JAKARTA – China menghadapi tantangan baru di tengah perlambatan ekonomi. Tekanan tersebut kini paling terasa di kalangan generasi muda yang harus menghadapi sulitnya mencari kerja dan meningkatnya beban hidup.
Direktur think-tank Trinco Centre for Strategic Studies (TCSS), A. Jathindra, menilai perubahan ekonomi mulai menggeser dinamika sosial di China. Selama lebih dari 40 tahun, China mencatat pertumbuhan pesat lewat industrialisasi, urbanisasi, dan ekspansi kelas menengah. Namun kini, generasi mudanya justru menghadapi ketidakpastian yang semakin besar.
Ekonom Gao Shanwen ikut menyoroti kondisi tersebut. Ia menggambarkan situasi sosial China dengan cukup tajam. Menurutnya, China saat ini diisi oleh orang tua yang tetap bersemangat, generasi muda yang kehilangan energi, dan kelompok usia menengah yang merasa putus asa.
Di kota-kota besar seperti Beijing dan Chengdu, anak muda menghadapi tekanan berlapis. Mereka harus berhadapan dengan daya beli yang menurun, peluang kerja yang semakin sempit, serta ketergantungan pada kebijakan pemerintah untuk menjaga konsumsi.
Fenomena “lying flat” kembali mencuat sebagai bentuk kekecewaan generasi muda. Mereka memilih menurunkan ambisi dan menarik diri dari kompetisi kerja yang semakin ketat.
Pemerintah China mencoba meredam tekanan dengan menggelontorkan berbagai insentif. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar 62,5 miliar yuan untuk mendorong konsumsi masyarakat.
Program ini mencakup potongan harga hingga 15 persen untuk pembelian barang seperti televisi, lemari es, dan pendingin udara. Pemerintah juga memberi subsidi untuk perangkat digital seperti ponsel dan tablet.
Meski begitu, tekanan terhadap generasi muda belum menunjukkan tanda mereda. Ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan peluang kerja membuat banyak anak muda kesulitan membangun masa depan.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa China tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi, tetapi juga potensi perubahan sosial dalam jangka panjang.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









