JAKARTA – Iran memberlakukan tarif transit sebesar 2 juta dolar AS untuk setiap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Kebijakan ini muncul saat situasi keamanan kawasan memanas dan memengaruhi jalur distribusi energi global.
Hal itu disampaikan Anggota Dewan Iran, Alaeddin Boroujerdi. Ia menyatakan pemerintah di Teheran menjalankan kebijakan tarif tersebut untuk memperkuat kedaulatan atas jalur laut strategis.
Boroujerdi menegaskan bahwa biaya transit itu mencerminkan kekuatan Iran dalam mengelola wilayah tersebut. Ia juga menyebut kondisi konflik membuat setiap aktivitas pelayaran menimbulkan konsekuensi biaya tambahan.
Sejumlah laporan media internasional menyebut Iran mulai meminta pembayaran dari kapal tertentu yang melintas. Namun, mekanisme pembayaran masih belum jelas, termasuk metode transaksi dan mata uang yang digunakan.
Kebijakan ini berkaitan dengan kebutuhan Iran menutup beban finansial akibat eskalasi militer dan gangguan keamanan maritim yang masih berlangsung. Pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi hanya untuk negara yang tidak terlibat konflik dengan Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut kapal dari negara yang dianggap bersahabat tetap dapat melintas dengan aman. Iran juga membatasi akses bagi kapal dari negara yang terlibat tekanan atau serangan terhadapnya.
Sejumlah negara seperti China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand telah menjalin komunikasi dengan otoritas Iran. Mereka berupaya agar kapal mereka tetap dapat melintas tanpa hambatan.
Selat Hormuz menjadi jalur strategis dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Kebijakan tarif ini berpotensi memengaruhi biaya logistik serta stabilitas pasar energi internasional.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









