi dari sisi pasokan masih berpotensi muncul hingga akhir 2026. Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2), kebijakan pro pertumbuhan, dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendorong permintaan masyarakat.

Baca Juga :  Harga Emas Antam 30 April 2026 Rp 2,77 Juta per Gram, Ini Rinciannya

Selain itu, potensi kemunculan El Niño yang lebih kuat juga perlu dicermati karena dapat mengganggu produksi pertanian dan memicu kenaikan harga pangan.

Berbeda dengan dua ekonom sebelumnya, Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), Irman Faiz, justru memperkirakan inflasi tahunan Juli 2026 mencapai 3,54 persen.

Irman menyebut tiga faktor utama yang mendorong inflasi. Pertama, dampak penyesuaian harga energi dan tarif transportasi masih berlanjut. Kedua, pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi mulai mengerek harga barang dan jasa. Ketiga, musim kering masih memberi tekanan pada harga pangan meski pasokan beberapa komoditas mulai membaik.

Meski demikian, Irman menilai inflasi akhir tahun masih bergerak dalam kisaran target Bank Indonesia. Namun, laju inflasi berpotensi mendekati batas atas target apabila tekanan harga terus meningkat.

FAQ

Mengapa inflasi Juli 2026 diperkirakan melambat?

Karena harga sejumlah bahan pangan seperti telur, bawang merah, dan cabai merah mengalami penurunan.

Apa itu inflasi inti?

Inflasi inti merupakan inflasi yang dipengaruhi faktor fundamental ekonomi, seperti permintaan, penawaran, nilai tukar, dan ekspektasi harga.

Mengapa inflasi inti justru naik?

Kenaikan biaya produksi, pelemahan rupiah, serta faktor musiman, terutama sektor pendidikan, mendorong inflasi inti meningkat.

Apa risiko inflasi hingga akhir 2026?

Musim kering, potensi El Niño, pertumbuhan jumlah uang beredar, dan peningkatan permintaan domestik dapat mendorong inflasi lebih tinggi.(Tim)

Berita Terkait

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Retribusi Bengkulu Baru Menyentuh 41 Persen, Sekda Desak OPD Tancap Gas Kejar Rp248 Miliar
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

SK 196 CPNS Sungai Penuh Rampung, Kapan Diserahkan?

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:19 WIB